
"jangan bercanda deh! gimana bisa kamu mau nikahi seorang perempuan, kalo kamu nggak mengenalnya?" Namira tak habis pikir dengan yang di ucapkan Rafka. menurutnya itu hanya kebohongan yang di buat-buat saja.
"siapa bilang aku nggak mengenalnya?! aku sangat mengenal perempuan itu" perkataan Rafka semakin membuat Namira kesal.
Gimana bisa dia bilang begitu? orang ketemu aja baru tadi. sok akrab banget sih ni cowok! ciri-ciri lelaki buaya darat pasti, kalo kayak gini kelakuan nya.
"jangan sok akrab! aku sama sekali nggak pernah mengenal orang kayak kamu" ujar Namira nyolot.
"kamu salah Namira" Rafka menyebut nama itu seakan sudah sangat mengenalnya.
Ih.. pake manggil-manggil namaku,kayak sok kenal aja. dasar aneh!!
Terus, kalo dia tetep nggak mau batalin pernikahannya gimana?.
oh iya,aku ada ide,aku harus buat kesepakatan yang tidak akan merugikanku jika kami benar-benar terpaksa harus menikah nanti.
Kalau di gambarkan, seperti muncul bohlam lampu yang menyala terang di kepala Namira seperti dalam film animasi. Ia memiliki ide yang cukup brilian dan juga sangat menguntungkan baginya.
"udah deh nggak usah bertele-tele. Kita harus membuat kesepakatan sebelum menikah. Karena aku sama sekali nggak ada perasaan sama kamu, dan kamu pasti juga sama kan?" Namira mulai melancarkan aksinya.
Rafka hanya diam saja mendengarkan perkataan Namira. Dia ingin tau,apa yang akan di ucapkan perempuan itu dari mulutnya.
"heh.. aku lagi ngomong sama kamu, kok malah di cuekin!" Namira tampak marah.
"aku dengar semua yang kamu bilang"
__ADS_1
"kalo emang udah nggak ada cara buat batalin rencana pernikahan ini,aku mau kita buat perjanjian pranikah"
"maksud kamu?"
"kita akan buat kesepakatan bersama. kalo nikah nanti, nggak boleh saling mencampuri urusan pribadi. Dan juga nggak boleh melarang apa pun yang di lakukan oleh masing-masing pihak" Namira menjelaskan semua yang ia mau dengan gamblang.
"lalu?" Rafka masih penasaran,apa yang akan di katakan oleh perempuan itu selanjutnya.
"nggak ada kontak fisik, karena pernikahan di antara kita cuma status aja. Dan kalo udah menemukan waktu yang pas, kita akan secepatnya berpisah, lalu melanjutkan hidup masing-masing tanpa saling mengenal lagi" tambah Namira dengan penuh keyakinan.
Tak tau kenapa, Rafka merasa ada yang tercubit di hatinya mendengar ucapan Namira. Sebegitu tidak menginginkannya pernikahan itu sampai-sampai belum terjadi pun, perempuan di hadapannya itu sudah merencanakan perceraian di antara mereka.
"gimana? kamu setuju kan?!" Namira berkata dengan penuh semangat, seakan semua yang terucap dari mulutnya tadi adalah harta karun yang sangat berharga untuknya.
"terserah kamu saja. lagi pula aku mau menikahimu karena hanya menghargai kemauan om Pram, cuma itu" Balas Rafka tegas.
Namira berpikir, meskipun dia tidak bisa menggagalkan pernikahan itu, tapi setidaknya dia tidak akan selamanya terbelenggu dalam ikatan tanpa cinta, karena jika waktunya sudah tiba,dia akan bisa terlepas dari ikatan yang menyesakkan itu.
Sedangkan Rafka. Ia nampak bimbang dengan situasi yang sedang di hadapinya. Sungguh tak ada sedikitpun niat di hatinya untuk mempermainkan ikatan suci yang di sebut pernikahan.
Tapi dia tak bisa melakukan apa-apa, karena itu adalah keinginan pak Pramana, seseorang yang sangat berjasa dalam hidupnya. Di sisi lain, Rafka juga memiliki tujuan tersembunyi di dalam pernikahan itu. dan hanya dia dan tuhan lah yang tau apa yang di rencanakannya.
