Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 54 Seribu Cara


__ADS_3

Namira membuka mata dan mengucek-ucek matanya beberapa kali. Di lihatnya matahari sudah bersinar terang hingga menembus melalui celah gorden kamar.


Namira tersentak dan duduk seketika. Dia melihat jam alarm yang di pasangnya sudah terlewat. Dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul delapan lebih sepuluh menit sekarang.


*ya ampun.. kenapa bisa kesiangan begini sih? padahal tadi udah pasang alarm, tapi tetep nggak denger juga.


Sebenarnya aku ini tidur apa pingsan sih? kok ya sampe segitunya..


Mana udah siang banget lagi, tapi kenapa Rafka belum ngabarin aku tentang keadaan Alena ya?!*


Namira berbicara dalam hati. Dia mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja tak jauh darinya, lalu mulai memeriksa histori di dalam ponsel itu.


Namira melihat beberapa panggilan yang terabaikan dari Rafka. Namira merutuki dirinya sendiri kenapa bisa tak mendengar ponselnya yang berdering. padahal mungkin saja ada kabar penting dari Rafka.


Namira berinisiatif untuk menelpon balik suaminya itu. Beberapa deringan, telpon dari Namira pun terangkat.


"Halo Rafka, maaf aku tadi tidur jadi nggak denger telpon dari kamu"


"oh.. iya. nggak pa pa Namira. Kamu pasti kecapekan karena kemarin hampir seharian di rumah sakit"


"sekarang udah nggak capek kok, kamu tuh yang butuh istirahat, kan udah di situ selama berhari-hari"


"kalo aku sih nggak masalah meskipun harus begadang tiap hari juga"


"ih.. sok kuat banget"


"kamu memang belum tau aja gimana kuatnya aku Namira"


Hening.. dua anak manusia itu larut dalam pikiran masing-masing. Otak Namira traveling kemana-mana setelah mendengar perkataan dari Rafka. Begitu juga Rafka yang menyadari arti ambigu dari ucapannya itu.

__ADS_1


Selama menikah, memang Rafka tak pernah sedikit pun menyentuh Namira sebagai suaminya, itu karena kemauan istrinya sendiri. Dan itu juga sudah menjadi komitmen di antara mereka sebelum pernikahan di langsungkan.


Dulu Rafka memang bisa melewati semua peraturan dari istrinya itu dengan mudah, karena memang belum ada cinta di hatinya untuk Namira. Tapi sekarang semuanya berbeda. Rafka sudah mulai menyimpan perasaan cinta pada istrinya itu. Dia tak tau apakah bisa menahan rasa itu jika mereka sedang berdua saja di dalam kamar.


"oh.. iya kamu tadi telpon mau ngasih kabar tentang Alena kan?! gimana keadaannya sekarang? apa udah boleh di jenguk?" tanya Namira mencoba untuk mencairkan obrolan yang mulai terasa canggung.


"iya Namira. Alena sudah sadar dan sudah di pindahkan ke ruang rawat biasa. Dan juga sudah bisa di jenguk" jelas Rafka sedikit kikuk.


"benarkah?? oh.. terima kasih Tuhan. kalo gitu aku sebentar lagi akan ke sana Raf, mau mandi dulu sebentar"


"kalo kamu masih capek, istirahat di rumah dulu nggak pa pa Namira, nanti ke sininya agak sorean aja"


"kan udah aku bilang kalo aku udah nggak capek. ya udah aku mandi sekarang habis itu langsung meluncur ke sana. Bye Rafka.."


Namira mengakhiri panggilannya sepihak. Rasanya ia tak sabar untuk segera melihat kondisi adik iparnya itu.


Dengan penuh semangat Namira membuka aktivitas paginya dengan mandi terlebih dahulu. Setelah itu di lanjut dengan memakai make up tipis-tipis di wajah, kemudian bersiap-siap pergi ke rumah sakit untuk menemui Alena.


"iya Raf, ada apa?" ucap Namira sambil menempelkan handphone di telinga kirinya.


