Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 41 Usaha Namira


__ADS_3

"Aku akan keluar sebentar, ada urusan yang harus secepatnya aku selesaikan" pamit Namira pada suaminya.


Rafka yang sedang terpuruk karena kondisi adiknya yang sedang kritis hanya diam tak bergeming menanggapi ucapan Namira. Dia sungguh bingung, bagaimana caranya agar membuat kondisi Alena menjadi lebih baik.


Laki-laki itu pun tampak kurang fokus, hingga seperti tak mendengar dan tak melihat segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya, termasuk perkataan istrinya.


Namira pun berjalan dengan cepat tanpa menunggu jawaban dari Rafka lagi. Ia sangat memahami perasaan Rafka. Dan dia pun memutuskan untuk coba melakukan sesuatu agar bisa membantu mempercepat kesembuhan Alena.


Tak tau bagaimana hasilnya nanti, yang penting dia sudah berusaha dan mencoba melakukan yang terbaik.


Setelah keluar dari gedung rumah sakit, Namira mengambil ponsel di dalam tasnya lalu menghubungi nomor Alvan. Dan hanya satu deringan saja telpon itu sudah di terangkat.


"halo.. ada apa Namira?"


"Alvan, kamu ada di mana sekarang?"


"aku ada di kantor. kenapa Namira? apa ada masalah?" tanya Alvan cemas. Ia mulai mengkhawatirkan Namira karena suara perempuan itu yang terdengar bergetar seperti menahan kesedihan.


Tentu Alvan sangat hafal di luar kepala jika itu tentang Namira, karena mereka sudah mengenal dengan baik dan sudah bersama selama kurang lebih enam tahun.


"kalo gitu aku akan menemui kamu sekarang!" sergah Namira tanpa menjawab pertanyaan yang di ajukan Alvan.


"sebenarnya ada masalah apa Namira? kamu cerita sama aku!" desak Alvan agar Namira mau berbicara.


"aku ceritakan nanti saja, Alvan. Aku akan ke sana sekarang"


"tunggu Namira. Kamu di mana sekarang? biar aku saja yang datang ke situ!" cegah Alvan. Dia tidak mungkin membiarkan wanita yang di cintainya bersusah payah datang menemuinya dalam kondisi kebingungan seperti itu.


"aku di rumah sakit Sehat Sejahtera sekarang"


"apa kamu sakit Namira?" ujar Alvan cemas mendengar kata Rumah sakit.


"aku nggak sakit, nanti aja aku ceritain semuanya" balas Namira.


"baiklah, Kalo gitu aku akan ke situ sekarang. kamu jangan kemana-mana ya"

__ADS_1


"iya Van. aku tunggu di taman depan rumah sakit"


"oke"


Namira memasukkan ponselnya kembali dalam tas setelah selesai melakukan panggilan. Dia merenung memikirkan kejadian demi kejadian yang dia alami selama beberapa hari terakhir ini.


Kejadian-kejadian itu berputar bak adegan film di pikiran Namira. Mulai dari kebenaran yang baru ia ketahui tentang foto itu, sampai peristiwa buruk yang menimpa adik iparnya sekarang.


Dia sama sekali tak tau apa rencana tuhan yang akan di berikan padanya. Yang ia tau, ia hanya bisa menjalani semuanya dengan ikhlas dan lapang dada.


Beberapa menit kemudian, Alvan datang menghampiri Namira. laki-laki itu tampak sedikit ngos-ngosan karena berlari agar bisa cepat menemui Namira di tempat ini.


Namira menyodorkan sebotol air mineral yang di belinya di kantin rumah sakit yang jaraknya cukup dekat dengan taman, saat menunggu kedatangan Alvan tadi.


"terima kasih Namira" Alvan menerima botol yang berisi air mineral itu, kemudian langsung meneguknya setelah duduk di kursi panjang, di samping Namira.


"sama-sama" balas Namira.


Alvan mengatur nafasnya sebelum membuka suara untuk bertanya tentang banyak hal pada Namira.


"Alena .. Van. dia mengalami kecelakaan dan sekarang kondisinya sedang kritis" kesedihan tampak jelas di wajah Namira.


