Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 14 Kedatangan Alvan


__ADS_3

"wah.. panjang umur kalian, baru juga di omongin, udah nongol aja!" seru pak Pramana setelah Rafka memasuki ruangan yang di ikuti Namira yang mengekor di belakangnya.


Rafka tampak memasuki ruangan dengan santai sambil tersenyum cerah sedangkan Namira sedikit terengah-engah karena harus berlari menyusul laki-laki itu tadi. Dia tidak mau kalau sampai papanya berpikir yang tidak-tidak kalau mereka kembali sendiri-sendiri dengan waktu yang berbeda.


Namira tidak mau papanya merasa khawatir, apalagi kalau sampai mempengaruhi kesehatannya. Itu adalah hal yang sangat di takutkan perempuan itu.


"kalian sudah sarapan kan?" tanya Bu Asti, mama Namira.


"sudah tante"


"sudah ma" jawab Namira dan Rafka berbarengan, yang membuat pak Pramana dan Bu Asti saling tatap lalu tertawa bersama.


"ciee.. kayak nya udah ada yang klop nih pa" sindir mama Namira,tapi lebih ke meledek tepatnya.


"iya nih ma.bener kata mama" balas pak Pramana yang tampak kompak dengan sang istri.


Sedangkan Namira dan Rafka memasang wajah malu-malu menanggapi ucapan Bu Asti, karena itu adalah sebagian dari akting agar terlihat seperti pasangan yang saling menyukai di depan orang tua mereka.


"kalo gitu gantian mama yang pergi sarapan dulu ya!" ujar Bu Asti yang membuat Namira langsung menatapnya.


"kok tadi nggak sekalian bareng aja sih ma?" protes Namira karena merasa sedang di kerjai.


"kalo mama sarapan bareng kalian,terus siapa dong yang jaga papa? kan kasian kalo papa sendirian" jelas Bu Asti.


"iya dong. Lagian kalo mama kalian ikut, nanti malah ganggu. iya kan ma?!" pak Pramana seperti bersekongkol dengan istrinya.


"iya betul banget pa. mama nggak mau dong jadi obat nyamuk" sahut Bu Asti tak mau kalah di ikuti dengan tawa renyah mereka.

__ADS_1


"ih.. mama. papa. gitu banget sih sama anaknya sendiri!" Namira memajukan bibirnya lima centimeter karena cemberut.


Melihat itu, sepasang suami istri itu malah makin gencar menggoda putri mereka. Bagaimana dengan Rafka? dia hanya memperhatikan saja sambil terkadang ikut senyum-senyum sendiri karena melihat tingkah keluarga Namira. Sudah lama dia tidak merasakan hangatnya keluarga karena kehilangan keduanya orang tuanya.


Setelah kepergian ayah Rafka, beberapa bulan kemudian ibunya pun ikut menyusul kepergian sang ayah. Tinggal lah hanya dia dan adik perempuannya yang harus menjalani hidup tanpa kasih sayang orang tua.


Di saat Rafka mulai kehilangan arah,pak Pramana datang mengulurkan tangannya. membantu Rafka untuk berdiri dengan tegak lagi dan memberikan kasih sayang kepada mereka selayaknya orang tua.


Oleh karena itu, Rafka begitu menyayangi dan menghormati pak Pramana, sehingga apapun yang di minta dia pasti akan melaksanakannya tanpa ada keinginan untuk membantah sedikit pun.


"ya udah kalo gitu mama pergi sarapan dulu ya! udah laper banget ini" ujar mama Namira sambil membuka pintu, karena akan keluar ke kantin. Semua orang yang ada di ruangan itu pun membalas perkataan Bu Asti dengan kompak.


Beberapa menit setelah kepergian Bu Asti, pintu ruang rawat pak Pramana di ketuk. Dan semua yang ada di situ berpikir kalau itu pasti mama Namira yang belum lama pergi.


"kok mama cepat banget ya pa sarapannya?! tumben? biasanya aja lama banget kalo urusan makanan" celetuk Namira yang di amini oleh papanya. Mereka sangat hafal dengan kebiasaan mama Namira yang suka lama kalau memilih menu makanan.


