
"Hai mas, akhirnya datang juga!" Alena bergegas menghampiri laki-laki itu lalu menggandeng tangannya dengan mesra, membimbingnya menuju meja makan,di mana kakaknya sedang duduk ternganga di sana. Rafka sama sekali tak menyangka kalau pacar Alena adalah Alvan, mantan tunangan istrinya.
"hai sayang, maaf ya agak telat sedikit" ucap Alvan sembari mengikuti langkah Alena.
"nggak telat kok mas" balas Alena sambil tersenyum penuh kebahagiaan.
Pandangan Rafka dari tadi tak pernah lepas dari laki-laki itu. Dia sama sekali tak habis pikir,kenapa harus Alvan yang jadi pacar adiknya.
"oh iya kak, kenalin ini pacar aku, Dan mas Alvan, kenalin juga ini kakak ku!" Alena memperkenalkan kedua laki-laki itu. mereka pun langsung berjabat tangan seperti tidak saling mengenal, lalu duduk di kursi masing-masing.
Ekspresi wajah mereka saling berlawanan saat ini. Rafka dengan ekspresi penuh keterkejutan dan juga beribu tanda tanya. Sedangkan Alvan dengan ekspresi santainya, seakan tidak ada masalah apapun di antara mereka.
Memang sebenarnya tidak ada masalah dengan keduanya, hanya saja laki-laki itu pernah menyakiti hati Namira dulunya. Jadi otomatis itu akan jadi masalah untuk Rafka juga karena sekarang Namira adalah istrinya.
"ya sudah,ayo mulai makan malamnya!" Ujar Rafka kemudian. Rasanya dia ingin segera mengakhiri pertemuan ini sebelum Namira datang. Ia takut kalau kehadiran laki-laki ini akan membuat istrinya kembali mengingat masa lalunya yang menyakitkan.
"nggak nunggu kakak ipar dulu,kak?" tanya Alena yang di sertai lirikan dari Alvan.
"kita makan dulu saja, dia sedang sibuk di butik jadi akan pulang terlambat malam ini" ujar Rafka sambil mengambil piring yang sudah tersedia di depannya lalu mengisinya dengan nasi dan beraneka lauk.
Rafka tak sengaja melihat seringaian dari bibir Alvan di sudut matanya tadi. Perasaannya pun mulai terasa tak enak. Dia jadi merasa ragu, apakah laki-laki itu benar-benar mencintai adiknya atau ada maksud lain di balik kedekatannya dengan Alena.
"oh.. ya udah deh kak, kalo gitu" ucap Alena pada kakaknya. lalu dengan cepat beralih pada Alvan.
"Ayo makan dulu mas! mau yang mana? biar aku ambilkan"
__ADS_1
"terserah kamu aja sayang, aku pasti akan makan apa aja yang kamu ambilkan" Alvan berkata dengan senyum semanis mungkin yang membuat Alena tersipu karenanya.
Rafka pun merasa muak melihat tingkah Alvan yang seperti sedang berpura-pura. Dia merasa kalau laki-laki itu hanya sedang bersandiwara.
Tatapan mata Alvan seperti biasa saja pada Alena,tak ada cinta di sana. Tapi adiknya itu menunjukkan hal yang sebaliknya. Alena terlihat begitu mendamba laki-laki yang sedang duduk di sampingnya. Bahkan tatapan mata adiknya itu di penuhi dengan cinta.
Alena pun dengan telaten mengambilkan menu makanan yang sama dengannya,yaitu ayam lada hitam dan capcay goreng kesukaannya.
Makan malam yang baru pertama kali terjadi di antara mereka bertiga ini akhirnya berjalan dengan penuh kecanggungan. Tidak ada obrolan hangat maupun sekedar basa-basi sekalipun. Hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring saja di sana, yang sedikit memecah keheningan.
Sampai makanan di piring mereka masing-masing habis, suasana pun tetep sama,tak ada yang berubah sedikitpun.
