
Namira menyeret tangan Rafka sampai keluar dari ruang rawat Alena. Anehnya laki-laki itu menurut saja, mengikuti kemana arah kaki Namira melangkah. Seperti seekor kucing yang menurut pada tuannya.
Sepasang suami istri itu pun sampai di taman rumah sakit, tempat yang menurut Namira pas untuk membicarakan hal yang penting seperti sekarang ini.
Tadi dia hanya beralasan saja pada adik iparnya akan pergi ke kantin. Menurutnya tempat itu kurang cocok untuk tempat mengobrol, karena suasananya yang terlalu ramai dan banyak orang di dalamnya.
Namira duduk di salah satu bangku taman di bawah pohon yang rindang. Dan Rafka pun melakukan hal yang sama.
"Apa kamu ada masalah Raf?" tanya Namira sambil menelisik wajah laki-laki yang duduk di sebelahnya.
"nggak ada masalah apa-apa kok, kenapa kamu tanya kayak gitu?" ujar Rafka dengan wajah kebingungan.
"kamu sadar nggak kalo dari tadi ngelamun terus kayak orang kesambet!?" ucap Namira bersungut-sungut.
"oh ya?! perasaan aku nggak kayak gitu!" elak Rafka tak mau mengaku.
"mana ada orang yang ngelamun sadar kalo dirinya ngelamun?! kamu ada masalah apa sih sebenarnya?" Namira terus saja mendesak suaminya untuk menjelaskan apa yang terjadi.
"nggak ada masalah apa-apa Namira" Rafka terpaksa harus berbohong. Tak mungkin dia menceritakan yang sebenarnya pada istrinya itu.
Namira menarik nafas dalam-dalam untuk mencoba tenang dan menetralkan hati. Dia harus menghadapi semua ini dengan pikiran yang jernih agar tak salah mengambil langkah.
"ya udah kalo kamu nggak mau cerita, aku nggak akan maksa" Namira menyerah juga pada akhirnya. Dia berpikir akan percuma saja terus mendesak Rafka, kalau dia teguh dengan pendiriannya yang tak mau membuka mulut itu.
Rafka tak menanggapi ucapan Namira. Sebenarnya bukan bermaksud tak menanggapi, tapi dia bingung harus bagaimana membalas ucapan Namira.
Dia bukanlah seorang pria yang terbiasa berbohong untuk menutupi sesuatu. Tapi kali ini terpaksa harus ia lakukan karena benar-benar tak sanggup untuk menjelaskan semua yang terjadi pada Namira.
__ADS_1
Perasaannya terasa campur aduk. Antara bahagia karena Namira perhatian padanya tapi juga sedih karena sebentar lagi dia akan melepaskan wanita yang sudah bertahta di hatinya itu.
Kebimbangan masih saja melingkupi dirinya. Tapi dia tetap meneguhkan hati untuk tetap menepati janjinya pada Alvan untuk melepaskan Namira karena ia menginginkan kebahagiaan untuknya. Dan kebahagiaan itu tak pernah bisa ia berikan.
Namira memukul keras bahu Rafka sampai laki-laki itu meringis kesakitan karena merasa kesal dengan suaminya itu. Dia merasa kalau Rafka sibuk dengan pikirannya sendiri hingga ia merasa terabaikan.
"kok mukulnya keras banget sih Namira? memangnya aku salah apa?!" ucap Rafka dengan wajah memelas.
"kamu sih ngelamun terus kerjaannya! lagian baru di pukul segitu udah mengeluh! Gitu kok katanya kuat, kuat apaan?" ceplos Namira tanpa berpikir panjang kalau perkataannya itu akan memancing jiwa kelaki-lakian suaminya.
Rafka refleks menatap mata Namira dan mulai mendekat ke arah istrinya itu. Namira pun menatap Rafka, dan kini pandangan mereka saling terkunci.
"kamu belum tau seberapa kuatnya aku Namira, apa kamu mau membuktikannya? Hubungan kita sudah sah di mata hukum dan agama, jadi aku berhak untuk melakukan apa saja padamu Namira" Rafka semakin mendekatkan wajahnya, hingga jarak di antara mereka hanya kurang lebih dua centimeter saja.