Pintu pun terbuka,dan seseorang yang berdiri di ambang pintu itu membuat Namira dan papanya sangat terkejut. Tapi tidak dengan Rafka, karena dia tidak mengenal pria berpakaian rapi itu sama sekali.


"Alvan?!" Namira refleks menyebut nama itu.


"ngapain kamu ke sini? masih berani kamu berdiri di hadapan ku? dasar bajingan!!" hardik pak Pramana penuh emosi.


Alvan tampak tak gentar menghadapi kemarahan papa Namira. tanpa takut dia berjalan masuk ke dalam ruangan mendekati mereka dengan membawa sepaket parsel buah di tangannya.


Pandangan Namira terus mengikuti langkah pria itu, begitu juga dengan semua yang ada di sana. mereka penasaran,apa yang akan di lakukan mantan tunangan Namira itu selanjutnya.


"maafkan saya om" Alvan berkata setelah meletakkan parsel buah yang di bawanya di atas nakas yang berada di samping papa Namira.

__ADS_1


"apa? maaf? gampang sekali kamu ngomong gitu! apa kamu pikir dengan minta maaf akan bisa memperbaiki semuanya?" pak Pramana tidak bisa menahan kemarahannya.


"tapi itu semua tidak benar om, semua yang terjadi hanyalah salah paham saja" Alvan masih berusaha membela diri walaupun ia tau tak akan mudah bagi orang lain untuk mempercayai ucapannya.


Dari obrolan yang terjadi di depan matanya, sekarang Rafka tau siapa laki-laki ini. Dia baru mengetahui kalau ternyata pria yang sedang berdiri tak jauh dari nya adalah mantan tunangan Namira yang katanya selingkuh, seperti yang sudah di ceritakan pak Pramana kepadanya.


Rafka tak menyangka kalau pria yang bernama Alvan itu masih punya nyali untuk datang menemui Namira dan keluarganya setelah kesalahan besar yang ia lakukan.


Namira sendiri tampak gelisah dengan keadaan yang terjadi di hadapannya. Yang sangat ia sesalkan, kenapa Alvan malah datang ke tempat ini menemui papanya. Dia sangat takut kalau itu akan menggangu kesehatan papanya yang kondisinya baru saja membaik.


"sudah berbuat buruk, masih tidak mengaku juga. dasar pengecut!! kamu pikir saya akan percaya begitu saja dengan semua omong kosong mu?!" pak Pramana semakin murka mendengar pembelaan Alvan. Menurutnya semua yang di ucapkan laki-laki itu hanya lah bualan belaka.


"saya sama sekali tidak bohong om,saya masih berusaha untuk mengungkap sabotase itu" Alvan tidak pantang menyerah begitu saja mempertahankan argumennya.


"apa kamu bilang? sabotase?! sekarang kamu mau coba menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kamu perbuat, begitu?!" pak Pramana sama sekali tidak terpengaruh sedikit pun dengan semua yang di ucapkan Alvan. Hanya kebencian yang terpancar dari sorot matanya, Karena pengkhianatan yang di lakukan laki-laki itu terhadap putrinya.


"saya bisa jelaskan semuanya om, saya mohon beri saya waktu" Alvan menyatukan kedua telapak tangannya memohon pada papa Namira.


Rafka masih tampak menyimak dengan seksama, sedangkan Namira? bibirnya terasa kelu secara tiba-tiba. satu kata pun rasanya tak bisa keluar dari mulutnya untuk saat ini.


"sudah terlambat, karena Namira sebentar lagi akan menikah" Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar hati Alvan. Ia sangat terkejut mendengar ucapan pak Pramana.


"Apa!? itu semua tidak benar kan om? Namira itu calon istri saya!" Alvan merasa sangat tak terima.


"bukan calon,tapi mantan. jangan mimpi kamu bisa bersanding dengan Namira setelah semua yang kamu lakukan!" amarah masih tampak menguasai papa Namira.


"tapi om, itu semua adalah fitnah. tolong beri saya waktu untuk menjelaskan kesalah pahaman ini" Alvan masih terus memohon.

__ADS_1


__ADS_2