"ini aku Namira. aku Alvan bukan Rafka" laki-laki yang awalnya menelpon dengan penuh semangat itu, seperti layu seketika saat mendengar ucapan Namira. Hatinya terasa sakit saat wanita yang ia cintai menyebut nama pria lain saat berbicara dengannya.


"oh.. kamu Alvan!? maaf aku kira Rafka, soalnya tadi dia yang nelpon. Dan aku juga nggak liat layar handphone tadi, langsung main angkat aja, jadi nggak tau kalo itu kamu" jelas Namira sedikit merasa tak enak hati karena salah menyebut nama.


"nggak masalah Namira.oh iya, kamu mau kemana hari ini? biar aku antar!" ujar Alvan mencoba untuk bicara senormal mungkin, menutupi kekalutan di hati cuma gara-gara Namira salah menyebut nama Rafka. Padahal jelas-jelas itu hanya karena kesalahan teknis saja.


Ia sendiri juga tak mengerti, bagaimana bisa hatinya merasa sakit hanya karena masalah sepele seperti itu. Hal ini sungguh di luar kendalinya.


"nggak usah repot-repot Van, aku mau nyetir sendiri aja ke rumah sakit. Kata Rafka tadi, Alena udah sadar dan udah bisa di jenguk" ujar Namira sambil meneruskan langkahnya kembali setelah terhenti beberapa saat tadi.

__ADS_1


"jangan nyetir sendiri Namira, kamu nanti bisa kecapekan. Lagian percuma juga kamu nyetir sendiri, karena mobil kamu nggak akan bisa keluar karena terhalang mobil lain" perkataan Alvan itu membuat Namira tak mengerti.


"maksud kamu apa Alvan? jangan bercanda pagi-pagi gini!"


"kamu keluar rumah aja Namira, nanti juga tau sendiri jawabannya"


Wanita yang sudah tampak sempurna itupun keluar rumah mengikuti perkataan Alvan. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat mobil Alvan yang terparkir tepat di depan garasi mobil. Dengan posisi seperti itu maka akan sangat mustahil mobilnya bisa keluar dari dalam garasi.


Namira mematikan telpon lalu berjalan mendekati mobil Alvan dengan mode siap menerkam. Dia merasa kesal dengan tingkah Alvan yang mengerjainya seperti itu. Di ketuk nya kaca mobil laki-laki itu dengan keras agar si empunya mobil membukanya.


Kaca mobil mewah itu pun terbuka. Tampak Seorang pria yang sedang tersenyum manis ke arah Namira. Pria itu tak lain adalah Alvan.


"kamu tuh apa-apaan sih Alvan, pagi-pagi gini udah bikin gara-gara!" semprot Namira dengan penuh emosi.


"aku sama sekali nggak bermaksud gitu kok Namira, aku kan cuma mau nganter kamu aja" balas Alvan yang membuat Namira semakin kesal.


"nggak, aku mau nyetir sendiri aja! minggirin nggak mobilnya!!"


"nggak bisa Namira. Mobil ini cuma bisa jalan kalo kamu udah naik ke dalamnya"


"iihh.. Alvan!! ngeselin banget sih kamu!" geram Namira.


*Maaf Namira karena udah buat kamu kesal. Tapi hanya inilah caranya agar aku bisa selalu dekat dengan kamu..


Aku akan melakukan apapun untuk bisa selalu berada di sisimu..


Dan aku masih punya seribu cara untuk mewujudkannya..*


Akhirnya Namira pun menyerah. Dia naik ke mobil Alvan dengan pertimbangan matang. Menurutnya akan membuang-buang waktu jika terus berdebat dengan Alvan yang pasti punya banyak alasan untuk menyanggah omongannya.

__ADS_1


Alvan tersenyum puas dengan hasil yang ia dapat. Semua cara yang di lakukannya selalu berhasil untuk mendapatkan keinginannya. Dia pun optimis akan bisa secepatnya mendapatkan Namira kembali dengan caranya sendiri.


__ADS_2