Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 58 Kembalikan dia untukku


__ADS_3

Rafka meneruskan langkahnya untuk mencari keberadaan Alvan. Kali ini dia akan mencoba untuk mengesampingkan egonya untuk berdamai dengan laki-laki itu.


Kalau biasanya dia menggunakan emosi jika mengahadapi Alvan, maka sekarang akan di lakukannya dengan cara yang berbeda. Seperti yang di ucapkannya pada Namira tadi bahwa dia akan mencoba untuk bicara baik-baik pada Alvan sebagai seorang kakak yang memperjuangkan keinginan adiknya.


Rafka sempat berpikir apakah ia harus menuruti kemauan Alena yang akan semakin menjerumuskannya dalam kebohongan, karena meminta Alvan untuk berpura-pura baik padanya.


Tapi kalau ia tak menuruti permintaan Alena, maka bisa saja itu akan membahayakan bagi adiknya karena ia pasti akan terus memikirkan Alvan. Itu akan membuat pikirannya terbebani, dan akan sangat berpengaruh pada kesehatan Alena.


Rafka seperti berada dalam pilihan yang sulit. Ibarat maju salah, mundur pun salah. Tapi mau tak mau, dia harus mengambil pilihan yang kedua, yaitu mengutamakan keselamatan Alena di atas segalanya. Apapun akan ia lakukan untuk kesembuhan adiknya.


Rafka menyusuri lorong rumah sakit menuju kantin tempat ia dan Alvan tak sengaja bertemu tadi. Ia pikir laki laki-laki itu pasti masih ada di sana karena belum lama dia pergi dari tempat itu.


Setelah sampai di sana, ia pun langsung mencari Alvan di meja tempat mereka duduk tadi, tapi tak menemukan keberadaan pria itu di sana.


"permisi mbak, lihat cowok yang tadi makan di meja ini nggak?" tanya Rafka pada salah satu pelayan wanita yang sedang membersihkan meja tak jauh dari tempatnya berdiri.


"cowok yang tadi duduk di situ baru saja pergi pak, sekitar lima menit yang lalu" jelas pelayan wanita itu.


"oh.. oke mbak kalo gitu. Terima kasih infonya"


"sama-sama pak"


Rafka pun bergegas keluar dari kantin mencari Alvan kembali. Dia berpikir pasti laki-laki itu belum jauh dari sini.


*Kemana perginya Alvan? cepet banget ilangnya..


Kata pelayan tadi dia baru saja pergi, tapi ini kok nggak keliatan ya?!*


Rafka bermonolog dalam hati. Dia tetap melangkah ke manapun kakinya membawa untuk terus mencari Alvan.


Tiba-tiba saja dia terpikir untuk mencari di tempat parkir. Mungkin saja pria itu ada di sana, karena ia sudah mengelilingi hampir seluruh bagian rumah sakit tapi tetap tak menemukan keberadaannya.


Rafka lebih memilih berlari untuk sampai di parkiran agar bisa lebih cepat menemukan Alvan. Dia khawatir kalau pria itu sudah pergi dari tempat ini.

__ADS_1


Rafka mengelilingi beberapa mobil yang berjajar di parkiran itu, mulai dari ujung kanan sampai ujung kiri.


Di deretan terakhir, Rafka melihat mobil berwarna hitam metalik, mirip seperti mobil yang biasa di pakai oleh Alvan. Dia pun mendekati mobil itu, berharap kalau mobil itu benar-benar mobil milik Alvan dan agar bisa segera menemukan lelaki yang di carinya di sana.


Rupanya Dewi Fortuna sedang berpihak pada Rafka sekarang. Dia melihat Alvan yang sedang duduk di balik kursi kemudi mobil hitam metalik yang di lihatnya tadi.


Rafka mengetuk kaca mobil Alvan beberapa kali agar laki-laki itu keluar dari mobilnya. Tapi alih-alih keluar dari mobil, Alvan hanya menurunkan kaca mobilnya saja lalu memandang dengan tatapan tak suka ke arah Rafka.


"kurang kerjaan lo ngetuk-ngetuk kaca mobil gue?!" ujar Alvan sinis.


