Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 26 Pembuktian


__ADS_3

Namira melangkah lebar meninggalkan Alvan menuju mobilnya yang terparkir di tempat parkir yang tersedia. Dia ingin menjaga jarak dari mantannya itu. Sedangkan Alvan tampak berlari kecil agar bisa menyusul Namira yang berjalan cepat dan semakin menjauh.


"naik mobil aku aja, Namira" usul Alvan setelah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Namira.


"nggak ah,naik mobilku sendiri aja" Namira menolak mentah-mentah usul Alvan dan tetap masuk ke dalam mobil miliknya.


Tanpa di duga, Alvan malah ikut masuk ke dalam mobil Namira tanpa permisi lalu dengan santai duduk di bangku penumpang yang bersebelahan dengan kursi kemudi.


"kok malah masuk ke sini? sana pake mobil kamu sendiri aja!" usir Namira jutek.


"ribet ntar kalo bawa mobil sendiri-sendiri, Namira. Kita kan cuma berdua aja,bukan lagi acara iring-iringan pengantin" bukannya serius, Alvan malah ngomong ngelantur yang sama sekali tak berfaedah.


"Alvan.. yang bener dong! kalo kamu cuma maen-maen mending aku pergi aja dari sini" Namira berkata sambil memukul setir mobilnya karena merasa kesal dengan tingkah laku pria di sampingnya yang menurutnya sangat menyebalkan.


"aku nggak maen-maen kok,aku serius. Kita bawa satu mobil aja biar lebih mudah nantinya. Lagian kamu juga pasti nggak tau kan kemana tujuan kita?!" Alvan mencoba memberikan alasan yang tepat kepada Namira.


"ya udah lah, terserah kamu aja" Namira menyerah juga pada akhirnya. Setelah di pikir-pikir yang di katakan Alvan ada benarnya juga, memang akan lebih ribet jika menggunakan dua mobil jika dalam keadaan seperti ini. Belum lagi kalau pas macet ataupun lampu merah yang menghalangi perjalanan mereka.


"nah.. gitu dong. jadi mau naik mobil aku apa mobil kamu?" Alvan tersenyum penuh kemenangan karena misinya sukses.


"pake mobilku aja" tukas Namira singkat.


"kalo gitu biar aku yang nyetir ya, biar kamu bisa duduk manis memandang pemandangan kota yang indah" Alvan mulai lagi dengan ucapan konyolnya.

__ADS_1


Tanpa menjawab apa-apa Namira langsung turun dari mobilnya lalu bertukar tempat dengan Alvan. Tampaknya ia sudah malas berdebat, jadi menuruti saja yang di inginkan laki-laki itu.


Lagi pula dia ingin cepat mengakhiri semua ini agar bisa segera menjauh dari Alvan, karena berdekatan dengannya seperti ini membuat dada Namira terasa sesak sebab kembali teringat dengan masa lalu yang menyakitkan.


Alvan menarik tuas hand rem, memasukkan gigi lalu menginjak pedal gas dan mulai menjalankan mobilnya ke suatu tempat yang tak pernah Namira datangi sebelumnya. Namira pun pasrah saja kemana pun Alvan membawanya asal bukan ke tempat yang aneh-aneh.


Alvan tampak bersiul-siul di sepanjang perjalanan, terkadang juga mengikuti alunan lagu yang terputar dari head unit mobil. Sepertinya suasana hatinya sedang bagus sekali hari ini. Ia merasa sangat senang karena bisa duduk sedekat ini lagi dengan wanita yang masih bertahta di hatinya dan belum tergantikan oleh siapapun hingga saat ini.


Tak lama kemudian, mobil yang di kendarai Alvan berhenti di sebuah tempat yang asing dan menyeramkan bagi Namira, karena seumur hidupnya sekali pun ia tak pernah mengunjungi tempat seperti ini. Bahkan di dalam mimpi pun tak pernah terpikirkan olehnya.


"ngapain kita ke sini?" Namira bergidik ngeri membayangkan apa yang ada di dalam sana.


