Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 22 Cinta yang tak di restui


__ADS_3

"apa ?!" Alena seperti tak mempercayai kalimat yang di dengar dari mulut kakaknya, hingga ia ingin memastikan sekali lagi bahwa pendengarannya tidak salah.


"putuskan hubungan kamu dengan laki-laki itu, Alena!" Rafka mengulang kembali kalimatnya dan ucapannya kali ini berhasil membuat Alena sangat terkejut.


"tapi kenapa kak? kenapa tiba-tiba kak Rafka nggak menyetujui hubungan kami?" Alena tampak tak terima dengan perkataan kakaknya. Rasanya kepala Alena di penuhi dengan banyak tanda tanya besar sekarang.


"karena dia bukan pria yang baik. Dia sama sekali nggak pantas buat kamu!" tukas Rafka menggebu-gebu.


"maksudnya gimana kak? mas Alvan itu pria yang baik,dia juga sayang banget sama aku. pekerjaannya juga bagus. lalu apa lagi yang kurang kak?" Alena merasa benar-benar tak terima dengan penilaian buruk kakaknya.


Dia merasa keputusan yang di ambil kakaknya kali ini sangat tidak adil baginya. Dia tak habis pikir, bagaimana Rafka bisa berpikiran dangkal begitu. semudah itu menilai orang tanpa mengenalnya lebih dekat terlebih dahulu.


"kakak nggak suka sama dia Alena,kamu jangan tanya terlalu jauh lagi!" terdapat penekanan di setiap kata-kata yang di ucapkan Rafka.


"tapi kak,aku cinta sama dia. lagian kak Rafka ngomong gitu karena kakak belum terlalu mengenal kepribadian dia. kalo kakak udah kenal dia dengan baik, nggak mungkin menilainya seburuk itu!" tutur Alena penuh emosi, bahkan matanya sampai berkaca-kaca karenanya.


Kamu salah Alena, aku lebih mengenal laki-laki itu di banding kamu. Dia hanyalah seorang pria brengsek yang tega mengkhianati suatu hubungan demi mendapatkan kenikmatan sesaat saja. Dia adalah pria pengkhianat yang sudah menyakiti hati kakak iparmu, Namira.


Rafka hanya bisa berbicara dalam hati saja, tanpa bisa memberi tahu kenyataan yang sesungguhnya pada Alena. Sungguh ia tak mau menghancurkan perasaan adiknya dengan kenyataan pahit itu. kenyataan kalau Pria yang di cintainya hanya memanfaatkan dirinya saja untuk tujuan tertentu.


Ini adalah pertama kalinya Alena jatuh cinta. Rafka tak pernah mendapati kedekatan adiknya itu dengan lawan jenis sebelumnya. Jadi bagaimana mungkin Rafka setega itu melukai hati Alena dengan hal yang begitu menyakitkan.


Rafka begitu dilema dengan situasi ini. Di satu sisi, ia tak ingin adiknya menjadi korban kebusukan Alvan sedangkan di sisi lain ia tak mau kalau Alena sampai tau jika dirinya sedang di manfaatkan oleh orang yang di cintainya.


"nggak bisa Alena. kakak nggak akan pernah merestui hubungan kamu dengan dia!" ucap Rafka lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Aku nggak akan pernah ninggalin mas Alvan kak!" Alena sedikit memekik mengucapkan kalimat itu lalu dengan cepat berlari menuju kamarnya dan menutup pintu kamar itu dengan kencang.


Rafka mengusap wajahnya kasar. Ia bingung bagaimana cara memisahkan Alena dan Alvan. Dia tak ingin adiknya menyesal di kemudian hari karena kebohongan pria itu. Apalagi kalau sampai mengalami nasib yang sama dengan Namira. Membayangkan saja rasanya ia benar-benar tak tak sanggup.


Semenjak kecil, kakak beradik itu sangatlah dekat. Usia mereka hanya terpaut tiga tahun saja. Dan di saat usia mereka masih terbilang labil, mereka harus kehilangan sosok pelindung yaitu kedua orang tua mereka. Rafka pun semakin menyayangi Alena, karena dia adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki. Di tambah lagi dengan sikap Alena yang manja dan selalu bergantung padanya.


