Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 43 Cinta yang rumit


__ADS_3

Setelah di pindahkan ke ruangan lain, Rafka dan Namira masuk ke dalam ruangan yang baru saja di tempati Alena. Sedangkan Alvan lebih memilih untuk menunggu di kursi yang ada di depan ruangan Alena karena merasa tak nyaman dengan situasi saat itu.


"Bagaimana keadaan kamu Alena?" tanya Namira di sertai dengan anggukan dari Rafka, pertanda bahwa ia juga memiliki pertanyaan yang sama. kekhawatiran masih terpancar jelas di matanya walaupun keadaan Alena sudah lebih baik dari sebelumnya.


"aku udah merasa lebih baik kak" suara gadis itu masih terdengar tak bertenaga.


"syukurlah, aku senang mendengarnya" balas Namira tersenyum lega mendengar jawaban dari adik iparnya.


"maaf udah membuat semua orang khawatir" ucap Alena terbata.


"udah.. kamu nggak usah mikir yang macam-macam Alena. Lebih baik kamu fokus saja sama kesehatan kamu, biar cepat sembuh" tutur Namira sambil menyentuh wajah Alena yang masih terlihat pucat.


"terima kasih kak Namira" balas Alena pelan lalu mengalihkan pandangan pada kakaknya yang sedari tadi hanya diam memandangi dari jauh saja tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.


"kak Rafka.. apa kakak nggak kangen sama aku?!" ucap Alena manja pada kakaknya.


Rafka masih diam saja tak menanggapi ucapan Alena, hanya matanya saja yang berbicara, di sana tergambar jelas kalau tatapan mata itu penuh dengan keharuan dan juga kerinduan yang mendalam.


"kenapa kak Rafka diam saja? apa kakak marah sama aku?" Alena mulai merengek seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.


"dasar bandel!! iya, kakak marah sama kamu. Kenapa kamu nggak dengerin omongan kakak sih? Kenapa kamu nyetir sendiri?! nggak minta antar pak Sugeng aja? bukankah kakak sudah melarangmu?! tapi tetap saja kamu lakukan!"omel Rafka panjang lebar mengekspresikan kekesalannya.


Sebenarnya bukan kekesalan, melainkan rasa khawatir yang besar untuk Alena. Ya, Rafka sangat mengkhawatirkan keselamatan Alena, sehingga ia berubah jadi seperti emak-emak cerewet yang mengomeli anaknya yang bandel dan susah di atur.


"maafin aku kak. aku janji akan selalu dengerin omongan kak Rafka dan nggak akan ngebantah lagi mulai sekarang" ucap Alena dengan wajah memelasnya.


"sudahlah, semua itu nggak penting lagi sekarang. yang penting kamu cepat sembuh dan nggak mengulangi kesalahan yang sama lagi!" ujar Rafka.

__ADS_1


Alena tersenyum mendengar ucapan dari kakaknya. Dia mengerti kalau kakaknya itu marah dan mengomel karena sangat sayang padanya dan dia teramat bersyukur akan hal itu.


Alena bersyukur masih ada yang menyayanginya di dunia ini. Dia juga sangat bersyukur karena Tuhan masih berbaik hati memberikan keselamatan yang seperti menjadi kehidupan kedua untuknya.


"kamu kenapa Alena, apa ada bagian yang sakit?!" tanya Namira melihat Alena seperti sedang gelisah.


"aku nggak pa pa kok kak"


"ya sudah, lebih baik kamu istirahat dulu Alena. Karena kata dokter, kamu masih belum boleh terlalu banyak bergerak" ucap Namira mengingatkan.


"iya kak Namira" balas Alena sambil memejamkan matanya sejenak, lalu membuka mata lagi.


"apa kamu menginginkan sesuatu Alena? apa kamu mau minum?" tanya Namira karena melihat Alena yang seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi tak di lakukan. Dia seperti menahan mulutnya untuk bersuara.


Bukannya menjawab, gadis itu malah celingukan melihat ke sana kemari seperti mencari sesuatu.


