
Sudah beberapa lama menunggu, akhirnya dokter yang menangani Alena keluar juga dari sana. Hal itu membuat Rafka dan Namira yang sedang menunggu di kursi panjang dekat ruang rawat Alena langsung beranjak dan menghampiri sang dokter. Tapi sebelum sepasang suami istri itu menanyakan keadaan Alena, dokter itu sudah menjelaskan semua secara detail.
"Pasien sepertinya mengalami shock berat, apakah ada suatu masalah yang menyebabkan hal itu bisa terjadi?!" ujar dokter berkaca mata itu.
"Iya dokter, tadi ada sedikit masalah yang membuat adik saya jadi terbawa emosi" terang Rafka ragu-ragu.
"Bukankah saya sudah katakan kalau kondisi mental pasien harus di jaga dulu, supaya tidak terbebani dengan pikiran yang berat dan nantinya akan mempengaruhi kesehatannya. seperti sekarang ini contohnya" perkataan dokter itu terdengar sangat tegas dan tak bisa di tawar lagi.
"Maafkan saya karena telah lalai dengan semua itu dokter, karena masalah yang terjadi, tidak bisa saya antisipasi dengan baik. Lalu kondisi adik saya bagaimana dokter?" Sekali lagi rasa bersalah kembali melingkupi hati Rafka. Ia merasa telah gagal menjaga dan melindungi adik perempuannya sendiri.
Mendengar hal itu, Namira pun merasakan hal yang sama juga. Ia menyesal telah membawa Alena masuk ke dalam masalahnya, yang harusnya hanya ada Alvan dan dirinya saja yang bersangkutan, yang merupakan pokok dari masalah itu sendiri.
Kalau dulu dia bisa memberi kesempatan pada Alvan untuk menjelaskan semua kesalahan pahaman itu, maka tak mungkin pria itu menjadikan Alena alat sebagai penghubung agar Alvan bisa bertemu dan bicara dengannya lagi.
"Kondisi pasien tadi sempat drop, tapi setelah mendapatkan penanganan yang untungnya tepat waktu, maka kondisinya bisa stabil kembali. Jika tadi terlambat sedikit saja, maka itu akan bisa berakibat cukup fatal bagi kesehatan pasien" jelas dokter itu yang membuat Namira bergidik ngeri.
"oh.. syukurlah. Terima kasih dokter" ucap Rafka merasa lega setelah mendengar penjelasan dari dokter.
"Sama-sama pak, Setelah ini di mohon untuk lebih menjaga dan berhati-hati agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali" pesan pak dokter.
"Baik dok, setelah ini kami akan lebih berhati-hati lagi"
"Kalau begitu saya permisi dulu, masih ada tugas lain yang menunggu"
"Baik dokter, sekali lagi terima kasih" Rafka tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih karena usaha keras dokter itu yang telah menyelamatkan adiknya.
__ADS_1
Dokter yang wajahnya berkharisma itu pun tersenyum tipis kemudian pergi meninggalkan Rafka dan Namira yang masih berdiri di tempatnya.
Rafka dan Namira masuk ke dalam ruang rawat Alena setelah beberapa perawat wanita keluar dari sana menyusul kepergian sang dokter.
Namira terlihat memandangi adik iparnya yang seperti sedang terlelap karena efek obat dari dokter itu dengan perasaan iba, karena lagi-lagi Alena harus mengalami hal yang buruk seperti ini.
Sedangkan Rafka memilih untuk berdiri di dekat jendela sambil menatap ke arah luar, sepertinya itu adalah kebiasaan baru yang sering di lakukan laki-laki itu akhir-akhir ini. Entah dia sadar atau tidak dengan apa yang di lakukannya.
Di saat suasana hening tanpa suara. Tiba-tiba saja ponsel Namira bergetar, ia sengaja menyeting mode silent dan hanya getar saja, agar tidak menggangu selama di rumah sakit.
Ia mengambil ponselnya dari dalam tas, lalu melihat ke layar siapa yang menghubunginya. Ternyata tertera nama Alvan di sana.
