
Namira dan Rafka menaiki lift menuju lantai paling atas lalu berjalan menyusuri lorong hotel, mencari kamar yang sudah di siapkan untuk mereka.
Tidak seperti saat di depan orang-orang tadi,kini sepasang suami istri itu berjalan sendiri-sendiri tanpa bergandengan tangan. Namira berjalan di depan mendahului Rafka sambil sibuk menenteng ujung gaunnya yang panjang menjuntai, karena kalau di biarkan saja akan menggangu langkahnya.
Setelah mencari-cari akhirnya mereka bisa menemukan juga kamar nomor 222. Namira mengetukkan card lock pada kotak sensor yang ada di dekat gagang pintu. setelah lampu sensor berwarna hijau dan mengeluarkan bunyi khusus, ia pun membuka pintu kamar dengan perlahan.
Setelah pintu terbuka lebar, sepasang pengantin itu melihat pemandangan yang membuat mereka membelalakkan mata. Kamar presidential suite room yang mereka masuki sudah di hias dengan bunga-bunga nan cantik memenuhi ruangan.
Jendela full kaca berukuran besar dengan pemandangan yang menghadap ke taman hotel di sertai dengan balkon sebagai pelengkapnya.
Tak ketinggalan bunga mawar merah dan putih yang bertaburan di atas tempat tidur berukuran king size di sudut ruangan membuat suasana jadi lebih romantis.
Jika mereka adalah pasangan yang saling mencintai, maka suasana seperti ini pasti akan membuat mereka berbunga-bunga dan bahkan terhanyut dalam indahnya cinta.
Tapi sayangnya, hal itu tidak berlaku untuk Namira dan Rafka. Mereka adalah pasangan yang terpaksa menjalani pernikahan ini karena keadaan. Dan tak ada satu orang pun yang mengetahui isi hati mereka saat ini.
Namira menutup pintu kamar lalu mulai menjelajahi kamarnya. Dia membuka lemari besar yang berada ada tak jauh dari tempat tidur,lalu membukanya.
Bola mata Namira sampai hampir lepas dari kelopaknya, saking terkejutnya dia karena melihat isi yang ada di dalam lemari itu. Sebuah lingerie seksi berwarna merah menyala tergantung manis di hanger baju. Dan yang lebih parahnya, lingerie itu adalah satu-satunya baju yang ada di sana.
Namira tak kehabisan akal, ia mulai mencari-cari di bagian lain yang ada di lemari besar itu,tapi hasilnya nihil. Dia tak menemukan apapun di sana kecuali pakaian haram tadi.
Gimana bisa lemari sebesar ini isinya cuma satu baju aja, itu pun baju yang nggak layak pakai kayak gitu.
__ADS_1
Ah.. aku tau, ini pasti kerjaan mama. pasti mama yang sudah ngerencanain ini semua.
Aduh.. aku harus gimana sekarang? mana badan udah gerah banget, pengen cepet-cepet ganti. tapi adanya cuma pakaian yang kurang bahan begitu. masa iya aku harus make yang begituan??
ih.. mamaa.. nyebelin banget sih!!
Cukup lama Namira memandangi baju itu,tapi tak menemukan solusinya juga. Dia bingung harus melakukannya apa. tetap memakai gaun pengantin yang super ribet dengan resiko kegerahan sepanjang malam. Atau mengganti gaunnya dengan lingerie yang ada di lemari tapi dengan resiko menahan malu di hadapan Rafka.
"kamu ngapain bengong di situ terus?" Rafka membuka suara melihat Namira yang sedari tadi hanya berdiri di tempat yang sama sambil memandangi lemari tanpa henti.
"emm.. nggak ngapa-ngapain kok, lemarinya bagus!" Namira sedikit tersentak mendengar ucapan Rafka, sampai-sampai menjawab asal pertanyaan laki-laki itu.
Rafka menautkan kedua alisnya, heran mendengar ucapan yang keluar dari mulut Namira.
"udah ah, aku mau mandi" Namira melangkah dengan cepat menuju kamar mandi untuk menghindari obrolan terlalu lama dengan Rafka.