"dia ada di luar ruangan, Alena" ucap Namira menjawab pertanyaan Alena.


"bisa tolong panggilkan mas Alvan, kak? aku ingin bicara dengannya" ujar Alena bimbang.


Namira menoleh pada Rafka sebentar seperti sedang meminta persetujuan. Tapi laki-laki itu hanya diam saja tanpa ekspresi apapun yang bisa di baca istrinya.


Entah apa yang ada di dalam pikiran Rafka, tak ada satu orang pun yang tau, selain dirinya sendiri.


Sebenarnya di dalam hati, Rafka ingin melarang Alena menemui Alvan, tapi dia tak kuasa untuk mengatakannya. Karena adiknya itu terlihat sangat mencintai pria bernama Alvan itu, yang merupakan laki-laki yang sangat di bencinya.


Karena tak mendapatkan tanggapan dari Rafka, Namira pun memutuskan untuk menuruti permintaan Alena untuk bertemu dengan Alvan.

__ADS_1


"kamu tunggu sebentar, aku akan memanggilnya" ujar Namira kemudian berjalan keluar untuk memanggil orang yang di cari adik iparnya.


Suasana ruangan rawat Alena terasa hening saat Namira sudah keluar. Tak ada pembicaraan lagi antara kakak beradik itu. Mereka berdua diam membisu seperti larut dalam pikiran masing-masing.


Alena yang memikirkan nasib cintanya dengan Alvan, dan Rafka yang menyesalkan satu hal. Dia sangat menyesalkan kenapa adiknya harus mencintai laki-laki seperti Alvan yang jelas-jelas mencintai wanita lain, dan wanita itu adalah istrinya.


Kenapa dari sekian banyak lelaki di dunia ini kamu menjatuhkan hatimu pada Alvan?


Tidak adakah pilihan yang lain, Alena?!


Aku tidak mau, kamu merasakan hal yang sama sepertiku. Mencintai tanpa di cintai, karena rasanya sungguh sangat menyakitkan.


Cukup aku saja yang mengalami hal itu, Alena..


Rafka hanya bisa berbicara dalam hati, dia tidak akan bisa dan tak akan tega untuk mengatakannya langsung pada adiknya. Sebenarnya secara tak sengaja mereka memiliki nasib yang sama.


Rafka mencintai wanita yang tidak mencintainya dan juga Alena mencintai laki-laki yang juga tak mencintainya. Bahkan orang yang mereka cintai, sama-sama mencintai orang lain. Sungguh, kisah cinta mereka sangat rumit bagai benang kusut yang tak ada ujungnya.


Rafka tak tau bagaimana perasaan Alena dan apa jadinya jika ia tau kalau laki-laki yang di cintainya itu, mencintai kakak iparnya sendiri. Rafka benar-benar tak bisa membayangkannya.


Sedangkan di dalam pikiran Alena terus saja memikirkan cara bagaimana agar dia bisa bersama dengan Alvan lagi karena perasaannya sungguh dalam pada laki-laki itu.


Dia tidak mau merasakan sakit yang teramat sangat, seperti yang di rasakan nya kemarin, saat Alvan memutuskan hubungan dengan dirinya. Dia bertekad akan meraih hati Alvan kembali agar hubungan mereka bisa kembali seperti semula.


Alena merindukan kata-kata manis dari mulut Alvan, ia juga merindukan perhatian dan kenyamanan saat bersama dengan laki-laki itu. Ia ingin semua kembali seperti dulu lagi, saat Alvan masih ada di sisinya sebagai seorang kekasih.


Baru kali ini gadis itu merasakan perasaan yang begitu dalam pada seseorang. Dia tak pernah mengalami hal ini sebelumnya. Dan dia berjanji pada dirinya sendiri, akan memperjuangkan cintanya dan akan membuat Alvan kembali ke sisinya dengan cara apapun. meskipun cara itu sedikit gila..

__ADS_1


__ADS_2