
Namira mengetuk pintu berwarna coklat tua itu beberapa kali,sampai terdengar sahutan dari dalam sana yang memintanya untuk masuk ke dalam.
Namira pun memutar kenop pintu dengan perasaan was-was lalu masuk ke dalamnya. Bagaimanapun juga ia adalah seorang wanita yang tenaganya pasti akan kalah jika di bandingkan dengan pria dan di ruangan ini hanya ada mereka berdua saja.
"Namira?! akhirnya kamu datang juga!" sambut Alvan saat tahu bahwa yang datang adalah mantan tunangannya. Dia bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati Namira.
"nggak usah basa-basi. langsung aja, kenapa kamu mempermainkan perasaan Alena?" Namira berkata dengan tatapan mata yang tajam seperti menguliti Alvan hidup-hidup.
"galak amat sih sayang. slow dikit dong. Apa kamu nggak kangen sama aku? padahal aku udah kangen banget loh sama kamu!" Alvan maju beberapa langkah akan memeluk Namira.
"dasar brengsek. kamu bener-bener nggak punya otak ya, tega mempermainkan perasaan perempuan!" Namira refleks mendorong Alvan dengan kuat sampai pria itu sedikit terhuyung ke belakang.
"aku nggak pernah mempermainkan perasaan kamu, sayang. dari dulu cintaku selalu tulus sama kamu" Alvan membenarkan posisinya hingga berdiri dengan tegap kembali di hadapan Namira.
"aku ke sini bukan untuk membahas tentang kita, hubungan kita sudah lama hancur dan kamu sendiri yang menghancurkannya. Tujuanku kemari ingin membicarakan masalah Alena" tutur Namira tegas.
"ternyata kamu perduli sekali dengan gadis naif itu" laki-laki di hadapannya itu tersenyum sinis, seperti meremehkan.
"apa maksud kamu? bukankah kamu mencintai Alena?!" Namira mulai memancing dengan sebuah pertanyaan.
"hahaha.. kamu salah sayang,aku nggak pernah mencintai dia. satu-satunya yang aku cintai hanyalah wanita yang ada di dalam foto itu!" Alvan menunjuk sebuah bingkai foto berukuran sedang yang ada di meja kerjanya, dan wanita dalam foto itu tak lain adalah Namira.
Namira tak menyangka kalau Alvan masih menyimpan foto dirinya. Foto itu adalah foto yang di ambil Alvan diam-diam lalu mencetaknya tanpa sepengetahuan Namira. Lalu memajang foto itu di meja kerjanya.
Dulu Namira pernah iseng mengerjai Alvan dengan menyembunyikan foto itu, sampai-sampai pria itu kelabakan mencarinya. Bahkan sampai meminta bantuan beberapa security kantor untuk ikut mencari agar foto itu cepat di temukan.
Dan pada akhirnya Namira memberikan foto itu kembali pada Alvan lalu minta maaf karena sudah membuatnya kerepotan. Alvan pun mau memaafkan,tapi dengan syarat Namira harus menemaninya seharian kemanapun laki-laki itu pergi. Itulah yang membuat Namira kapok dan tak mau mengulangi kesalahannya lagi.
__ADS_1
Namira menggelengkan kepalanya mengusir kenangan yang terlintas di kepalanya itu. Mencoba untuk fokus dengan tujuannya.
"kalo nggak mencintai Alena kenapa kamu mendekatinya?" Namira mencoba memastikan.
"karena itu adalah jalan pintas agar aku bisa ketemu lagi sama kamu, dan ternyata perhitunganku benar, akhirnya kamu sendiri yang datang padaku sekarang" Alvan tersenyum menyeringai. Dia merasa sangat puas karena rencananya berjalan mulus seperti yang ia inginkan.
"kamu jahat Alvan. kenapa kamu setega itu sama dia? perbuatan kamu itu sama sekali nggak adil buat Alena!" kalimat itu terdengar penuh emosi.
"takdir yang nggak adil sama aku. kamu mutusin hubungan kita gitu aja tanpa mau mendengar penjelasan dariku. Kamu tau Namira, hidupku selama ini tersiksa karena jauh dari kamu!" mata Alvan sampai berkaca-kaca mengatakannya.
