Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 51 Kejadian yang langka


__ADS_3

Tak butuh waktu lama, makanan yang di santap Rafka habis tak bersisa. Lemon tea nya pun juga di seruput Rafka sampai tandas. Seakan ia menikmati makanan yang di bawakan oleh istrinya itu, meski bukan hasil dari masakannya sendiri.


Memang benar kata orang, kalau kita memerlukan makanan sebagai energi untuk menghadapi apapun di dunia ini. Meski yang di hadapi itu adalah perasaan sedih sekali pun.


"mau nambah lagi Raf?" ujar Namira melihat Rafka yang menghabiskan makanannya dengan cepat. Namira pikir laki-laki itu pasti merasa sangat lapar hingga membuatnya jadi lahap begitu.


"nggak Namira, makasih. Ini aja udah kenyang banget rasanya" balas Rafka sambil memegangi perutnya, seperti menunjukkan kalau sudah terisi penuh di sana.


"oh.. ya udah kalo gitu" Namira menanggapi ucapan suaminya.


"Laper apa doyan Lo?! dasar rakus!" seloroh Alvan tiba-tiba. Perasaan cemburu masih saja menguasai dirinya.


"terserah gue dong. bisanya cuma iri aja Lo! kasian.." Rafka membalas omongan Alvan, tak mau kalah.


"stop.. nggak usah di lanjut lagi!" potong Namira. Ia tak mau kalau sampai keributan seperti sebelum-sebelumnya terulang kembali. Rasanya energinya sudah terkuras habis untuk menghadapi sikap kekanak-kanakan dua pria itu. Dan dia tak akan sanggup lagi jika itu sampai terjadi lagi.


Kedua laki-laki itu pun diam seketika, mengikuti perintah Namira. Mereka tidak mau membuat Namira marah dan pergi diam-diam lagi, seperti kejadian tadi.


Hanya tatapan mata mereka saja yang bicara. Seakan-akan mereka saling mengintimidasi lewat tatapan mata yang tajam itu.


Beberapa saat kemudian, pintu ruang operasi Alena terbuka. Beberapa tenaga medis keluar dari sana, termasuk dokter ahli yang menangani tindakan operasi Alena.


Rafka, Namira dan Alvan bangkit dari duduknya lalu bergegas menghampiri dokter yang tampak berwibawa itu.


"bagaimana operasinya dokter? apakah semuanya berjalan dengan lancar?!" tanya Rafka seakan tak sabar mengetahui kondisi adik perempuannya.

__ADS_1


"kita harus bersyukur karena operasi pasien Alena berjalan dengan baik dan sukses. Kita hanya tinggal menunggu sampai pasien sadar dari pengaruh obat bius saja" jelas dokter itu. Wajahnya terlihat kelelahan setelah melakukan operasi selama berjam-jam.


"syukurlah.. terima kasih sudah melakukan yang terbaik dokter" ucap Rafka penuh penghargaan, karena dokter itu sudah berjuang sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawa adiknya.


"itu sudah menjadi tugas kami sebagai seorang dokter" dokter itu tersenyum ramah.


"kalau begitu saya permisi dulu" ujar dokter tadi kemudian pergi meninggalkan tempat itu setelah mendapatkan jawaban dari mereka bertiga.


"syukurlah, semuanya baik-baik saja" Namira tak henti-hentinya mengucap syukur atas keberhasilan operasi Alena. Perasaannya sungguh lega setelah mendengar kabar itu.


"iya Namira, semua ini berkat doa dari kamu juga! terima kasih karena kamu sudah ikut mendampingi dan juga mendoakan yang terbaik untuk Alena" ujar Rafka.


"aku juga ikut senang mendengarnya Namira" kini Alvan yang mulai bicara.


"iya. kita semua patut bersyukur atas kebaikan yang di berikan tuhan untuk kita saat ini" Namira menambahi.


"aku nggak capek kok Raf, biar aku di sini aja" elak perempuan itu.


"tapi kamu butuh istirahat Namira. Kalo nggak, malah bisa sakit" tambah Rafka lagi.


