
"Alena.. Alena.. kamu tuh seneng banget sih buat orang khawatir! harusnya aku yang tanya, kenapa kamu malah ada di sini? bukannya pulang?!" gerutu Alvan sembari duduk di bangku di bawah pohon rindang yang di tempati gadis itu tadi.
"habisnya aku kesel sama kak Rafka. kenapa mas Alvan mau aja nurutin omongan dia sih? emangnya kak Rafka ngancem apa sampe kamu nurut gitu aja?" tanya Alena polos dengan wajah yang di penuhi rasa penasaran.
"maksud kamu apa Alena? aku sama sekali nggak ngerti" balas Alvan bingung karena tak mengerti dengan apa yang di ucapkan gadis itu.
"mas Alvan menghindar dari aku seharian ini karena di ancam sama kak Rafka kan? dia yang minta kamu buat jauhi aku kan?!" seloroh Alena dengan wajah polosnya.
"memangnya siapa yang bilang gitu Alena?" tanya Rafka heran.
"nggak ada yang bilang, aku sendiri aja yang mikir gitu. Kan mas Alvan hari ini nggak bisa di hubungi. Terus, aku datangi ke kantor juga nggak ada. Itu kan tandanya kamu menghindar, dan nggak mungkin kamu berbuat begitu tanpa alasan" Alena menjabarkan spekulasinya sendiri.
"maaf, aku hari ini sangat sibuk. Jadi handphonenya aku matiin" Alvan tidak berbohong, memang hari ini ia sibuk, sibuk bersama Namira, menjelaskan tentang kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka.
"sibuk apanya? aku datangi ke kantor aja kamu nggak ada kok. kamu pasti bohong kan?!" tuduh Alena.
Aku memang nggak sibuk di kantor, Al. Aku sibuk memperjuangkan cinta ku pada Namira. Cinta yang nggak pernah hilang, bahkan tumbuh dengan subur di dalam hati.
Maafkan aku yang membawa kamu masuk ke dalam masalahku. aku terpaksa harus melakukannya demi untuk mendapatkan cinta itu lagi..
"ada urusan lain yang harus aku selesaikan di luar urusan kantor" jawab Alvan ambigu.
"kenapa nggak ngabarin aku?" protes Alena tak terima.
"nggak sempat Alena, maaf" Alvan memandang wajah Alena sebentar, sama sekali tak ada tempat untuk gadis ini di dalam hatinya. Ia tak merasakan getaran apapun seperti saat dirinya bersama Namira.
"jadi kamu ngilang seharian ini bukan karena kak Rafka?" Alena kembali memastikan.
"nggak Alena, ini semua nggak ada hubungannya dengan kakak kamu" bantah Alvan.
"ya ampun.. ternyata dugaanku salah, mana aku tadi udah marah-marah nggak jelas sama kak Rafka lagi!" Alena seperti bermonolog dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
"makanya lain kali jangan langsung emosi, apalagi sampe kabur-kaburan gini. kasian orang di rumah pasti khawatir"
"iya maaf mas, aku salah"
"ya udah, yang penting jangan kayak gini lagi!"
"iya.. iya mas Alvan. oh iya, by the way kok mas bisa tau kalau aku ada di tempat ini?"
"ya nebak aja, bukankah dulu kamu pernah bilang kalo panti asuhan ini adalah salah satu tempat favorit kamu?!"
"masa sih aku pernah bilang gitu?"
"huff.. dasar pelupa!" Alvan mengacak-acak rambut Alena, yang membuat gadis itu tertawa karena ulah lelaki yang di cintainya.
Dulu Alena pernah mengajak Alvan ke tempat ini untuk memberikan banyak baju dan mainan kepada anak-anak penghuni panti asuhan ini, yang di sambut sorak sorai penuh kebahagiaan dari anak-anak yang bernasib kurang beruntung itu.
Saat itu Alena juga sempat bercerita banyak hal pada Alvan, termasuk tentang kehidupannya dan juga kebiasaannya yang sering mengunjungi tempat ini setiap ada masalah untuk menenangkan diri.