"kan aku mau membuktikan kalo aku nggak bersalah atas insiden foto waktu itu, Namira" Alvan keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil bagian kiri untuk Namira.


"tapi kenapa musti ke tempat beginian sih?" Namira masih ragu untuk masuk ke dalam tempat itu.


Tak pernah terbayangkan sebelumnya kalau Namira akan melihat langsung tempat yang berisikan para narapidana di dalamnya, apalagi sampai masuk ke dalam tempat itu.


"memang di sini tempat pembuktiannya Namira. kamu ingin tau kejadian yang sebenarnya kan?!" Alvan berusaha menghilangkan keraguan di hati Namira.


Namira pun tampak berpikir,mencerna semua yang di katakan Alvan. Jika memang harus mengetahui kebenarannya melalui tempat seperti ini, maka dia harus terpaksa memberanikan diri untuk masuk ke dalamnya.


"baiklah, ayo cepat selesaikan semua ini" Namira pun turun dari mobil lalu berdiri tegap di sampingnya seakan sudah siap untuk menghadapi apapun yang ada di dalam tempat menyeramkan yang bernama Rutan.

__ADS_1


Alvan pun menggandeng tangan Namira untuk masuk ke dalam tempat itu. Tanpa di sadari, Namira menerima saja uluran tangan Alvan karena perasaan takutnya.


Mereka pun masuk ke dalam sambil bergandengan tangan bak sepasang kekasih. Namun keduanya memiliki perasaan yang berbeda sekarang ini. Alvan dengan perasaan berbunga-bunga sedangkan Namira dengan perasaan takut yang menyelimuti dirinya.


Setelah memberitahukan maksud kedatangan mereka kepada petugas yang berjaga, mereka di minta untuk menunggu di ruangan khusus untuk menemui tahanan penghuni hotel prodeo itu.


"kita mau nemuin siapa sih sebenarnya?" tanya Namira penasaran saat sedang berada di ruang tunggu.


"kamu akan tau jawabannya sebentar lagi" Alvan menatap lurus ke depan seperti menahan amarah yang tak ingin di perlihatkan pada Namira.


Beberapa menit kemudian, seorang perempuan memakai seragam orange khas tahanan berjalan lesu mendekati mereka sambil menundukkan kepalanya dalam, seperti ingin menyembunyikan wajah dari kedua orang yang sedang menunggu kedatangannya.


Perempuan itu berdiri tepat di hadapan mereka lalu mulai mengangkat wajahnya perlahan.


"Erin??" Namira membelalakkan mata tak percaya dengan apa yang di lihatnya sekarang.


Tentu Namira masih ingat betul wajah perempuan itu, karena mereka pernah beberapa kali bertemu saat sedang double date ataupun tak sengaja berpapasan di suatu tempat. Hanya saja ada yang berbeda dari penampilannya, Dia tampak lebih kurus dengan rambut yang kusut dan tidak terawat.


"bukankah dia kekasih Reno, teman baik kamu?!" Namira kembali memastikan apakah ingatannya tidak salah.


"kamu benar Namira, dia adalah pacar Reno,ah.. bukan, status mereka sudah berubah. Dia hanyalah mantan pacar Reno sekarang" Alvan meralat ucapannya.


"lalu apa maksudnya semua ini?" Namira sungguh tak mengerti dengan situasi yang di hadapinya saat ini. Semua ini terasa sangat membingungkan baginya.

__ADS_1


"biar dia yang menjelaskan semuanya" Alvan menatap wanita bernama Erin itu dengan tajam seakan siap untuk memangsanya. Erin pun melirik ke arah Alvan sekilas lalu mulai gelagapan, badannya terasa bergetar karena tatapan tajam Alvan yang seperti mengintimidasi.


"To.. tolong maafkan aku Namira. aku khilaf melakukan semua itu. Aku menyesal dengan perbuatanku" ucap Erin terbata. Itu adalah kalimat yang benar-benar keluar dari dalam hatinya. Dia sungguh sangat menyesal telah melakukan kejahatan yang pernah di lakukannya, hingga membuatnya harus mendekam di balik jeruji penjara yang dingin dan mengerikan.


__ADS_2