Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 71 Tertawa di atas penderitaan


__ADS_3

Namira membiarkan dirinya larut dalam kesedihan. Ia membiarkan saja air mata itu terus mengalir tanpa menghentikannya. Ia sama sekali tak paham dengan perasaannya sendiri, yang ia tau hanya lah ia menangis agar perasaannya jadi sedikit lebih lega. Cukup lama ia melakukan hal itu sampai ia tertidur.


Baru kali ini seorang Namira Azziva tidur tanpa berganti pakaian dan membersihkan diri terlebih dahulu dengan sengaja. Biasanya dia selalu menyempatkan untuk paling tidak membersihkan wajah dan juga memakai serangkaian skin care yang biasa ia gunakan.


Entah kenapa kali ini ia merasa tak ada semangat untuk melakukan itu semua, sehingga membuat Namira jadi seperti bukan dirinya yang seperti biasa.


* * *


Sementara itu di rumah Rafka..


Laki-laki itu baru keluar dari ruang kerjanya semenjak siang tadi, saat dia terakhir bertemu dengan Namira.


Untungnya sepulang dari rumah sakit tadi, ia sudah berpesan kepada asisten rumah tangganya untuk membawakan makanan untuk adiknya ke dalam kamar saja saat waktu makan tiba, karena sepertinya itu yang dia inginkan sekarang.


Jadi setidaknya ia tak perlu terlalu mencemaskan adik perempuannya itu karena sudah ada bik Imas dan bik Siti yang mengurusinya saat ia sedang merasa terpuruk seperti ini.


Entah apa yang di lakukan pria itu selama berjam-jam di ruang kerjanya, hanya ia sendiri yang tau. Mungkin dia hanya ingin menenangkan dirinya sejenak dari kesedihan yang sedang ia rasakan.


Rafka berjalan menaiki anak tangga untuk menuju ke dalam kamarnya dengan perasaan deg-degan. Ia tak tau apakah masih bisa berhadapan dengan Namira setelah semua yang di ucapkannya di ruang kerja tadi.


Ia membuka pintu kamarnya perlahan, berharap kalau istrinya itu sudah tertidur. Ia melongokkan kepalanya ke dalam kamar tapi tak menemukan keberadaan Namira di sana.


Hatinya pun mulai di liputi perasaan cemas. Dia mencari ke seluruh sisi ruangan, mulai dari kamar mandi dan ruang ganti tapi tetap tak menemukannya juga. Lalu di bukanya lemari yang ada di kamarnya itu dengan hati was-was. Ia berdoa di dalam hati agar apa yang ia takutkan tak benar-benar terjadi.

__ADS_1


Tapi di saat ia menemukan bahwa pakaian Namira sudah tidak ada di dalam sana, maka luntur lah sudah harapannya. Ia harus menelan kenyataan pahit kalau wanita yang ia cintai sudah pergi meninggalkan rumah ini.


Dia sama sekali tak menyangka kalau Namira akan pergi secepat itu. Ia kira masih bisa melihat wajah istrinya itu malam ini, tapi semua harapannya itu hanya lah isapan jempol belaka, yang tak akan bisa menjadi nyata.


Bahkan Namira tak mengucapkan kalimat perpisahan padanya tadi. Wanita itu pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.


Ia terduduk lemas di lantai dekat dengan lemari pakaian itu. Ia menyesali apa yang di ucapkannya tadi. Harusnya ia tak mengatakan hal itu lebih awal agar ia masih bisa melihat Namira berada di dekatnya.


Tapi semuanya sudah terlanjur terjadi. Ia tak bisa memutar waktu untuk mengulang semuanya. Yang hanya bisa di lakukannya hanya lah berdoa untuk kebahagiaan Namira, karena alasannya melepaskan wanita yang di cintainya itu adalah agar ia bisa bahagia tanpa terbelenggu oleh hubungan yang tak di inginkannya.