"bisa kita bicara sebentar, Alvan?" Rafka berucap dengan nada baik. Dia sama sekali tak ingin membuat keributan di tempat ini. Dia juga sudah berjanji pada Namira tadi, kalau akan berbicara baik-baik tanpa ada kekacauan seperti biasanya.


Alvan sampai terheran-heran, karena nada bicara Rafka tidak terdengar kasar seperti yang biasa ia dengar saat bertatap muka dengannya.


"mau ngomong apa? gue sibuk, nggak punya banyak waktu!" Alvan masih saja bersikap jutek.


"ini tentang Alena" jelas Rafka singkat.


"Alena? gue bukan siapa-siapanya Alena, jadi lo salah kalo ngomongin tentang dia, karena itu sama sekali bukan urusan gue!" balas Alvan acuh.


"aku ingin kita berdamai" ucap Rafka yang membuat Alvan membelalakkan matanya tak percaya. Apalagi Rafka mengubah panggilannya, yang biasanya pakai gue lo, sekarang jadi aku kamu.


"apa??" Alvan sampai turun dari mobilnya untuk memastikan apa yang di dengarnya salah atau tidak.


"kita akhiri saja perseteruan di antara kita, aku mau kita damai" Rafka mengulang kembali kalimatnya.


"apa gue nggak salah denger ya?!"


"aku mau kita bicara baik-baik tanpa emosi. nggak mungkin kita terus bersikap seperti anak kecil yang selalu ribut terus menerus"


Alvan terdiam sejenak, meresapi setiap kata yang keluar dari mulut Rafka. Dari situ dia bisa mengambil kesimpulan bahwa ada sesuatu yang penting yang akan di bicarakan oleh laki-laki di hadapannya itu. Dan dia akan mencoba untuk mengikuti permainan Rafka untuk mengetahui semua yang terjadi.


"lalu apa maumu?!" Alvan mulai melancarkan aksinya.

__ADS_1


"aku ingin kamu membantu Alena untuk sembuh"


"gimana caranya? aku bukan dokter!"


"aku tau. Kamu hanya perlu menemani Alena sampai dia benar-benar sembuh"


"tapi aku nggak bisa berpura-pura lagi di depan Alena, aku nggak mau mengulang kesalahan yang sama seperti dulu"


"tapi ini demi kesehatan Alena. Dokter bilang kalau dia nggak boleh terbebani dengan pikiran yang berat karena itu akan mempengaruhi kondisi kesehatannya"


"terus apa hubungannya sama aku?" Alvan belum mengerti dengan arah ucapan Rafka.


"Alena sangat mengharapkan kehadiranmu di sisinya, Van. Kalau keinginannya nggak di turuti, aku takut itu akan jadi beban pikiran buat dia. Dan akan membuat kondisinya memburuk lagi. Aku nggak mau kalau itu sampai terjadi"


Alvan memikirkan ucapan Rafka. Dia bimbang apakah harus mengikuti permintaan laki-laki itu atau tidak. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak memanfaatkan Alena lagi seperti dulu. Tapi sekarang, kakak kandungnya sendiri yang memintanya untuk melakukan kepura-puraan itu lagi.


"aku memohon padamu sebagai seorang kakak yang nyawa adiknya sedang dalam bahaya" Rafka berusaha untuk meyakinkan Alvan dengan ucapannya.


*apa yang harus aku lakukan? apa aku harus melakukan kesalahan yang sama seperti dulu dengan berpura-pura pada Alena?!


Ah.. tapi aku nggak bisa..*


"aku nggak bisa Raf" ucap Alvan setelah berpikir beberapa saat.


"aku mohon pikirkan lagi Van! aku nggak minta kamu untuk mencintainya. Aku hanya minta kamu untuk mendampinginya saja"


Alvan terdiam sejenak, seperti merencanakan sesuatu di dalam otaknya.


"oke, tapi hanya sampai Alena keluar dari rumah sakit, setelah itu semua selesai"


"oke"


"tapi aku nggak mau melakukannya secara cuma-cuma. Aku ingin minta imbalan untuk itu"

__ADS_1


"katakan, apa yang kamu inginkan?"


"kembalikan Namira. Kembalikan dia untukku.."


__ADS_2