Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 78 Kedatangan mami Alvan


__ADS_3

"Kamu mau kan Namira untuk merahasiakan semua yang terjadi dari mami?! untuk sementara waktu saja, sampai aku benar-benar siap untuk menceritakan semuanya!" ujar Alvan dengan tatapan memohon.


Namira berpikir sejenak, menimbang-nimbang langkah apa yang harus ia ambil selanjutnya agar tidak sampai salah mengambil keputusan.


"Baiklah Alvan" balas Namira pada akhirnya. Dia mau untuk bekerja sama karena alasan Alvan memang sangat masuk akal.


Hati orang tua mana yang tak akan sedih dan kecewa jika mengetahui putra kesayangannya gagal menikah, apa lagi bukan karena kesalahan yang ia perbuat, melainkan karena sebuah fitnah keji yang membuat semuanya hancur berantakan tak bersisa.


Dan Namira merasa, ia pun ikut bersalah dalam hal itu, karena tidak bisa sepenuhnya mempercayai calon suaminya sendiri dan tidak memberikan kesempatan bicara untuk menjelaskan semua.


"Terima kasih Namira"


"Sama-sama Alvan"


Seharian ini Namira terus menemani Alvan di rumah sakit. Dia sudah berjanji pada mami Alvan akan menjaga putranya, dan dia akan berusaha untuk menunaikan janji itu.


Dia tadi hanya pulang ke butik sebentar untuk mandi dan juga mengganti pakaian. Setelah itu kembali ke rumah sakit lagi untuk menjaga Alvan.


Ia merasa bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa laki-laki itu. Oleh karena itu sebisa mungkin ia berusaha untuk berada di sisi Alvan dan menjaganya. Setidaknya dengan begitu, ia akan sedikit menebus perasaan bersalahnya.


Tak terasa malam pun tiba. Namira masih berada di ruang rawat Alvan untuk menemaninya. Di kota ini Alvan memang tak memiliki satu keluarga pun. Ia hanya tinggal sendiri di sini, sedangkan maminya berada di luar negeri untuk mengurusi bisnisnya yang lain.


Di samping itu, sepertinya juga mami Alvan tidak betah tinggal berlama-lama di Indonesia, karena kenangan buruk yang pernah ia alami. Melihat laki-laki yang di cintai bersama dengan wanita lain hingga sekarang, tentu sangat menyakiti hatinya.


Ia sudah muak melihat laki-laki itu, dan tak pernah ingin melihat wajahnya lagi meskipun hanya sekelebat saja. Sebab itulah ia memilih untuk tinggal jauh dari negara ini, selain alasan untuk mengurus bisnis tentunya. Ketenangan jiwa, mungkin hanya itu yang ia cari, yang tak pernah ia dapatkan di sini.

__ADS_1


Sekarang ia harus kembali lagi ke negara ini karena suatu alasan yang tak bisa ia hindari. Putra kesayangannya mengalami kecelakaan dan ia harus mengetahui keadaannya dengan mata kepala sendiri.


Biasanya jika ingin bertemu dengan putranya, mami Alvan yang menyuruhnya untuk pergi menemuinya ke luar negeri, dari pada ia yang harus datang ke sini. Tapi karena sekarang kondisinya mendesak, maka mau tak mau ia harus datang dan memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.


Mami Alvan memesan tiket penerbangan beberapa saat kemudian dari negara tempatnya tinggal setelah mendapatkan kabar dari Namira, dan akan sampai di Indonesia pada malam hari ini juga.


Alvan sedikit kesusahan menyendok makanan yang ada di hadapannya karena jarum infus yang masih menempel di pergelangan tangannya, sehingga membatasinya untuk bergerak lebih bebas seperti biasa.


Melihat hal itu, Namira mengambil alih sendok Alvan dan mulai menyuapi laki-laki itu. Alvan pun menurut saja karena melihat tatapan tajam menghunus dari Namira.