Dengan cepat Rafka melangkahkan kaki menuruni tangga. Ia harus memastikan kalau Namira berada di tempat yang aman sekarang.


Laki-laki berpawakan tinggi itu berjalan dengan tergesa menuju dapur untuk menemui kedua asisten rumah tangganya. Ia ingin bertanya kepada mereka tentang kepergian Namira yang tak ia ketahui, berharap akan menemukan titik terang dari jawaban mereka.


"Bik Imas, apakah bibik tau kalau Namira pergi dari sini?" Tanya Rafka pada salah satu asisten rumah tangganya yang ia lihat sedang mencuci piring.


"Namira perginya kapan bik?"


"Tadi siang den, sepertinya sehabis dari ruangan den Rafka itu"


"Apa? jadi dia nggak makan dulu tadi bik?"


"Setau saya sih nggak den, wong non Namira nya keliatan buru-buru sekali tadi!"

__ADS_1


"Ya udah kalo gitu, terima kasih informasinya bik"


"sama-sama den"


Rafka pun pergi dari dapur untuk menghubungi seseorang yang sudah sangat ia percaya. Ia menelpon laki-laki itu agar menyelidiki di mana keberadaan Namira dan memastikan kalau wanita itu dalam keadaan baik-baik saja.


Setelah berbicara lewat sambungan telepon dengan pria yang di percayanya untuk mencari keberadaan Namira itu, Rafka masih belum bisa tenang. Pria itu menyanggupi untuk memberikan informasi setelah kurang lebih dua jam ke depan dan Rafka akan terus menunggu.


Dalam waktu kurang dari dua jam laki-laki itu sudah menelpon,dia memberikan kabar kalau Namira sekarang sedang berada di butiknya. Dan itu membuat Rafka jadi bisa sedikit bernafas lega karena Namira baik-baik saja dan dia berada di tempat yang aman sekarang.


Tanpa sepengetahuan Rafka, Alena yang sedang berdiri di ujung tangga, mendengar semua percakapan kakaknya dengan seorang pria di dalam telpon.


Gadis itu baru tau kalau ternyata kakak iparnya itu sudah pergi dari rumah ini. Dia mencoba untuk tak perduli dan mengabaikan semua yang terjadi, karena di dalam hatinya masih ada rasa benci untuk Namira.


Ia tak perduli meskipun rumah tangga kakak dan kakak iparnya sedang berada di ujung tanduk sekali pun. Baginya akan lebih baik jika wanita itu pergi dari rumah dan tak akan pernah kembali lagi. Karena hatinya akan terasa sakit jika melihat wajah Namira.


Bila melihat wanita itu, Alena jadi teringat akan kebohongan laki-laki yang ia cintai yang ternyata hanya memanfaatkannya saja untuk kepentingannya sendiri.


Bahkan di dalam hati Alena bersyukur mendengar kabar bahwa kakak iparnya sudah pergi dari rumah. Ini seperti sebuah kabar baik yang ia dapatkan secara tak sengaja. Dan ia sangat senang akan hal itu.


Ia pun kembali ke kamarnya dengan senyum merekah, tertawa di atas penderitaan kakaknya.


Rafka kembali ke kamar dengan tak bersemangat. Kini ia harus merasa kesepian karena berada di kamar itu seorang diri.

__ADS_1


Ia memandangi ranjang tempat Namira biasa tidur. Kini ia tak bisa lagi melihat wanita itu di sana. Tak lama kemudian pandangannya tertuju pada meja rias yang sengaja ia letakkan di tempat itu khusus untuk istrinya. Biasanya Namira selalu bercermin dan merias diri di sana. Dan hal itu juga tak akan pernah bisa di lihatnya lagi.


Memori di otaknya seakan tak mau berhenti untuk mengingat terus kebiasaan-kebiasaan kecil yang biasa di lakukan Namira. Yang mana semua yang di lakukan wanita itu sangat menarik di matanya.


__ADS_2