"benar kata Rafka, lebih baik kamu pulang dulu untuk istirahat. Setelah itu bisa ke sini lagi" sekarang Alvan yang mencoba membujuk Namira. Baru kali ini ia memiliki pikiran yang sama dengan Rafka dan bahkan mendukung perkataannya.


"lalu gimana dengan Alena?" Namira masih belum yakin untuk meninggalkan tempat itu karena dia belum melihat kondisi adik iparnya setelah operasi.


"kamu tadi dengar sendiri kan apa kata dokter? kalau operasi Alena berjalan dengan lancar dan kondisinya juga udah mulai membaik, hanya tinggal nunggu reaksi obat biusnya hilang aja. jadi kamu nggak usah khawatir" sekarang Alvan yang mencoba meyakinkan Namira.

__ADS_1


"iya Namira, kamu istirahat saja dulu sebentar. Lagi pula Alena sekarang juga belum sadar, jadi belum boleh untuk di temui. Nanti kalo dia udah sadar, aku akan secepatnya ngabarin kamu" ujar Rafka.


Entah kenapa kali ini kedua laki-laki itu tampak begitu kompak. Tak seperti biasanya yang saling menjatuhkan satu sama lain, kini mereka seakan-akan malah bekerja sama untuk membujuk Namira agar mau pulang untuk beristirahat.


Mereka berdua sama-sama mencemaskan kesehatan Namira. Keduanya tidak mau kalau sampai wanita yang di cintai jatuh sakit karena kecapekan.


Mungkin bisa di bilang ini adalah kejadian yang langka. seorang Rafka dan Alvan yang biasanya selalu tak bisa akur bak kucing dan anjing, sekarang jadi saling mendukung dalam tujuan yang sama.


Di dalam hati, Namira rasanya ingin tertawa melihat kelakuan mereka berdua. Menurut Namira, kedua pria itu tampak lucu jika sedang bersikap seperti itu.


"baiklah, aku akan pulang sebentar. Tapi kamu harus janji harus hubungi aku secepatnya kalo Alena udah bisa di temui" setelah berpikir beberapa saat, Namira memutuskan untuk pulang dulu.


Sebenarnya memang badannya terasa lelah karena semua hal yang ia hadapi seharian ini. Tak bisa di pungkiri kalo memang tubuhnya butuh istirahat barang sejenak untuk menghilangkan rasa lelah itu.


Lebih baik mengistirahatkan badan sebentar dari pada nanti kecapekan yang berlebih lalu jatuh sakit, dan malah akan merepotkan banyak orang nantinya.


"nah.. gitu dong. kalo gitu aku antar kamu sekarang ya!" ujar Rafka bersemangat karena Namira mau mendengarkan ucapannya.


"biar aku pulang sendiri aja, kamu harus tetap di sini. karena kalo nanti Alena tiba-tiba siuman, terus kamu nggak ada gimana? atau bisa juga dokter atau suster nyariin keluarga Alena untuk suatu kepentingan yang menyangkut kesehatan Alena, gimana coba?" ujar Namira memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nantinya.


"iya juga ya?! kalo gitu biar aku minta pak Sugeng aja buat jemput kamu ke sini!" Rafka mengutarakan ide yang muncul di kepalanya lalu mengambil ponsel di saku kemejanya berniat untuk menghubungi seseorang.


"biar aku aja yang antar Namira" sela Alvan sebelum Namira membalas ucapan Rafka.


"Apa?? kenapa harus Lo yang nganter?! gue punya supir sendiri, jadi nggak usah repot-repot!" sergah Rafka menolak mentah-mentah tawaran dari Alvan.

__ADS_1


"emang lo ngga kasian sama Namira kalo harus nunggu kelamaan?! bukannya lebih baik dia cepat pulang, biar bisa langsung istirahat?!" ujar Alvan memukul telak bantahan Rafka.


Rafka memikirkan ucapan Alvan. Memang yang di katakan laki-laki itu ada benarnya juga. Kalau harus menunggu kedatangan pak Sugeng dulu, pasti akan memakan waktu yang cukup lama untuk Namira, karena jarak dari kediamannya ke rumah sakit ini lumayan jauh.


__ADS_2