"Raf, aku keluar sebentar ya! mau angkat telpon" pamit Namira pada suaminya.
"Iya Namira" balas Rafka.
"Halo .. " Namira mengeluarkan suara setelah menekan tombol hijau di layar handphonenya.
"Halo .. Namira. Maaf aku tadi balik nggak ngabarin kamu dulu, soalnya ada urusan mendadak di kantor yang harus aku selesaikan" Alvan mulai mencari-cari alasan. Tak tau itu benar atau tidak.
"Alvan, apa kamu tau kalo papa dan mama ke sini tadi?" tanya Namira. Menurutnya Alvan hanya berbohong dengan mengatakan kalau sedang ada urusan, padahal dia pergi dari tempat itu karena menghindari orang tuanya. Itu hanya perkiraan Namira saja, karena ia belum tau cerita yang sesungguhnya.
"Emm.. iy iya Namira" suara itu terdengar sedikit gelagapan.
"Trus, kenapa kamu pergi ninggalin Alena sendirian saja? Kamu tau?! dia hampir kritis lagi tadi" Namira menggebu-gebu saat mengucapkan kalimat itu.
__ADS_1
"Apa?? Alena tadi kritis?! aku sama sekali nggak tau dan nggak nyangka bakalan kayak gitu, Namira" Alvan terkejut mendengar perkataan Namira. Meskipun ia tak mencintai Alena, tapi masih ada kepedulian dan rasa kasihan yang masih bisa ia rasakan pada gadis itu.
"Harusnya kalo kamu mau pergi tu bilang aku dulu, biar aku dan Rafka bisa langsung balik dan jagain Alena!" Namira tak henti-hentinya mengomel.
"Iya Namira, aku minta maaf. Harusnya aku nggak kayak gitu. Lalu gimana dengan kondisi Alena sekarang?apa dia baik-baik saja?!"
" Ya. Syukurlah dia bisa di tangani tepat waktu, dan kata dokter, kondisinya udah stabil sekarang"
"Oh.. syukur kalo gitu"
"Apa tadi ada sesuatu yang terjadi Alvan?" tanya Namira berusaha menggali informasi yang tak di ketahuinya.
"nggak kok Namira, semuanya baik-baik saja" Alvan berusaha menutupi kejadian yang sebenarnya.
"Kamu nggak perlu berbohong Van. Kalo nggak ada sesuatu yang terjadi, nggak mungkin Alena seperti itu!" Namira terus mendesak agar Alvan menceritakan semua yang terjadi sore tadi.
Hening sejenak, beberapa detik kemudian terdengar helaan nafas panjang dari Alvan, lalu ia mulai membuka suara. Akhirnya ia putuskan untuk menceritakan semua yang terjadi pada Namira.
"Tadi.. aku nggak sengaja ketemu papa dan mama kamu di ruangan Alena. Dan untuk menghindari sesuatu yang tak di inginkan, aku pergi dari sana secepatnya. Aku takut Alena tau tentang masa lalu kita dan akhirnya dia berpikiran buruk tentang aku dan kamu. Aku takut kalo dia merasa di manfaatkan dan.." Alvan tidak melanjutkan kalimatnya karena Namira menyela ucapannya.
"Dan semua yang kamu takutkan itu sudah menjadi kenyataan, Alvan! Hati Alena sangat terluka karena itu!" ujar Namira emosional.
"Jadi Alena udah tau semuanya? Bagaimana bisa Namira?" Rupanya laki-laki itu masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Menurut kamu? Alena bukanlah anak kecil yang nggak bisa membaca situasi. Saat papa dan mama ketemu kamu, aku rasa dia udah merasa curiga. Dan pada akhirnya dia pun tau semuanya karena bertanya langsung sama mereka. Itu dugaan aku" Namira mencoba menggambarkan kronologinya.
__ADS_1
"Ya ampun.. aku nggak nyangka kalo akibatnya jadi seperti itu, Namira!" suara Alvan terdengar shock mendengar ucapan Namira.