Alvan sempat tak menyangka, kalau gadis ini mempunyai sisi lain di dalam hatinya. Sisi lain yang pasti akan membuat kagum setiap orang yang mengenalnya. Tapi hanya sekedar kagum saja, tidak ada yang lebih bagi Alvan, karena perasaan cintanya hanya untuk Namira seorang.
"baiklah" balas Alena patuh. Ia menyesal karena sudah membuat kesalahan dengan mencurigai kakak kandungnya sendiri.
"oh, iya. aku tadi bawa banyak kue untuk anak-anak. aku ambil dulu ya, kuenya ada di mobil" Alvan berjalan menuju mobilnya lalu mengambil dua kantong plastik besar yang di dalamnya berisi beraneka ragam kue-kue lezat yang di belinya sebelum ke sini tadi.
Dia sengaja berhenti di toko kue langganannya untuk di bagikan kepada penghuni panti asuhan ini, seperti yang biasa di lakukan Alena.
"ini kuenya, ayo kita bagikan sama anak-anak" ujar Alvan sambil meletakkan kue itu di bangku sebelah Alena.
"wah.. banyak banget. Pasti anak-anak suka. makasih ya Alvan!" Alena tersenyum manis mengucapkan kalimat itu.
"sama-sama Al"
__ADS_1
"anak-anak.. ini ada kue loh! siapa yang mau?" Alena mengeraskan suara memanggil beberapa anak yang sedang bermain tak jauh darinya.
"mau.. mau.. aku mau kuenya kak" suara anak-anak itu bersahutan sambil berlari mendekat ke arah Alena dan Alvan.
"nah ini.. di bagi rata sama teman-teman yang lain ya kuenya" Alena membagikan kue yang di bawa Alvan tadi pada anak-anak panti.
"terima kasih kak Alena" ucap anak-anak itu serempak.
"sama-sama. Eh.. tapi kue ini yang bawa kak Alvan loh, jadi bilang terima kasihnya sama kak Alvan juga ya!!" tutur Alena pada anak-anak itu.
"terima kasih kak Alvan!!" kini mereka beralih pada Alvan yang ada di sebelah Alena.
"sama-sama anak-anak. Semoga kalian suka kuenya ya!" balas Alvan.
"suka kak, kuenya enak!" sambar salah satu anak lelaki berkepala plontos yang sudah terlihat memegang kue di tangannya dan memakannya mendahului teman-temannya yang lain.
"ih.. si Dani, kok udah nyerobot kuenya duluan sih? yang lain kan belum, udah kayak tuyul aja!" seru temannya yang lain.
"iya nih.. Dani curang!!" mereka semua pun saling bersahutan mengatai temannya.
"udah.. udah.. nggak boleh berantem dong! kuenya kan banyak, jadi bisa di bagi rata" Alena mencoba menengahi mereka.
"iya kak.. " mereka pun pergi sambil membawa bungkusan berisi kue itu untuk di bagikan bersama anak-anak lain di dalam panti.
"mereka tuh nggemesin banget sih! Alena berucap setelah anak-anak itu pergi. Senyumnya merekah mengingat ulah mereka tadi, yang bisa membuat dirinya merasa terhibur.
"iya, kamu benar Alena" sahut Alvan.
Alena tampak masih melihat kepergian anak-anak panti yang masuk ke dalam sampai mereka benar-benar tak terlihat.
"Alena.. " pria itu seperti ingin mengatakan sesuatu tapi bibirnya terasa sulit untuk di gerakkan.
__ADS_1
"ya mas? kenapa mas?!" Alena bertanya dengan ekspresi wajah yang bingung, karena tak biasanya kekasihnya itu bertingkah dengan gelagat aneh seperti sekarang.
"sebaiknya kita putus saja" walaupun berat mengatakannya karena menjaga perasaan Alena, tapi Alvan harus melakukannya. karena ia tak ingin membiarkan kesalahan ini berjalan terlalu lama. Dan itu akan lebih menyakiti perasaan gadis itu.