
Namira berlari keluar dari rumah tahanan itu kemudian masuk ke dalam mobilnya, dengan tangis yang tak bisa tertahankan lagi. Dia menumpahkan semua kesedihan di dalam kuda besi miliknya itu.
Namira meratapi kebodohan yang di lakukannya dan sangat menyesal atas semua yang terjadi. Dia merasa kalau ada andil kesalahannya dalam kehancuran hidupnya sendiri.
Alvan menyusul Namira dengan perasaan kalut. Ia mengetuk-ngetuk kaca mobil Namira agar wanita itu mau membuka pintu mobilnya yang terkunci dari dalam. Ketukannya pun berhenti ketika Namira memandangnya dengan tatapan penuh penyesalan sembari membuka kunci pintu mobil.
"maaf" itulah satu kata yang terucap dari mulut Namira.
"maaf untuk apa Namira?" balas Alvan sambil menatap wanita itu penuh cinta.
"maaf karena aku udah nggak percaya sama kamu dan nggak ngasih kamu kesempatan untuk menjelaskan semua lebih awal" Namira tertunduk lesu.
"semuanya sudah terlanjur terjadi, Namira. Yang terpenting, sekarang kamu sudah tau semua kebenarannya" ucap Alvan bijak.
"yang kamu ucapkan tadi memang benar Alvan, ini semua benar-benar nggak adil buat kamu dan aku yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi. Harusnya aku lebih mempercayai kamu dari pada orang lain" bulir bening mulai jatuh dari sudut matanya lagi.
Perasaannya sungguh tersiksa saat ini. Rasanya ia ingin berteriak sekencang-kencangnya meluapkan amarah karena kebodohan dirinya sendiri.
Karenanya rencana pernikahannya dengan Alvan hancur dan membuat hati laki-laki itu terluka oleh keraguannya.
"jangan sedih, Namira. Semuanya akan baik-baik saja" Ujar Alvan mencoba menenangkan belahan jiwanya.
Bukannya berhenti menangis, tangis Namira malah semakin menjadi. Rasanya dia benar-benar tak kuasa menahan perasaan yang sangat menyiksa batinnya ini. Bahkan rasa sakitnya lebih parah di bandingkan saat ia melihat foto Alvan dengan wanita lain dulu.
Alvan pun memeluk Namira erat, berharap bisa mengurangi kepedihan yang di rasakan wanita itu. Dan Namira sama sekali tidak menolak pelukan Alvan. Jujur, di dalam hatinya ia malah merindukan pelukan hangat mantan tunangannya itu.
Cukup lama Namira menangis di pelukan Alvan, sampai suasana hatinya mulai sedikit membaik. Namira menjauhkan dirinya dari Alvan seperti merasa bersalah.
Alvan mengambil sebotol air mineral yang berada di atas dashboard mobil, membuka tutup botol lalu memberikannya pada Namira. Namira pun menerima botol itu lalu meneguk isinya setelah mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
"sudah merasa lebih baik?" ucap Alvan lembut, memastikan keadaan Namira.
Namira hanya menganggukkan kepala menanggapi perkataan Alvan. Rasanya ia begitu malu menegakkan kepalanya di depan laki-laki itu, karena sebab keangkuhan dirinya lah semuanya hancur berantakan.
"kamu sudah tau tentang kejadian yang sebenarnya kan?"
"iya"
"apa kamu masih marah sama aku, Namira?"
Namira menggeleng.
"apa kamu sudah memaafkan aku?"
"kamu nggak salah, Alvan. aku lah yang lebih pantas di salahkan" Namira memberanikan diri untuk menatap mata Alvan,ia ingin memastikan rasa di hatinya.
Dan ternyata perasaan itu tetap sama, hatinya tak bisa berbohong kalau perasaannya untuk Alvan tak pernah berubah sedikitpun. Ya, hati Namira masih menjadi milik Alvan seutuhnya.
"nggak ada alasan bagiku untuk membencimu, Alvan" suara itu sedikit tertahan.
