Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 62 Kedatangan Orang Tua Namira


__ADS_3

Sudah cukup lama Alvan berada di toilet. Dia hanya duduk diam di atas closet sambil memikirkan cara bagaimana untuk keluar dari ruang rawat Alena untuk mengikuti Namira dan juga Rafka.


Tapi entah mengapa otaknya terasa buntu, seperti tak ada sedikitpun ide yang terlintas di sana. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal seakan frustasi dengan dirinya sendiri.


Sementara Alena yang sudah menunggu Alvan dari tadi sedikit khawatir dan bertanya-tanya apa yang di lakukan laki-laki itu di dalam toilet, sehingga membutuhkan waktu yang lama seperti itu.


*Mas Alvan kenapa ya? apa perutnya sakit, kok sampai lama banget di toiletnya..


Ah.. aku jadi khawatir, jangan-jangan dia sedang kesakitan di dalam sana..


Aku harus coba memastikan kalau semuanya baik-baik saja..


Tapi bagaimana caranya? Aku saja masih lemas dan belum bisa bangun dari tempat tidur begini..*


Alena ingin mengetuk pintu toilet yang berada di ruangannya untuk memastikan, tapi dia tak kuasa untuk melakukannya. Yang bisa ia lakukan hanya menunggu dengan tak sabar sampai pria itu keluar dengan sendirinya dari toilet.


Tok.. Tok.. Tok..


Pintu ruang rawat Alena di ketuk. Alena pun menerka-nerka siapa yang datang dan mengetuk pintu itu. Menurut Alena, tidak mungkin kalau itu adalah kakak ataupun kakak iparnya. Karena kalau mereka, biasanya pasti langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"iya masuk.." seru Alena sedikit berteriak meskipun suaranya masih terdengar lemah.


Pintu bercat putih itu pun terbuka. Terlihat sepasang suami istri yang tampak masih bugar di usianya yang tak muda lagi masuk ke dalam ruangan Alena. Dan mereka adalah kedua orang tua Namira, Orang-orang baik yang berjasa dalam hidupnya dan juga kakaknya.

__ADS_1


"Om Pram.. Tante Asti.." ucap Alena senang melihat siapa yang datang menjenguknya.


"Alena .. maaf om dan tante baru tau kalau kamu masuk rumah sakit, tadi pas Tante dan om ke rumah, bik Siti yang ngasih tau kalau kamu mengalami kecelakaan dan di rawat di rumah sakit ini" jelas mama Namira sambil mendekati brankar tempat Alena berbaring.


"bagaimana keadaan kamu Alena?" tanya pak Pramana dengan raut wajah cemas, bagaimana pun juga ia sudah menganggap Alena dan Rafka seperti anak kandungnya sendiri. Karena dia lah yang banyak membantu dan mengurus mereka saat kedua orang tua kakak beradik itu sudah meninggal.


"saya sudah jauh lebih baik kok om, tante" balas Alena dengan penuh hormat.


"oh.. syukurlah kalau begitu. om senang mendengarnya" papa Namira seperti sangat lega mendengar jawaban dari mulut Alena. Dia bersyukur tak terjadi hal yang buruk pada putri dari sahabatnya itu.


Dulu saat sahabatnya belum meninggal, dia pernah berjanji akan menjaga putra dan putrinya sampai mereka bisa mandiri dan hidup bahagia. Dan pak Pramana sudah menunaikan sebagian dari janjinya.


Dia sudah membantu Rafka dan menuntunnya hingga jadi pengusaha yang sukses. Dan ia juga memastikan kalau Alena mendapatkan pendidikan yang baik sampai di bangku kuliah.


Bu Asti pun sangat bersyukur mendengar itu, karena dia juga sangat mengkhawatirkan keadaan Alena saat mendapat kabar dari asisten rumah tangga di rumah Rafka tadi.


"Namira sama kakak kamu kemana Alena? kok nggak keliatan dari tadi?" tanya mama Namira setelah matanya menyapu ke seluruh sudut ruangan dan tak menemukan keberadaan putri dan juga menantunya di sana.