Namira agak kesusahan melepas gaun pernikahan yang masih ia pakai karena modelnya yang melebar dan panjang. Beratnya pun lumayan juga. Jadi lah Namira repot sendiri dengan gaunnya di kamar mandi.
Cukup lama wanita itu berada di kamar mandi, bahkan sampai hampir satu jam lebih dia berada di dalam sana. Dia lama bukan karena luluran, berendam atau yang lain. melainkan gara-gara memikirkan baju apa yang harus ia pakai selepas mandi.
Setelah lama berpikir, akhirnya Namira putuskan untuk kembali memakai gaun yang di pakainya tadi saja. Lagi pula dirinya juga sudah merasa bosan berada di dalam ruangan yang dingin itu sejak tadi.
Dia membuka pelan pintu kamar mandi lalu melongokkan kepalanya ke segala penjuru, mencari keberadaan Rafka. Rupanya laki-laki itu sedang duduk di kursi balkon sambil merenung, entah memikirkan apa.
__ADS_1
Namira pun memanfaatkan kesempatan itu untuk segera berlari ke tempat tidur lalu berbaring dengan menutupi tubuhnya menggunakan selimut tebal yang tersedia.
Dia melakukan itu agar tidak terlihat oleh Rafka kalau dia tak mengganti pakaian.
Dia melakukan itu bukan karena apa-apa, Namira hanya merasa malas saja untuk menjawab pertanyaan yang mungkin akan di lontarkan kepadanya. Selain itu, sekarang juga sudah larut malam. Namira ingin langsung tidur saja untuk mengistirahatkan badannya yang terasa sangat lelah, setelah mengikuti serangkaian acara yang di lakukan seharian ini.
Telinga Namira yang masih dalam mode standby, menangkap suara seseorang yang menggeser pelan pintu penghubung antara kamar dan balkon. Namira pun dengan cepat memejamkan mata berpura-pura untuk tidur.
Langkah kaki itu semakin mendekat ke arah Namira, lalu berhenti sebentar di sana. Setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Namira membuka matanya setelah kepergian Rafka. untunglah pria itu tidak curiga dan menganggapnya benar-benar tertidur.
Tak berselang lama,terdengar suara shower yang di matikan dari dalam kamar mandi. Sepertinya Rafka sudah selesai dengan ritual mandinya. Namira pun kembali pura-pura tidur sebelum laki-laki itu keluar dan melihat dirinya.
Rafka membuka pintu lemari yang tadi di buka oleh istrinya, berniat untuk mencari baju ganti untuk di pakainya tidur. Tetapi dia tampak terkejut saat melihat isi dari lemari tersebut. Yang ada di sana hanya ada satu pakaian kurang bahan saja. Dia pun menutup pintu lemari itu dengan dada yang berdegup kencang.
Sebagai lelaki normal,tentu pikirannya akan traveling ke mana-mana bila melihat pakaian yang seperti itu. Apalagi ada perempuan cantik yang sudah halal baginya sedang berbaring lelap di sana, di tambah suasana temaram dan aroma wangi di kamar ini, benar-benar membuat otaknya jadi kacau dan berpikiran yang tidak-tidak.
Rafka cepat-cepat menutup pintu lemari itu,lalu menggeleng dengan cepat seakan berusaha menghilangkan pikiran kotor yang mulai bermunculan di kepala.
Rafka sungguh menyesal membuka lemari itu, bukannya mendapatkan yang ia cari, justru ia melihat penampakan yang lebih mengerikan dari pada hantu.
Rafka takut kalau selembar pakaian tipis itu akan menghilangkan akal sehatnya. Dan membuatnya melakukan perbuatan yang negatif. Sebenarnya bukan hal negatif juga. karena mereka berdua sudah sah sebagai suami istri dan itu malah akan jadi ladang pahala untuk mereka.
__ADS_1
Rafka mulai berperang batin. Haruskah ia melakukannya malam ini tapi dengan resiko kemarahan Namira padanya. Atau dia harus menahan hasrat itu dan langsung tidur saja meskipun dengan perasaan tersiksa.