
"Iya Alena.." balas Alvan yakin.
"Benarkah kamu akan melakukan apapun untuk menebus kesalahan yang udah kamu lakukan?!" gadis itu mengulang kembali pernyataan yang di lontarkan Alvan tadi. Ia hanya ingin memastikan apakah laki-laki itu serius dengan ucapannya.
"Tentu Alena. Selama aku mampu, aku pasti akan melakukannya" jawab Alvan.
Alena terdiam beberapa saat, lalu terlihat menarik nafas beberapa kali, seperti berusaha untuk mengendalikan perasaannya. Perasaan tak menentu yang menyelimuti hatinya saat ini.
"Apa kamu bisa melupakan dia untukku?" ucap Alena sambil menggigit bibir bawahnya. Dia merasa ragu untuk mengucapkan kalimat itu, tapi akhirnya dia berhasil menguasai diri dan mengusir semua kebimbangan di hati.
Alvan begitu terkejut mendengar ucapan Alena. Dia tak menyangka kalau gadis itu akan meminta hal itu untuk menebus kesalahannya. Hal yang sangat mustahil di lakukan oleh Alvan, yaitu melupakan Namira.
Rupanya tadi dia salah bicara, karena tak semua hal di dunia ini mampu ia lakukan. Apa lagi yang di minta Alena adalah sesuatu yang sangat sulit bagi Alvan.
Laki-laki itu hanya diam, lagi-lagi dia tak sanggup untuk menjawab pertanyaan dari Alena.
"Gimana mas Alvan? ini adalah kesempatan terakhir kamu untuk menebus semuanya. Jadi sekarang tentukan lah langkah apa yang akan kamu ambil!" Alena menyeringai, ia mengetahui kalau lawan bicaranya mati kutu oleh setiap ucapan yang keluar dari mulutnya.
"Bisakah kamu meminta permintaan yang lain, Alena?" dengan ragu-ragu Alvan mengatakan kalimat itu.
"Ternyata kamu begitu mencintai dia ya?! aku baru tau!" Alena tersenyum mengejek.
Alvan masih berdiri terpaku di tempatnya tanpa bersuara sama sekali. Sepertinya hari ini ia kalah telak dari gadis itu. Gadis yang dulu pernah ia permainkan hati dan perasaannya.
"Lupakan lah semua yang pernah terjadi di antara kita, Alena. Kita bisa menjadi kakak dan adik jika kamu mau!" kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Alvan, hingga membuat wajah Alena merah padam karena amarah yang sudah memuncak.
"Enak sekali kamu ngomong kayak gitu setelah semua yamg kamu lakukan! Apa kamu kira aku nggak punya perasaan, sampai-sampai kamu seenaknya berbuat nggak adil sama aku?!" ucapan Alena sudah tak bisa di kontrol lagi. Hatinya sangat sakit mendengar ucapan yang baru saja di katakan Alvan.
__ADS_1
"Maaf Alena, aku nggak ada niat kayak gitu! Aku hanya ingin memperbaiki semuanya" balas Alvan tanpa merasa bersalah. Ia tak sadar kalau semua perkataannya sudah merobek-robek hati perempuan itu.
"Kalau kamu nggak bisa menyanggupi permintaanku, maka pergilah dari sini! nggak ada yang perlu kita bahas lagi!" Alena memalingkan wajahnya. Dia baru tau, kalau ternyata dirinya tak berarti apa-apa di mata Alvan. Dan hanya nama Namira lah yang ada di dalam hati pria itu.
Selama ini ia hanya di manfaatkan saja olehnya. Ia ingin berteriak dan memaki sepuas hati, tapi entah mengapa dia tak sanggup melakukannya.
Alvan begitu berarti dalam hidupnya, Tapi bagi Alvan malah sebaliknya. Alena bukanlah sesuatu yang berharga baginya. Dia hanya lah jalan pintas agar laki-laki itu bisa menggapai cintanya kembali.
"Kita nggak bisa begini terus, Alena!" ujar Alvan sedikit tak terima.
"Lalu menurut kamu aku harus gimana? memaafkan kamu begitu saja setelah semua yang sudah kamu perbuat?! begitu?"
