Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 59 Pertahanan yang mulai goyah


__ADS_3

Rafka sangat terkejut mendengar ucapan Alvan. Dia tak menyangka kalau laki-laki itu menginginkan Namira sebagai imbalannya.


Kalau dulu, mungkin ia akan mudah melakukannya. Tapi untuk sekarang, semuanya akan terasa sangat sulit. Karena sudah ada rasa cinta di dalam hatinya untuk Namira. Rasa cinta yang begitu dalam, yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Siapa sangka awal pernikahan yang biasa saja baginya itu, mampu membuat dirinya jatuh dalam perasaan yang tak bisa ia tahan. Perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya pada wanita manapun karena terlalu sibuk menata hidupnya yang sempat terpuruk karena kehilangan kedua orang tuanya.


"aku nggak bisa Van. Kamu bisa minta yang lain. Aku bisa kasih kamu saham lima puluh persen di perusahaanku atau berapa pun yang kamu mau. Atau apapun yang kamu inginkan, asal jangan Namira" ucap Rafka sambil menahan gemuruh di dalam hatinya yang bisa meledak kapan saja. Sungguh ia tak rela jika harus kehilangan Namira.


"aku sudah punya segalanya Rafka, kamu tau kan kalau aku adalah pengusaha yang sukses? bahkan perusahaanku jauh lebar besar jika di bandingkan dengan perusahaanmu" Alvan mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya lagi.


"Apapun di dunia ini akan bisa dengan mudah ku dapatkan hanya dengan menjentikkan jari. Hanya satu yang nggak bisa aku miliki yaitu Namira, karena kamu sudah mengambilnya dariku" sambung Alvan melanjutkan kalimatnya dengan wajah yang mulai memerah seperti menahan amarah yang bertumpuk-tumpuk.


"aku nggak pernah mengambil Namira dari siapapun, tapi takdir lah yang mempersatukan kami berdua" sanggah Rafka tak terima.


Alvan memandang ke arah Rafka dengan tatapan penuh kebencian. Menurutnya pria itu adalah penghalang bagi hubungannya dan Namira, karena semua kesalah pahaman di antara mereka sudah selesai. Dan kini satu-satunya yang menghalangi cinta mereka untuk bersatu hanyalah kehadiran Rafka dalam kehidupan Namira.


Alvan tentu tak mau segampang itu menyerah dan berkecil hati. Ia sudah bertekad akan menyingkirkan penghalang itu bagaimanapun caranya.


"takdir kamu bilang?!" Alvan tertawa meremehkan.


"apa menurutmu Namira bahagia dengan pernikahan kalian?" Alvan terus mendobrak pertahanan Rafka agar ia goyah.


Rafka diam saja, tak bisa menjawab pertanyaan sederhana dari Alvan. Dia sendiri ragu, apakah istrinya itu bahagia dengan pernikahan mereka. Karena menurut sepengetahuan Rafka, istrinya itu tak pernah sedikitpun mencintainya.


"kamu nggak bisa jawab kan? lalu untuk apa pernikahan itu kalau nggak membawa kebahagiaan buat Namira?!" serang Alvan memukul telak keteguhan hati Rafka.


"Aku akan berusaha untuk membuatnya bahagia" balas Rafka masih teguh pendirian.

__ADS_1


"gimana bisa kamu membuatnya bahagia, kalau rasa cinta untukmu pun dia nggak punya?! Dia cuma akan bahagia dengan orang yang di cintainya, dan kamu tau kan siapa orangnya?" Alvan masih terus membombardir Rafka dengan pernyataan yang melemahkan dirinya.


"tapi Namira adalah istriku dan akan selamanya seperti itu" ucapan itu terdengar penuh dengan keyakinan.


"apa selamanya kamu akan membelenggu Namira dengan ikatan yang tak di inginkannya? kamu tau kan alasan Namira menjalani pernikahan denganmu adalah karena keterpaksaan, bukan karena keinginannya sendiri?!" tak henti-hentinya Alvan terus menyudutkan laki-laki itu.


"apa Namira tersiksa menjalani pernikahan denganku selama ini?" suara itu terdengar sedikit bergetar.