Di sela-sela waktu makan tadi, Rafka tak sengaja memperhatikan gerak-gerik Alvan. Laki-laki itu tampak gelisah seperti sedang menunggu kedatangan seseorang. terkadang pula matanya menatap ke arah pintu sesekali.
Rafka semakin penasaran dengan tujuan Alvan datang ke rumah ini. Hatinya berkata kalau pria itu kesini bukan untuk Alena melainkan untuk istrinya, Namira. Tapi ia ragu, apakah yang di rasakannya itu benar atau tidak. Jika itu benar,maka ia berjanji tidak akan mengampuni pria brengsek itu.
"Kakak ke ruang kerja dulu, Alena. ada pekerjaan yang belum selesai" ujar Rafka sembari berdiri dari kursinya lalu langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari adiknya.
Alena memandangi kepergian kakaknya dengan perasaan heran, karena tidak biasanya Rafka bersikap seperti itu. Menurut Alena, kakaknya itu seperti kurang suka dengan kekasihnya,entah apa sebabnya.
Padahal di mata Alena Alvan adalah sosok lelaki yang sempurna. bahkan mungkin tak akan ada satu wanita pun yang bisa menolak pesonanya. Dia tampan,baik hati,perhatian dan memiliki pekerjaan yang sangat mapan. Alvan adalah paket komplit dambaan setiap wanita.
"maafin kak Rafka ya, sepertinya dia agak cuek gitu karena belum terlalu mengenal kamu aja" Alena berkata pada Alvan setelah kepergian kakaknya.
"no problem,honey.. aku ngerti kok" balas Alvan dengan tatapan lembut.
__ADS_1
"makasih ya mas"
"harusnya aku dong yang bilang makasih, karena kamu udah menghidangkan makanan sebanyak ini buat aku,mana lezat-lezat pula rasanya"
"hmmm... sebenarnya ini semua bukan aku loh yang masak, tapi bik imas" ucap Alena malu-malu.
"tapi yang ngambilin makanan di piring tadi kan kamu, jadi rasanya jadi seratus kali lebih enak, sayang" Alvin mengeluarkan jurus gombalannya yang membuat pipi Alena merah merona karena merasa tersanjung.
"mas Alvan nih ada-ada aja deh" suara itu terdengar penuh dengan kebahagiaan yang tak bisa di sembunyikan.
Mereka berdua pun terhanyut dalam obrolan yang cukup lama, seperti dunia terasa milik berdua. Alena begitu menikmati kebersamaan mereka, tapi Alvan terlihat menghentak-hentakkan kakinya beberapa kali seperti sedang memikirkan hal lain. Dan hanya dia sendiri yang tau apa yang ada di dalam hatinya.
"aku pulang dulu ya,honey. udah malem banget soalnya" pamit Alvan setelah melihat jam di pergelangan tangannya.
"oh.. ya udah deh, hati-hati di jalan ya. jangan ngebut!" balas Alena yang hendak melepas kepergian kekasih hatinya.
"kakak ipar kamu belum pulang?" tanya Alvan tiba-tiba.
"iya nih, kayaknya kak Namira lagi sibuk banget di butiknya sampe jam segini belum pulang juga. jadi nggak bisa aku kenalin deh sama kamu, mungkin lain kali ya!" ujar Alena tanpa sedikitpun mencurigai pertanyaan Alvan.
Dia memang berjanji akan memperkenalkannya kepada seluruh anggota keluarga malam ini. tapi ternyata kakak iparnya sedang sibuk,jadi Alena tak bisa menepati janjinya sekarang.
"nggak masalah sayang. ya udah aku pulang ya! sampai jumpa besok" Alvan mengecup punggung tangan Alena kemudian berlalu pergi meninggalkan rumah itu.
Alena masih saja tersenyum sumringah setelah mobil Alvan sudah tak terlihat dari pandangannya lagi. momen-momen indah bersama pria itu kembali menari-nari di otaknya.
__ADS_1
"putuskan hubungan kamu dengan pria itu, Alena" tiba-tiba saja Rafka sudah berdiri mematung di belakang adiknya dengan tatapan mata yang sulit untuk di mengerti.