"Alena kecelakaan?? gimana bisa?! bukannya tadi dia sedang dalam perjalanan pulang ke rumah?!" Alvan sangat terkejut mendengar kabar tentang Alena. Dia sama sekali tak menyangka kalau hal buruk telah menimpa gadis polos itu.


Alvan jadi semakin merasa bersalah. Dia menduga kalau penyebab kecelakaan Alena, berkaitan erat dengan dirinya.


Kemungkinan besar Alena mengalami kecelakaan itu karena memikirkan perkataannya yang membuat gadis itu sakit hati, sehingga membuatnya kurang berkonsentrasi saat berkendara di jalan. Dan terjadi lah kecelakaan itu.


"aku juga nggak tau Van, tapi yang jelas kondisinya sekarang sangat mengkhawatirkan" jelas Namira dengan menahan kesedihan.


"ya tuhan.."


Kenapa kamu bisa mengalami kejadian buruk seperti itu, Alena?


Aku benar-benar nggak menyangka.

__ADS_1


Apa aku sudah terlalu jahat sama kamu, sampai membuat kamu tertekan hingga harus mengalami kecelakaan itu?!


Alvan menyalahkan dirinya di dalam hati. Ia tak berani menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Namira seperti sebelumnya, karena takut kalau Namira akan membencinya jika sampai mengetahui semuanya.


"apa aku bisa minta bantuan dari kamu, Alvan?" tanya Namira ragu-ragu.


"tentu saja, Namira. Aku akan membantu sekuat yang aku bisa" balas Alvan yakin.


"bisakah kamu berbicara pada Alena? barangkali dia bisa cepat sadar jika mendengar suara kamu" ucap Namira sedikit sungkan.


"kenapa harus aku, Namira?" Alvan terkejut karena ucapan wanita itu kepadanya.


"karena kamu lah laki-laki yang sangat di cintai Alena. nggak ada yang lain, Van" Namira coba memberi penjelasan.


"bagaimana kamu bisa tau? bukankah kamu belum lama mengenal Alena?!"


"aku sangat tau perasaan Alena"


"jangan sok tau"


Terjadi perdebatan yang cukup melelahkan di antara mereka berdua, hingga pada akhirnya Namira keceplosan dengan apa yang di lakukannya kemarin.


"aku udah baca buku diary Alena. Dari sana aku tau kalau perasaan Alena begitu dalam dan tulus. Dia sangat mencintai kamu, Alvan!" Namira mulai tak bisa mengontrol emosinya. Dia menggebu-gebu mengatakan semua itu pada Alvan, meskipun ada sedikit rasa sakit yang ia rasakan saat mengucapkannya.


Rasa sakit yang akan ia pendam sendiri, tanpa ada siapapun yang tau, karena dia tak mau egois dengan apa yang di rasakannya. Ia membiarkan rasa itu terkubur sedalam mungkin demi kebahagiaan Alena.


Alvan terperangah mendengar yang di katakan Namira. Dia tak pernah menyangka kalau perasaan Alena begitu besar untuknya. Dia jadi merasa sangat bersalah karena telah mempermainkan perasaan gadis itu.


Jika bisa Alvan ingin mengulang semuanya, dia akan melakukan semua pembuktian untuk Namira, tanpa melibatkan perasaan Alena. Ya, itulah yang ada di dalam hatinya.


"aku mohon bicara lah dengan Alena, Van. ini semua demi kesembuhannya!" Namira kembali memohon pada laki-laki itu.


Alvan memikirkan semua yang di katakan Namira padanya. Dia benar-benar bimbang harus berbuat apa.


Jika ia memutuskan untuk berbicara pada Alena, maka itu sama saja membuka peluang kembali untuk hubungan mereka. Tapi jika dia tak melakukan itu, maka akan terasa sangat kejam.

__ADS_1


Karena bagaimanapun juga, semua hal yang terjadi pada Alena, secara tidak langsung dia juga ikut terlibat. Karena dia sendiri lah yang membawa Alena masuk ke dalam kehidupannya, sehingga ada cinta di dalam hati Alena untuknya.


__ADS_2