"menurutmu apa dia bisa bahagia hidup dengan orang yang tak di cintainya sama sekali?"


"lalu gimana caranya agar Namira bisa bahagia?"


"lepaskan lah Namira, dan biarkan dia berada di sisiku"


Mata Rafka seperti di penuhi oleh banyak kunang-kunang sekarang. Pikirannya sungguh kalut hingga membuat kepalanya berdenyut dan pandangannya sedikit kabur, karena memikirkan tentang wanita yang teramat ia cintai.


Dia tak ingin jauh dari Namira, tapi dia juga menginginkan kebahagiaan untuk wanita itu. Bahkan dia sendiri tak yakin apakah Namira bisa bahagia jika hidup dengannya karena tak ada cinta untuk dirinya di dalam hati sang istri.


"apakah itu akan bisa membuat Namira bahagia?" ucap Rafka pada akhirnya. Ia mulai putus asa dan tak yakin dengan dirinya sendiri. Sepertinya pertahanan Rafka mulai goyah.


"tentu saja. Namira pasti akan bahagia jika terlepas dari belenggu yang mengikatnya, karena dengan begitu dia akan bisa bersama kembali dengan orang yang benar-benar di cintainya" ujar Alvan penuh dengan keyakinan yang kuat.


*Apa aku harus menyerah dan melepas cintaku sekarang? oh.. ini semua sangat sulit untukku..


Aku memang sangat mencintai Namira, tapi aku nggak bisa membiarkan dia terus tersiksa jika berada di dekatku, karena aku tau tak pernah ada cinta untukku di hatinya..


Dia milikku tapi tidak dengan hatinya. Hatinya masih utuh untuk pria yang ada di hadapanku ini..

__ADS_1


Baiklah Namira, jika dengan cara itu kamu bisa bahagia, maka aku akan melakukannya untukmu, meskipun harus merelakan cintaku..*


"baiklah, aku akan melepaskan Namira jika waktunya tiba" ujar Rafka dengan menahan sesak di dada. Hatinya terasa di cabik-cabik saat mengucapkan kalimat itu.


"Kamu harus janji akan menceraikan Namira jika urusanku dan Alena sudah selesai" Alvan tak begitu saja percaya pada ucapan Rafka.


"ya. aku janji" Rasanya sungguh berat mengatakan hal itu, tapi ia harus tetap melakukannya.


"oke, aku pegang janjimu! Aku nggak akan tinggal diam kalau sampai kamu melanggar janji itu!" ancam Alvan dengan tatapan tajam.


"kamu tenang aja, kamu bisa pegang ucapanku! aku laki-laki sejati dan tak mungkin ingkar janji" Rafka berusaha meyakinkan walau masih ada keraguan di dalam hatinya.


Sebenarnya dia sendiri pun tak mengerti dengan isi hatinya. Rasanya dilema besar masih terus saja mengganggu pikirannya.


"kita lihat saja nanti" ucap Alvan sedikit meremehkan.


Tapi di balik itu semua, Alvan sungguh senang bukan kepalang. Karena tinggal selangkah lagi, hubungannya dengan Namira akan bisa kembali lagi seperti dulu.


Bahkan ia tak perlu repot-repot mencari cara agar mereka bisa bersatu kembali, karena suami Namira sendiri lah yang membuka lebar jalan itu.


Alvan sudah membayangkan kalau ia dan wanita tercintanya itu akan hidup bahagia setelah ini. Melewati hari-hari indah bersama dalam hangatnya cinta. Mengarungi bahtera rumah tangga bersama sampai tua nanti. Sekelebat bayangan-bayangan indah itu terus menari-nari di dalam angan Alvan.


*Tunggu aku sebentar lagi Namira..


Sebentar lagi semua impian kita akan menjadi nyata..


Sebentar lagi semua harapan kita akan terwujud dan kita akan bisa bersama lagi seperti dulu..

__ADS_1


Tunggu saja Namira..


Setelah itu, aku tak akan pernah melepaskan genggamanku dari tanganmu dan tak akan ku biarkan siapa pun memisahkan kita lagi..*


__ADS_2