"nggak ada yang perlu di bahas lagi tentang hubungan kita, karena aku sudah jadi milik orang lain sekarang" Namira membuang muka,tak ingin melihat wajah mantan tunangannya.
"aku tau kalau kamu nggak pernah mencintai dia, dan aku juga yakin di dalam hati kamu masih menyimpan perasaan untukku" Alvan menatap Namira dalam.
"stop Alvan. sudah ku bilang semuanya udah berakhir jadi jangan membahas yang tidak-tidak. Sekarang aku minta sama kamu, jauhi Alena, jangan pernah muncul di hadapannya lagi!" Namira kembali menegaskan perkataannya.
"apa? jangan gila kamu!"
"bukankah kamu juga masih mencintai aku, sayang? jadi apa salahnya kalau kita bersama?!" ucap Alvan dengan santainya yang membuat darah Namira terasa naik sampai ke ubun-ubun.
Gampang banget dia ngomong gitu! seenak jidatnya ngajak balikan tanpa merasa berdosa sedikit pun. Dia pikir aku bakalan mau apa?! oh .. tidak, jangan harap!!
"kamu tu pura-pura bodoh apa gimana sih? aku udah nikah, jadi sampai kapanpun kita nggak akan pernah bisa bersatu lagi" kesabaran Namira rasanya hampir habis menghadapi laki-laki itu.
"hmm.. kalo gitu aku punya syarat lain" tukas Alvan dengan entengnya.
"heh.. emangnya ini transaksi jual beli, pake tawar menawar segala!" Namira benar-benar tak habis pikir dengan perilaku Alvan.
__ADS_1
"ya terserah kalau nggak mau.aku juga akan tetap melanjutkan permainanku dengan adik ipar kamu itu" ancam Alvan.
"apa syaratnya?" Namira penasaran, apa yang di inginkan laki-laki itu darinya.
"kamu harus ngasih aku kesempatan buat membuktikan kalo aku nggak salah dan foto itu hanya hasil rekayasa orang lain saja"
Namira benar-benar bingung, langkah apa yang harus ia ambil. menerima penawaran Alvan beserta resikonya atau tidak menerima penawarannya tapi konsekuensinya harus mengorbankan perasaan Alena. Dia berpikir dengan keras agar mendapatkan solusi yang tepat sekarang ini.
"baiklah,tapi kamu harus janji harus melepaskan Alena setelah itu"
Alvan sangat senang mendengar keputusan Namira. Harapannya sangat besar agar hubungan mereka bisa jadi lebih baik setelah Namira mengetahui yang sebenarnya.
"oke. aku janji!" balas Alvan sambil tersenyum. Lalu tiba-tiba menarik tangan Namira menuju ke arah pintu.
"ih.. ngapain pake pegang-pegang gini sih? emangnya mau kemana?" Namira menarik tangannya lagi dari genggaman Alvan sambil berjalan mundur menjauhkan diri darinya.
"bukankah kamu setuju dengan syarat yang aku minta tadi?!" bukannya menjawab, laki-laki itu malah kembali bertanya.
"iya, kan bisa jelasin di sini aja, ngapain malah narik-narik aku ke tempat lain?"
"percuma kalo aku jelaskan lewat omongan aja. aku yakin tanpa bukti yang kuat kamu nggak akan semudah itu percaya"
Apa benar yang dia ucapkan, kalau dia punya bukti tentang masalah foto itu?! atau ini hanya akal-akalannya saja agar bisa jalan bareng lagi?!
"oke, tapi nggak pake pegang-pegang,aku bisa jalan sendiri!" seru Namira lalu berjalan cepat mendahului Alvan keluar dari ruangan itu.
Alvan tersenyum penuh arti. akhirnya hari yang di nantikannya tiba juga. Melihat Namira dari jarak yang dekat dan berinteraksi langsung dengannya adalah hal yang sangat di harapkan Alvan selama ini. Dia merasa puas karena usahanya tak sia-sia. Bahkan bisa di bilang berhasil dengan waktu yang sangat singkat.
__ADS_1