
"Kok malah ngelamun? mikirin apa hayoo??" Alvan melambai-lambaikan tangannya tepat di depan wajah Namira, karena melihat perempuan yang masih ada di hatinya itu seperti sedang tertegun memandangnya sambil melamunkan sesuatu. Membuat Namira terperanjat karena ulah Alvan.
"ih.. kok malah ngagetin sih?!" kesal Namira.
"aku nggak ngagetin loh sebenarnya! kamu aja yang nggak fokus karena kebanyakan ngelamun" goda Alvan, sengaja untuk membuat Namira semakin kesal. Menurutnya wajah perempuan itu tampak menggemaskan jika sedang ngambek begitu.
"tau ah!! gelap.." Namira mulai terpancing emosi dengan ulah jahil Alvan.
"Iya, iya.. aku minta maaf. jangan ngambek, lagi ya!"
"siapa yang ngambek? aku nggak ngambek tuh!" elak Namira memasang wajah jutek.
"nggak ngambek kok marah?" Alvan mencari gara-gara lagi.
"udah deh, mending kamu pulang aja sana! bawa makanan kamu!" Seru Namira kesal karena Alvan seperti sengaja membuatnya marah.
"iya .. iya Namira. kali ini aku bener-bener serius minta maaf. jadi stop ngambeknya ya! sekarang kamu harus makan. Kamu nggak boleh nolak pokoknya! atau.. apa mau aku suapin nih?" sambil tersenyum jahil Alvan mengatakan itu.
"ogah ah.. aku bisa makan sendiri!" Tolak Namira tegas. Dia pun mengambil makanan yang ada di bawa Alvan tadi, kemudian langsung menyendoknya dengan cepat lalu memasukkan ke dalam mulutnya dengan lahap.
Alvan tersenyum puas melihat Namira mau menyentuh makanannya. Ternyata senjata pamungkasnya untuk membuat Namira mau makan itu masih ampuh hingga sekarang.
Dulu saat mereka masih bersama, itulah yang selalu ia lakukan saat Namira malas makan. Dia selalu mengancam akan menyuapi jika perempuan itu tidak mau makan, dan akhirnya Namira pun langsung makan karena merasa malu kalau sampai Alvan benar-benar melakukannya.
Dari jauh ada sepasang mata yang melihat kejadian itu. Laki-laki yang sedang membawa sekotak makanan yang baru saja di belinya sebagai bentuk perhatiannya pada sang istri. Laki-laki itu tak lain adalah Rafka, suami Namira.
__ADS_1
Tadi selepas kepergian Alvan, selang beberapa saat Rafka bergegas ke kantin untuk membeli makanan untuk istrinya. Sebenarnya dia tak tau persis apa makanan kesukaan Namira, jadi dia sekedar mengira-ngira saja makanan yang sepertinya di sukai Namira sesuai feelingnya.
Rafka merasa cemburu melihat pemandangan itu. Di sana ia melihat istrinya begitu lahap memakan makanan yang di bawa oleh Alvan, dan laki-laki di sampingnya itu nampak tersenyum ke arah Namira. Dan pada akhirnya pun mereka makan bersama.
Rafka memandang box makanan yang di bawanya dengan tatapan nanar. Di dalam hati ia benar-benar merasakan kekecewaan yang mendalam, karena rupanya dia kalah cepat dengan mantan tunangan Namira itu.
Dia juga melihat binar bahagia dari wajah Namira, yang tak pernah ia lihat saat istrinya itu sedang ada di dekatnya. Rafka menundukkan wajah seperti merasa pesimis sekarang.
Pada akhirnya pria itu memutuskan untuk berbalik arah kembali ke depan ruang operasi Alena lagi. Tapi sebelum itu dia membuang kotak berisi makanan itu ke tempat sampah, karena menurutnya Namira sudah tidak membutuhkan lagi makanan darinya. Sudah ada Alvan yang lebih dulu memberikan pada istrinya.
Rafka tidak tahu sampai kapan akan terus seperti ini. Mencintai tanpa di cintai. Ia baru tau kalau ternyata rasanya lebih menyakitkan melebihi yang ia bayangkan.