Sebenarnya sudah dari tadi Namira berniat untuk menyuapi Alvan, tapi pria itu bersikeras untuk melakukannya sendiri dengan alasan tidak mau terlalu merepotkan Namira.


"Makanya jangan bandel jadi orang! di bilangi dari tadi kok nggak percaya!" omel Namira sambil menyendokkan nasi dan lauknya untuk Alvan kemudian menyuapinya.


"Iya Namira.. maaf" Alvan seperti anak kecil yang menurut saja dengan semua perkataan Namira, tanpa berani protes sedikit pun.


Wanita itu pun masuk dengan senyum merekah yang tersungging di bibirnya. Ia tergopoh-gopoh mendekati Alvan dan juga Namira yang masih terpaku di tempatnya. Mereka berdua sama sekali tidak menyangka kalau mami Alvan akan datang secepat itu.


"Alvan putra mami.. Namira sayang.." ucap mami Alvan sambil merentangkan kedua tangannya.


"Mami.." Namira dan Alvan pun refleks mengucapkan kalimat yang sama.


Namira menyambut kedatangan mami Alvan dengan hangat. Ia memeluk wanita yang sudah melahirkan laki-laki yang dulu hampir menjadi suaminya itu dengan penuh kasih.


Tak ada kepura-puraan dari sikap Namira, karena dari dulu ia memang sangat menyayangi mami Alvan. Ia merasa sangat nyaman berada di dekat wanita itu. Bahkan bisa di bilang mami Alvan sudah seperti orang tua kedua baginya.

__ADS_1


"Mami kok nggak bilang-bilang kalo mau datang? kan biar bisa Namira jemput di bandara mi" ujar Namira masih di dalam pelukan mami Alvan.


"Nggak pa-pa sayang, mami tau kamu pasti sedang repot ngurusi anak bandel itu, jadi mami sengaja nggak bilang!" ucap mami Alvan sambil menatap tajam ke arah putranya.


"Nggak kok mi!" balas Namira sambil melepas pelukannya.


"Mami tau kalau anak itu dari dulu selalu merepotkan kamu! oh .. iya kamu apa kabar sayang?" ucap mami Alvan sambil membingkai wajah Namira.


"Namira baik kok mi, kalo mami sendiri bagaimana?"


"Seperti yang kamu lihat, mami selalu sehat dan cantik" canda mami Alvan sambil tertawa renyah, yang di ikuti oleh tawa Namira juga.


"Sebenarnya mami ke sini mau nengok aku apa Namira sih mi? kok dari tadi anaknya malah di cuekin?!" protes Alvan pura-pura memasang wajah ngambek.


"Abisnya mami kesel sama kamu! masa nyusahin calon menantu mami terus sih?! kan kasian dia, jadi kerepotan ngurusin kamu!" ujar mami Alvan yang membuat Namira dan Alvan diam seribu bahasa seketika.


Kalimat calon menantu yang di ucapkan wanita itu seperti pukulan telak yang menghantam mereka berdua. Semua yang di ucapkan wanita itu memang tak ada yang salah, tapi itu dulu.


Jika di ucapkan sekarang maka kalimat itu akan terasa sangat berbeda. Karena hubungan mereka berdua sudah berubah, tak sama seperti dulu lagi. Bahkan status Namira kini masih menjadi istri orang lain.


"Namira nggak merasa di repotkan kok mi" ujar Namira.


"Aduh.. calon menantu mami ini memang nggak ada duanya! makasih ya sayang kamu udah mau menjaga Alvan di saat mami nggak ada di dekatnya!" ucap mami Alvan tulus.


"sama-sama mi"

__ADS_1


"Alvan, mami minta kamu cepat nikahi Namira, nggak usah di undur-undur lagi deh! mami nggak mau kamu banyak alasan lagi pokoknya!" ujar mami Alvan yang membuat Alvan dan Namira membelalakkan matanya seketika.


__ADS_2