"kalo gitu, bisakah kita memulai semuanya dari awal lagi?" ucap Alvan yang membuat Namira terhenyak. Dia tak menyangka kalau Alvan akan mengucapkan kalimat itu.
"nggak bisa Alvan. semuanya sudah berbeda sekarang, nggak sama seperti dulu" intonasi bicara Namira semakin memelan.
"tapi Namira.. "
"aku sudah menikah, dan nggak mungkin kita bisa mengembalikan semuanya seperti sebelumnya" sela Namira memotong perkataan Alvan.
"bukankah kamu nggak mencintai suamimu Namira?, aku tau di dalam hati kamu masih ada cinta untukku, dari dulu hingga sekarang" Alvan masih kukuh dengan argumennya.
__ADS_1
"semuanya nggak semudah yang di bayangkan, Alvan. Aku ngga mau menyakiti orang-orang di sekitar ku. Kalo aku bersama kamu, akan banyak hati yang terluka" ungkap Namira,pedih.
"lalu apa kamu akan lebih memilih menyakiti hatiku dan juga hatimu sendiri? Kita berdua saling mencintai, Namira. Kita berhak untuk bahagia" suara Alvan terdengar emosional.
"kamu akan bisa bahagia meskipun tanpa aku,Alvan. Kamu adalah lelaki yang baik, dan pasti akan mendapatkan jodoh yang terbaik pula"
"aku nggak mau wanita lain, selain kamu"
"lupakan aku,Van. mulailah hidup yang baru"
"apakah kamu bisa semudah itu melupakan aku,Namira?"
Wanita itu diam saja, duduk mematung di depan Alvan. Memang cinta untuk laki-laki itu masih ada dan tak pernah berubah. Tapi cinta mereka tak akan mungkin bisa di satukan, karena seperti ada tembok besar yang menghalangi cinta mereka.
"kamu sendiri nggak bisa menjawabnya kan? karena aku tau kamu juga merasakan hal yang sama denganku" lirih Alvan.
"aku mohon jangan seperti ini, Van. Aku tau memang sulit bagi kita untuk saling melupakan, tapi aku yakin kamu pasti bisa. Carilah penggantiku agar bisa membantumu lebih mudah melupakanku" Ucapan Namira membuat Alvan menatapnya tajam. Dia tak habis pikir kalau wanita yang di cintainya akan berpikiran begitu.
"nggak akan ada yang bisa menggantikan posisimu di hatiku, Namira. nggak akan pernah ada" sanggah Alvan.
"bukalah hatimu untuk Alena, karena dia sangat mencintai kamu" perkataan Namira bagai silet tajam yang mengiris-iris ulu hati Alvan. Pria itu sangat terluka mendengar kalimat yang keluar dari mulut Namira.
Namira sekarang berani mendukung hubungan Alena dan Alvan karena ia tau kalau Alvan adalah laki-laki yang baik dan dia sangat pantas untuk Alena.
Mereka berdua akan sangat serasi jika di sandingkan. Lagi pula perasaan cinta Alena begitu besar padanya. Ia berpikir pasti akan sangat mudah membuat Alvan jatuh cinta pada Alena karena dia adalah pribadi yang menarik dan menyenangkan.
"apa kamu rela aku mencintai wanita lain?" desis Alvan menahan amarah.
"kalau memang itu yang terbaik untuk kamu, aku rela" terdengar sedikit keraguan dalam suara itu dan Alvan pun menyadarinya.
__ADS_1
"kamu sedang berbohong kan?. kamu nggak bisa menutupi perasaan kamu di depanku. Jangan ingkari semuanya Namira" Alvan mendekatkan wajahnya pada Namira, mata mereka saling terkunci seperti terbawa perasaan yang mereka rasakan masing-masing. Perasaan yang sama dan sangat sulit untuk di hilangkan.
Alvan pun semakin mendekat lagi dan akhirnya bibir mereka saling bertemu, menyatukan rindu yang sudah lama tertahan. meresapi rasa indah akan rasa cinta yang mereka punya. Tanpa mereka sadari bahwa semua yang mereka lakukan sedang di lihat oleh seorang laki-laki yang sedang berdiri terpaku di depan sana.