"kak Rafka sama kak Namira lagi ke kantin tante" jawab Alena apa adanya sesuai yang di katakan Namira saat pamit keluar tadi.


"oh gitu.. anak tante itu memang keterlaluan. masa kamu kecelakaan sampai masuk rumah sakit gini, tapi nggak ngasih kabar ke orang tuanya sih!" gerutu bu Asti menyesalkan kelalaian putrinya.


"iya, Rafka juga nggak ngasih kabar apa-apa sama om. Kalian kan sudah seperti anak om sendiri, harusnya kalau ada masalah kalian harus bilang sama kami" ujar pak Pramana.

__ADS_1


"iya betul kata om kamu, Alena" bu Asti menyetujui ucapan suaminya.


"mungkin kak Namira sama kak Rafka terlalu sibuk mengurusi Alena om, tante. Jadi mereka sampai lupa ngasih kabar ke om dan tante" Alena mencoba memberi pengertian dan menjelaskan pada mereka agar memaklumi kakak dan kakak iparnya itu.


"benar juga kata Alena ma. Bisa saja mereka terlalu banyak pikiran dan sibuk mengurusi Alena, jadi mereka nggak sempat ngabari kita" ujar pak Pramana mendukung Alena.


"emmm.. iya juga sih pa. pasti mereka kebingungan menghadapi semuanya. oh iya Alena, ini tante bawakan kue kesukaan kamu" Bu Asti mengeluarkan sekotak kue dari dalam paper bag yang bertuliskan brand toko kue ternama. Lalu mengeluarkan red velvet yang terlihat menggoda dan memotongnya menjadi beberapa potongan yang lebih kecil agar lebih mudah untuk di nikmati.


Bu Asti menyodorkan potongan kue itu di depan mulut Alena bermaksud untuk menyuapinya. Dan Alena pun membuka mulutnya menerima suapan dari orang lain yang sudah seperti keluarga baginya itu.


Sejenak Alena melupakan Alvan yang sudah berada di dalam toilet sejak tadi. Entah apa saja yang di lakukan pria itu di sana.


"gimana rasanya Alena? enak nggak?" Tante denger kabarnya dadakan, jadi nggak sempat buatin kamu kue dulu. Akhirnya ya cuma bisa bawain ini!" ucap mama Namira sambil menyuapkan sepotong lagi di mulut Alena.


Dulu saat Alena sakit, Bu Asti biasanya membuatkan red velvet untuknya dan gadis itu sangat menyukainya. Karena tadi tidak sempat membuat, jadi Bu Asti membeli saja kue itu di toko kue langganannya.


"enak banget Tante, terima kasih ya! tapi kue buatan tante masih tetap nggak ada tandingannya" ucap Alena sambil tersenyum dengan binar mata bahagia.


Ia merasa beruntung bisa mengenal orang-orang baik seperti pak Pramana dan bu Asti, Alena bisa merasakan kasih sayang dari keduanya. Kesayangan yang tak pernah ia rasakan setelah orang tuanya meninggal dunia.


"hehehe.. kamu bisa aja Alena, tante jadi ge er nih!" canda mama Namira yang membuat semua orang di ruangan itu tertawa.


Alvan yang sedang di dalam toilet seperti mendengar ada orang yang datang di ruangan Alena. Tapi dia tak bisa mendengar dengan jelas karena seluruh bagian toilet yang tertutup rapat itu. Alvan hanya bisa mendengar samar-samar saja suara yang ada di luar sana.

__ADS_1


Dia pun memutuskan untuk keluar dari toilet, karena sudah terlalu lama ia di situ. Dia menekan flush closet agar aktingnya tampak sempurna. Kemudian memegang handle pintu dan membukanya perlahan. Betapa terkejutnya dia saat melihat dua orang yang ada di ruangan Alena. Ternyata mereka adalah kedua orang tua Namira.


__ADS_2