Rafka mencoba untuk tegar, mengangkat kepala dengan tegak berjalan ke ruang operasi adiknya.
Aku tau kalau laki-laki itu sangat mencintai Namira, karena aku bisa melihat itu dari sorot matanya.
Dan Namira? sepertinya juga masih ada perasaan untuk Alvan di dalam hatinya.
Mereka berdua saling mencintai dan aku tampak seperti seorang pengganggu yang menghalangi cinta mereka. Lucu sekali bukan?!
Aku memang memiliki raga Namira, meskipun tak seutuhnya. Tapi aku tak pernah bisa memiliki hatinya.
Haruskah aku menyerah untuk mendapatkan cinta dari istriku itu, Tuhan? aku benar-benar tak tau harus berbuat apa*..
Rafka menghirup nafas beberapa kali lalu menghembuskannya perlahan, berharap dengan begitu bisa sedikit mengurangi kekalutan yang ia rasakan.
__ADS_1
Sementara itu di taman rumah sakit, Alvan dan Namira tampak sedang menikmati makanan yang ada di tangan mereka masing-masing sambil sesekali bercakap ringan untuk mencairkan suasana.
Alvan lah yang banyak bicara, sedangkan Namira hanya sedikit menanggapi saja. Rasa kesalnya pada laki-laki itu tentu belum sepenuhnya hilang. Dia masih merasa kesal padanya.
"gimana ayam goreng menteganya Namira? enak nggak?" tanya Alvan memecah keheningan. Dia merasa kalau Namira lebih banyak diam sejak tadi. Hanya sesekali saja perempuan itu mau bersuara.
"emm.. lumayan kok" jawab Namira ngambang, karena kata lumayan itu memiliki dua arti, yakni lumayan dalam artian bisa di bilang enak dan yang satunya, lumayan yang bisa di bilang tidak enak.
Alvan mencoba bersabar dan mengajak Namira berbincang-bincang lagi. Ia tak akan menyerah sebelum rasa kesal Namira hilang dari dalam dirinya.
"tapi pasti masih enakan ayam goreng mentega buatan mama kamu ya?!" tebak Alvan sambil tersenyum. Dia masih sangat ingat kalau Namira pernah makan dengan lahap saat menyantap menu makanan yang sama, tapi bedanya makanan itu di buat sendiri oleh mama Namira.
Saat itu keluarga Namira mengundangnya untuk makan malam bersama di rumah mereka, saat hubungan mereka masih baik-baik saja. Dan masih berstatus tunangan dulu.
Sungguh semua kenangan itu masih terasa hangat di ingatan Alvan, seakan semua itu masih baru terjadi kemarin. Padahal nyatanya tidak. Hubungan mereka sudah berakhir cukup lama.
Tapi bagi Alvan hanya status mereka saja yang berakhir. Hati dan perasaan laki-laki itu masih sepenuhnya untuk Namira. Dia pun merasa kalau perempuan yang di cintainya itu juga merasakan hal yang sama.
Dia optimistis kalau suatu saat akan bisa kembali bersama Namira lagi. Melanjutkan semua yang sempat tertunda dan juga hidup bahagia bersama, selamanya. Dia tak akan pernah berhenti untuk terus mewujudkan keinginan dan harapan besarnya itu.
"ini juga enak, tapi iya sih, masakan buatan mamaku emang yang paling juara!" Namira terpancing untuk menanggapi ucapan Alvan, karena yang di bicarakan laki-laki itu adalah hal yang menyangkut orang yang sedang di rindukannya.
Sudah beberapa hari ini, Namira tidak berjumpa dengan orang tuanya karena sibuk dengan masalah-masalah yang sedang di hadapinya. Lagi pula ia juga tak mau kalau sampai kedua orang tuanya tau tentang masalah yang sedang ia hadapi.Ia tak mau kalau keduanya orang tuanya bisa membaca kesedihan dari raut wajahnya.
Namira ingin mereka berpikir kalau putri mereka satu-satunya hidup bahagia menjalani pernikahannya. Karena ia tak mau membuat papa dan mamanya khawatir jika mengetahui keadaan dirinya yang sebenarnya.
__ADS_1