Untungnya suasana taman tidak terlalu ramai, dan ada pohon besar yang menutupi mereka dari pandangan banyak orang. Kalau tidak mereka pasti sudah kena sanksi karena di tuduh bermesraan di tempat umum.
Sudah berbulan-bulan mereka menikah, baru kali ini Rafka bertindak sedikit vulgar seperti tadi. Ia merasa kalau suaminya itu tampak berbeda, bukan seperti Rafka yang ia kenal selama ini.
Peluh Namira menetes deras saking geroginya. Ia merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Perasaannya sedikit aneh. Tapi dia sendiri susah untuk mengartikan perasaan apakah yang di rasakannya itu.
"maaf Namira" lirih Rafka pelan. Ia merasa kalau yang di lakukannya tadi adalah sebuah kesalahan. Kesalahan yang harusnya tak pernah ia perbuat meskipun mereka adalah sepasang suami istri.
Entah mengapa Rafka tiba-tiba berbuat seperti itu. Dia seperti terbawa perasaan hingga terhanyut dalam pesona seorang wanita cantik nan anggun yang tak lain adalah istrinya sendiri.
Namira tak bergeming. Dia tak berani menatap wajah Rafka. Ia terus saja menundukkan kepala seolah enggan menatap mata suaminya itu.
Dan Rafka sangat menyesali perbuatannya tadi. Harusnya dia tak membuat hubungan di antara mereka jadi dingin seperti ini. Padahal sebelumnya mereka sempat mengobrol hangat dan berbicara dari hati ke hati seperti layaknya pasangan suami istri pada umumnya.
__ADS_1
Tapi Rafka sendiri yang telah mengacaukan segalanya. Dia sendiri yang membuat istrinya jadi bersikap acuh kembali seperti dulu, sama seperti saat mereka pertama kali bertemu.
"sekali lagi aku minta maaf Namira, aku sama sekali nggak bermaksud kurang ajar sama kamu. Aku hanya.." Rafka tak tau lagi harus bagaimana cara menjelaskan pada Namira. Dia seperti mendadak kehilangan kata-kata di dalam memori otaknya.
"kamu nggak perlu minta Rafka, karena kamu nggak salah" Namira mengambil nafas sebentar lalu melanjutkan perkataannya lagi.
"bukan kamu, tapi aku yang salah Raf. Aku tidak bisa menjadi istri yang baik buat kamu. jadi harusnya aku yang minta maaf" Namira memandang wajah suaminya sejenak lalu menunduk lagi.
"nggak Namira. Kamu adalah yang terbaik, dan aku beruntung bisa memiliki kamu"
"tapi aku nggak pernah bisa penuhi kewajibanku sebagai seorang istri Raf. Jujur, aku ngerasa sangat bersalah sama kamu"
"aku nggak pernah berpikir seperti itu Namira. kamu adalah istri yang sempurna di mataku" kalimat itu terdengar tulus dari dalam lubuk hati Rafka yang terdalam.
Bukannya merasa tersanjung, Namira malah semakin merasa bersalah mendengar ucapan suaminya.
"kalo kamu nggak bahagia sama aku, kamu bisa meninggalkan aku, kapan pun kamu mau, aku bisa menerimanya dengan lapang dada Raf"
*Harusnya bukan kamu yang bicara seperti itu Namira. Akulah yang harusnya berkata begitu, karena aku yang nggak bisa membuat kamu bahagia..
Aku yang sudah merampas kebahagiaan kamu dengan pernikahan kita..
Pernikahan yang ta pernah kamu harapkan dari awal hingga sekarang..
Aku cukup sadar diri, dan nggak mau membuat kamu tersiksa lagi Namira..
Aku akan mengembalikan kebahagiaan kamu seperti sebelumnya, saat aku belum masuk ke dalam hidupmu dan menghancurkan semua mimpimu bersamanya..*
__ADS_1
Rafka hanya memandang sedih tanpa berkata sepatah kata pun. Rasanya ia tak punya nyali untuk mengungkapkan perasaannya. perasaan yang selalu ia tahan dan hanya dia sendiri yang mengetahuinya.