Rafka beranjak menuju kasir untuk membayar makanan yang ia pesan tadi, sekaligus membayar pesanan Namira. Setelah selesai dia berjalan menuju pintu keluar. Melihat itu, Namira pun melakukan hal yang sama. Dia menggeser kursi yang ia duduki pelan kemudian beranjak ke tempat pembayaran.
"berapa total tagihan menu yang saya pesan tadi mbak?" Tanya Namira pada petugas di balik mesin kasir itu. Dia berniat akan membayar makanan yang di pesannya.
__ADS_1
"maaf kak, semua tagihannya sudah di bayar sama mas itu" kasir wanita itu menunjuk ke arah Rafka. Namira pun mempercepat langkahnya untuk menyusul pria itu.
"ngapain di bayar sih?! aku bisa bayar sendiri. nih aku ganti!" Namira menyodorkan beberapa lembar uang merah pada Rafka dengan sombongnya, tapi laki-laki itu tidak menggubrisnya sama sekali. Dia berjalan keluar dari kantin tanpa menoleh pada Namira yang sedang meneriakinya.
"kamu tu punya telinga apa nggak sih? di panggil-panggil dari tadi nggak denger!!" Namira ngomel-ngomel sendiri setelah langkahnya sejajar dengan Rafka. Dia sampai sedikit berlari untuk menyusul langkah pria itu.
Namira merasa terabaikan, karena Rafka hanya mendiamkannya tanpa sedikit pun menanggapi. Akhirnya di masukkannya uang yang di ambil tadi di dalam dompet karena ia tau kalau usahanya tak akan membuahkan hasil dan hanya membuang-buang waktu saja.
Kalo nggak mau ya udah!! biar aku kasih ke yang mau aja! dasar laki-laki belagu..
Namira terus menggerutu di dalam hati memaki pria yang sedang berjalan di sampingnya. Rasanya kekesalannya makin bertambah semakin lama berada di dekat laki-laki itu, tak tau apa sebabnya.
Di saat Namira sibuk dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba saja Rafka berlari menuju ke depan ruangan yang di atas pintunya terdapat sebuah papan tanda bertuliskan poli kandungan.
Di depan pintu ruangan itu tampak seorang ibu hamil dengan perut membesar yang tak sengaja menjatuhkan map yang ia pegang, dan di dalam map itu berisi lembar-lembar dokumen untuk melakukan pemeriksaan miliknya. Alhasil kertas-kertas itu pun berserakan kemana-mana.
Ibu-ibu yang sedang hamil tadi terlihat kerepotan mengumpulkan berkas yang berserakan itu karena perutnya yang membuncit,jadi membuatnya susah untuk berjongkok. Dan tampaknya dia sedang sendirian karena tak ada siapapun yang mendampinginya.
Di saat seperti itu, Rafka datang membantu memunguti berkas yang berserakan di lantai milik ibu hamil tadi. kemudian menyerahkan berkas itu pada pemiliknya setelah semuanya terkumpul.
Wanita yang sedang hamil besar itu pun tampak mengembangkan senyum berterima kasih kepada laki-laki yang telah menolongnya,lalu bergegas masuk ke dalam poli kandungan. seperti terburu-buru karena namanya sudah di panggil sejak tadi.
Namira sampai membelalakkan matanya melihat kejadian yang terjadi di hadapannya. Ia sama sekali tak menyangka kalau pria yang di anggapnya menyebalkan itu bisa begitu perduli dengan orang lain hingga mau menolongnya.
Sungguh Namira tak menyangka kalau seorang seperti Rafka bisa melakukan hal mulia seperti itu.
__ADS_1
Seusai membantu wanita hamil tadi, Rafka melanjutkan langkahnya menuju ruang rawat pak Pramana. Namira yang sempat melongo, tersadar dari lamunannya lalu berjalan kembali mengikuti Rafka
Rafka langsung masuk ke dalam ruang rawat pak Pramana,tanpa menunggu Namira yang sedang mempercepat langkahnya menuju ruangan itu juga.