Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 57 Keinginan Alena


__ADS_3

Rafka mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya, mencoba untuk mengontrol emosi yang mulai menguasai diri. Dia tidak mau menjadi manusia bodoh yang mudah terpancing emosi.


Cukup kemarin saja dia melakukan kebodohan itu. Untuk sekarang dia sudah menanamkan pada dirinya sendiri bahwa dia tak akan mudah untuk terprovokasi.


Rafka lebih memilih pergi dari tempat itu tanpa menghiraukan ucapan Alvan lagi. Tentunya setelah membayar makanan yang di pesannya tadi di meja kasir.


"tunggu Rafka.. gue belum selesai!" seru Alvan, tapi Rafka tetap tak mau memperdulikannya dan terus berjalan keluar dari kantin.


Alvan merasa kalau Rafka kali ini tampak berbeda. Dia tak mudah terpancing emosi seperti biasanya. Tapi laki-laki itu tak akan menyerah. Dia akan tetap terus menjalankan rencananya untuk memisahkan Namira dan Rafka.


Rafka berjalan gontai menuju ruang rawat Alena. Bohong kalau dia sama sekali tak memikirkan tentang semua yang di ucapkan oleh Alvan tadi.


Menurutnya semua perkataan Alvan memang benar. Dia hanyalah seorang suami yang tak pernah di cintai oleh istrinya. Dan dia juga merasa kalau istrinya itu masih menyimpan rasa cinta untuk mantan tunangannya yaitu Alvan.


Dia memikirkan semuanya kembali, tentang hubungannya dan Namira. Walaupun dia belum mendapatkan cinta dari Namira, tapi setidaknya mereka sudah lebih sering mengobrol sekarang. Tidak seperti dulu yang lebih sering menghindar dan lebih banyak diam jika sedang bertemu.


Bagi Rafka, itu adalah suatu kemajuan yang sangat pesat jika di bandingkan dengan hubungan mereka yang sebelumnya.


Rafka membulatkan tekad. Kalau dia tak boleh segampang itu menyerah. Dia akan terus berjuang dan berusaha untuk mendapatkan cinta dari istrinya. Dan dia juga berjanji akan menghapus nama Alvan dari hati Namira untuk selamanya.


Dia sangat yakin kalau suatu saat semua usahanya akan membuahkan hasil. Dan dia bisa mendapatkan hati Namira seutuhnya.


Rafka membuka pintu ruangan Alena kemudian masuk ke dalamnya. Ia melihat Alena sedang mengobrol dengan wanita yang baru saja di pikirkannya.


"Rafka.. udah selesai sarapannya?" tanya Namira berbasa-basi saat melihat Rafka muncul dari balik pintu.


"udah.. kamu sendiri udah sarapan?" Rafka tampak salah tingkah di depan Namira.

__ADS_1


"udah kok, tadi di bawain bekal sama bik Imas" balas Namira.


Melihat kakak kandung dan kakak iparnya yang saling perhatian seperti itu, membuat Alena jadi teringat seseorang. Seseorang yang dulu juga sangat perhatian padanya hingga dia merasa begitu di cintai dan merasa jadi wanita yang paling beruntung di dunia ini.


"oh .. ya udah kalo gitu" ucap Rafka kemudian berjalan mendekati adiknya.


"kak Rafka.. bolehkah aku minta sesuatu untuk yang terakhir kalinya?" ujar Alena tiba-tiba yang membuat hati Rafka langsung terasa aneh, dia merasa kalau itu adalah suatu pertanda buruk baginya.


Begitu pula dengan Namira, dia merasa ada yang aneh dengan ucapan Alena. Tapi dia tak merasakannya sekuat Rafka, kakak kandung Alena sendiri.


"kamu ngomong apa sih Alena? kamu nggak boleh ngomong gitu! Kapanpun dan apapun yang kamu minta, kakak akan memberikannya untuk kamu" ucap Rafka penuh emosional, bahkan matanya sampai berkaca-kaca mengatakan hal itu.


"benarkah kak Rafka akan memberikan apapun yang aku minta?" Alena meragukan ucapan kakaknya.


"tentu saja Alena, kamu adalah satu-satunya keluarga yang kakak miliki. Kamu tau kan kalo kak Rafka sayang banget sama kamu?!"