Suara deru mobil yang berhenti tepat di depan rumah membuyarkan lamunan Rafka. Dia mengintip dari balik tirai jendela melihat siapa yang datang. Ternyata yang ada di balik kemudi mobil itu adalah Namira.


Rafka buru-buru duduk di sofa ruang tamu lalu mengambil lembaran koran yang berada di kolong meja, kemudian mulai berakting membacanya. Tak tau kenapa kehidupan Rafka penuh dengan kepalsuan setelah mengenal wanita bernama Namira.


Pintu utama rumah itupun terbuka dan munculah wanita cantik berambut panjang yang wajahnya tampak lelah dengan sedikit peluh di keningnya.


"maaf aku pulangnya telat, butik ramai sekali hari ini" ujar Namira sembari duduk di sofa berhadapan dengan Rafka.


"hmm.. " Rafka hanya bergumam pendek menanggapi ucapan istrinya sambil terus fokus dengan lembaran koran yang di pegangnya.


"kenapa?" tanya Rafka sambil melongokkan kepalanya dari balik koran yang di bawanya yang hanya memperlihatkan sebagian wajahnya saja.


"koran kamu kebalik tuh!" ucap Namira sambil memberikan kode dengan menunjuk menggunakan matanya.


"apa?!" suara itu terdengar sedikit gugup dan panik.


"itu.." Namira kembali menunjuk, tapi kali ini dia menggunakan jari telunjuk.


"aku memang sengaja melakukan ini, untuk melatih penglihatan agar lebih fokus" Rafka mulai mencari alasan yang masuk akal menurutnya.

__ADS_1


"oh ya?? emangnya ada ya metode seperti itu? kok aku baru tau!?" seru Namira heran.


"ada lah,kamu aja yang kurang update! makanya banyak baca biar lebih banyak wawasan!" Rafka berkata sembari bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah tangga menuju kamarnya.


Namira pun tertawa kecil melihat kelakuan suaminya, seperti mendapatkan hiburan gratis di tengah keletihan yang ia rasakan. Bahkan setelah Rafka menghilang dari pandangannya pun ia masih saja tertawa.


Aduh.. kok bisa-bisanya aku melakukan tindakan bodoh seperti tadi. untungnya aku bisa nemuin alasan yang pas, kalo nggak pasti bakal lebih malu lagi. dasar bodoh!


Rafka memaki dirinya sendiri karena kecerobohan yang di lakukannya di depan Namira. Dengan segera ia masuk kamar lalu menutup pintunya dengan terburu-buru.


Tiba-tiba tenggorokan Namira terasa kering karena terlalu banyak tertawa. Ia pun berniat mengambil minuman di dalam kulkas yang berada di dapur untuk menghilangkan rasa hausnya.


"malam non Namira" sapa bik Imas yang sedang sibuk mencuci banyak peralatan bekas makan yang di bantu oleh satu asisten rumah tangga lainnya yaitu bik Siti. sedangkan bik Siti tampak menganggukkan kepalanya tanda hormat pada sang majikan baru.


"malam bik" balas Namira sembari membuka lemari es lalu mengambil air mineral dingin kemasan kecil di dalamnya, kemudian meneguknya hingga tersisa separuh.


"non Namira mau makan malam? biar bibik siapkan"


"makasih bik, tadi aku udah makan malam di luar kok"


"oh.. baik non"


"kok tumben cucian piringnya lebih banyak dari biasanya bik?" tanya Namira saat tak sengaja melihat ke arah tempat cuci piring yang penuh dengan peralatan bekas makan.


"iya non, hari ini non Alena minta di masakin menu yang lebih banyak dari biasanya, soalnya pacarnya mau datang makan malam di sini non" jelas bik imas.

__ADS_1


"jadi tadi pacar Alena kesini bik?" tanya Namira penasaran. Ia merasa tak enak karena melewatkan acara yang penting bagi adik iparnya. Meskipun dia tak mencintai Rafka,tapi dia tetep menghormati hubungan kekeluargaan yang terjalin di antara mereka.


__ADS_2