"Alena.."
"Pergilah dari sini, aku mau istirahat!" Alena menutup seluruh badan dan juga wajahnya menggunakan selimut lalu berbalik badan, tidur menyamping membelakangi Alvan. Rasanya dia sudah tak sanggup untuk melanjutkan pembicaraan dengan pria itu lagi. Hatinya sudah terlanjur sakit dan itu tak akan mudah untuk di sembuhkan.
Melihat Alena yang seperti itu, Alvan menyerah. Sepertinya memang masalahnya dan Alena belum bisa terselesaikan hari ini. Dia tak mau memaksa Alena agar memaafkannya. Yang bisa ia lakukan hanya berusaha agar hati Alena bisa sedikit melunak terhadapnya, itu saja.
Alvan pun pergi dari ruangan itu dengan membawa perasaan bersalah yang masih belum mau pergi.
Semenjak hari itu, Alena jadi lebih banyak diam pada siapapun yang ia jumpai, Tak terkecuali Rafka dan juga Namira.
Kondisi kesehatan Alena beberapa hari ini mulai stabil, sehingga dia sudah di perbolehkan untuk pulang hari ini juga.
Di dalam mobil saat perjalanan menuju ke rumah, gadis itu pun hanya diam seribu bahasa. Meskipun kakak atau kakak iparnya mengajaknya bicara, ia hanya menanggapi dengan cara mengangguk atau menggelengkan kepala saja.
Ketika sampai di rumah, ia pun langsung masuk ke dalam kamarnya. Sepertinya ia tak mau di ganggu oleh siapapun saat ini.
__ADS_1
Rafka dan Namira hanya bisa memandangi kepergian gadis itu dengan perasaan tak menentu. Mereka tau kalau hati Alena pasti sangat terluka karena semua kenyataan yang baru-baru ini di ketahuinya. Kenyataan pahit yang tak mungkin bisa begitu saja sembuh dengan mudahnya.
"Apa Alena akan baik-baik saja, Raf? aku mencemaskan keadaannya!" ucap Namira sesaat ketika Alena hilang di balik pintu kamarnya.
"Dia akan baik-baik saja, Namira. Kamu nggak usah khawatir! Alena itu gadis yang kuat. Dia pasti bisa melewati semua ini dengan mudah"
"Aku harap juga begitu. Tapi apa kamu yakin Raf?"
"Aku yakin akan hal itu! Dia hanya butuh waktu untuk menyembuhkan luka di hatinya"
"Semoga saja itu benar"
Waktu menunjukkan pukul dua belas lebih sepuluh menit. Matahari mulai meninggi dan memancarkan cahayanya yang semakin terik pada hari ini.
Para asisten rumah tangga menyiapkan makanan di meja makan untuk majikan mereka dengan telaten dan tertata rapi.
Tak lama setelah itu Namira terlihat turun dari tangga. Tadi dia usai mengistirahatkan badannya sebentar di kamar setelah berhari-hari ini tak bisa tidur dengan nyenyak karena menunggui adik iparnya di rumah sakit bersama sang suami.
Sebenarnya Rafka sering meminta istrinya itu untuk pulang dan istirahat di rumah saja, tapi Namira menolak dengan alasan ingin berada di dekat Alena. Meskipun gadis itu selalu mengacuhkannya dan seperti menolak kehadirannya.
"Pak Rafka di mana bik Imas?" Tanya Namira pada salah satu asisten rumah tangganya yang baru saja selesai menghidangkan makanan di meja makan. Karena ia tak melihat keberadaan suaminya itu di sana.
"Saya lihat pak Rafka tadi ada di ruang kerjanya, non! apa mau saya panggilkan?" balas bik Imas.
"Nggak usah bik, biar saya aja yang manggil!"
"Baik non"
__ADS_1
Namira pun segera bangkit dari kursinya untuk memanggil Rafka.
Dia mengetuk pintu ruangan itu beberapa kali tapi tak ada jawaban dari sana. Dia pun masuk ke dalam ruangan itu untuk mencari keberadaan Rafka.