Namira merasa sangat terharu melihat adegan kakak beradik itu. Air mata pun tak bisa di cegah mengalir begitu saja di pipinya. Dia baru tau kalau ternyata Rafka sangat menyayangi Alena. Selama ini Namira pikir Rafka hanya lah laki-laki otoriter yang suka memaksakan kehendaknya pada siapapun.


"memangnya apa yang kamu inginkan Alena? bilang sama kakak!"


"kak Rafka janji nggak akan marah?"


"kakak janji nggak akan marah sama kamu"


"aku mau mas Alvan ada di sini kak.." ucap Alena terbata.


Rafka sangat terkejut mendengar permintaan adiknya. Dia tak menyangka kalau Alena masih mengharapkan pria yang sama sekali tak mencintainya itu.

__ADS_1


Sama halnya dengan Namira, dia juga sama terkejutnya dengan Rafka. Dia tau kalau permintaan Alena akan membuat Rafka dilema karena berada dalam pilihan yang sulit. Dia tau kalau suaminya itu sangat membenci Alvan, dan permintaan Alena sekarang pasti membuatnya sangat bingung.


Rafka terdiam beberapa saat, tak langsung menanggapi ucapan Alena. Dia seperti sedang berpikir, memikirkan sesuatu yang sangat berat untuknya.


"kak Rafka.. apa kakak nggak bisa mengabulkan permintaanku?" tanya Alena mulai putus asa.


Rafka menatap mata adiknya lekat.Terlihat harapan besar di sana. Dan dia tak akan pernah tega untuk menghancurkan harapan itu.


"kakak akan membawa Alvan ke sini untuk kamu" ucap Rafka pada akhirnya kemudian keluar dari ruangan itu untuk mencari Alvan.


"Rafka, tunggu!" panggil Namira yang menyusul suaminya keluar dari ruangan setelah berpamitan pada Alena tadi.


Rafka membalikkan badannya, ia melihat Namira setengah berlari mengikuti langkahnya.


"kenapa Namira?" tanya Rafka setelah jarak mereka semakin dekat.


"apa lebih baik aku saja yang bicara dengan Alvan, kalian kan selalu ribut tiap kali ketemu. Kalo aku yang coba meyakinkannya, mungkin saja dia mau membantu kita" Namira mengemukakan pendapatnya. Dia pikir pasti akan percuma jika Rafka yang meminta Alvan untuk membantu, karena sudah bisa di pastikan hasilnya akan sia-sia.


"kali ini biar aku saja yang bicara dengannya, Namira. Kamu sudah banyak membantu Alena dari kemarin, Dan sekarang akulah yang akan bertindak sebagai kakak kandung Alena" Rafka berkata dengan ekspresi yang tak terbaca.


"tapi kan kamu dan Alvan... " Namira seperti menggantung ucapannya.


"kamu tenang aja Namira, aku akan bicara baik-baik sama dia. Aku nggak akan mendahulukan egoku, karena kesehatan Alena lah yang paling utama sekarang. Dokter berpesan, kalo Alena nggak boleh memikirkan sesuatu yang membuatnya stress, karena itu akan sangat mempengaruhi kesehatannya" Rafka berusaha meyakinkan.


"baiklah kalo itu mau kamu Raf" Namira pasrah dan menyetujui keinginan Rafka untuk berbicara sendiri pada Alvan. Ia hanya bisa berharap kalau Rafka benar-benar bisa memegang ucapannya untuk bicara baik-baik dan tidak membuat kekacauan jika mereka berdua bertemu.


"kalo gitu aku pergi dulu. Aku titip Alena sebentar ya!" Rafka berpesan pada Namira sebelum pergi.

__ADS_1


"tentu Raf, kamu nggak usah khawatir, aku akan jaga Alena, karena dia sudah seperti adik aku sendiri" ujar Namira tulus dari dalam lubuk hati.


"terima kasih Namira" ucap Rafka kemudian pergi meninggalkan Namira untuk mencari keberadaan Alvan dengan satu tujuan, dia akan mencoba berusaha untuk mewujudkan keinginan adik perempuannya dengan membawa Alvan untuknya, seperti yang ia inginkan.


__ADS_2