Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 52 Pulang bersama


__ADS_3

"Ya udah terserah lo aja!" ujar Rafka pada akhirnya. Tapi dengan nada seperti tidak ikhlas. Dia memang terpaksa menyetujui permintaan Alvan karena lebih mementingkan tentang Namira.


"nah.. gitu dong, jadi cowok nggak boleh egois" ucap Alvan setengah menyindir.


"udah cepetan antar Namira sekarang, sebelum gue berubah pikiran!" Rafka berkata sambil mengibaskan tangannya.


"ya udah, ayo aku antar pulang sekarang, Namira" Alvan menarik pelan tangan perempuan di sampingnya agar segera pergi dari tempat itu.


Sedangkan Namira hanya menurut saja tanpa melawannya, karena dia sedang tidak fokus. Dia terheran-heran dengan tingkah dua laki-laki yang ada di hadapannya, yang terkadang bertengkar, terkadang juga baikan seperti yang di lihatnya sekarang ini.


"woii.. nggak usah pegang-pegang juga kali!" semprot Rafka melihat Alvan yang seenaknya menggandeng tangan istrinya.


Fokus Namira pun mulai kembali. Dia tersadar, lalu segera melepaskan tangannya dari genggaman Alvan.


Melihat hal itu membuat Rafka tersenyum puas penuh kemenangan dan seperti mengejek ke arah Alvan.


"maaf Namira, tanganku cuma refleks aja tadi" kilah Alvan mencari alasan agar Namira tak marah padanya.


"udah nggak usah di bahas" balas Namira datar.


"emm... kalo gitu kita pulang sekarang aja yuk" ajak Alvan lagi.


"ya udah, ayo"


"oke"


"oh iya, Rafka. Nanti jangan lupa kabari aku ya kalo Alena udah siuman dan udah bisa di temui" Namira berpesan pada Rafka sebelum pergi.


"iya Namira, kamu tenang aja. nanti kalo Alena udah sadar, pasti langsung aku hubungi kamu" ucap Rafka.

__ADS_1


"ya udah aku pulang dulu ya!"


"iya, hati-hati Namira"


Alvan yang melihat adegan perpisahan antara suami istri itu merasa jengah dan ingin segera mengajak Namira pergi dari situ. Tapi ia takut akan membuat Namira kesal kalau ia bertindak semaunya sendiri. Yang bisa di lakukannya sekarang hanya diam menyaksikan adegan di hadapannya selesai dengan sendirinya.


Setelah selesai berpamitan pada suaminya, Namira pun pergi dari tempat itu bersama Alvan yang akan mengantarkannya pulang ke rumah.


Mobil yang di kemudikan Alvan berjalan sedikit lebih lambat dari biasanya, menyusuri jalanan kota yang sudah gelap di hiasi gemerlap lampu-lampu kota yang indah di malam hari.


"Namira, gimana kalo kita berhenti sebentar buat makan malam? kamu kan belum makan malam" Alvan mulai bersuara memecah keheningan di antara mereka sejak tadi.


"tapi aku nggak lapar Van" tolak Namira. Dia tadi makan memang sudah hampir sore, jadi perutnya masih belum terasa lapar.


"tapi kamu harus makan Namira. kalo kamu langsung pulang, aku yakin pasti kamu nggak akan mau makan"


"meskipun nggak laper ya harus tetep makan, Namira. lagian asisten rumah tangga kamu juga pasti jam segini udah tidur, nggak ada yang siapin makanan buat kamu kalo langsung pulang" Alvan masih belum menyerah untuk mengajak Namira makan.


Namira melihat jam di pergelangan tangannya. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam lebih.


"emangnya aku anak kecil yang apa-apa harus di siapkan dulu!? gini-gini aku juga bisa masak sendiri tau!" ujar Namira tak terima.


"hehehe.. iya iya. maaf Namira. aku nggak bermaksud gitu kok! aku tau banget kalo kamu bisa masak, dan makanan buatan kamu tuh rasanya enak banget. Dulu kan kamu sering bawain makan siang hasil masakan kamu sendiri ke kantor!" ceplos Alvan yang tiba-tiba membahas masa lalu di antara mereka.


Entah mengapa kejadian seperti itu sering kali terjadi di saat mereka sedang berdua saja seperti ini. Alvan seperti kembali pada saat itu, saat mereka masih bersama. Itulah yang selalu ia rasakan.


"tapi itu dulu Van, semuanya sudah menjadi masa lalu" ucap Namira mengikuti isi hatinya. Dia hanya ingin menegaskan pada laki-laki itu bahwa semuanya sudah berubah dan tak sama lagi seperti dulu.


"apa kamu nggak ingin kita kembali seperti dulu, Namira?" kalimat itu terdengar sangat pelan, hingga terdengar seperti gumaman saja di telinga Namira. wanita itu tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang di ucapkan oleh laki-laki yang sedang duduk di kursi kemudi itu.

__ADS_1


"kamu bilang apa Van? aku nggak denger. Pelan banget ngomongnya, kayak nggak ada tenaga"


"kamu benar Namira, tenagaku memang hampir habis karena udah sangat lapar. Maka dari itu, perutku butuh di isi sekarang. Kamu temenin aku makan ya!" Alvan membelokkan mobilnya masuk ke dalam parkiran sebuah restoran yang buka selama dua puluh empat jam.


"kok malah ke sini sih Van?" protes Namira saat mobil yang di kendarai Alvan berhenti sempurna di parkiran restoran.


"kamu nggak suka tempat ini? apa mau makan di tempat lain?!" Alvan pura-pura tak mengerti dengan perkataan yang di ucapkan Namira.


"bukannya gitu Alvan, katanya kamu mau ngantar aku pulang ke rumah? kok malah berhenti di tempat ini?!"


"aku pasti nganter kamu pulang kok, mana mungkin aku nurunin kamu di sini. Tapi sebelum itu temenin aku makan dulu ya Namira, udah laper banget nih soalnya" Dari dulu Alvan selalu pintar mencari cara agar Namira tidak menolak permintaannya. Dia sengaja berpura-pura kelaparan agar Namira mau makan bersamanya di restoran ini.


"ya ampun.. Alvan. masa udah selapar itu sih?!"


"beneran Namira, kamu tau sendiri kan kalo dari dulu aku gampang ngerasa lapar?!" Alvan turun dari mobil lalu membukakan pintu sebelahnya untuk Namira. Mau tak mau Namira turun dari mobil dan mengikuti kemauan Alvan untuk menemaninya makan malam, meskipun dengan perasaan terpaksa.


Mereka pun masuk ke dalam restoran dan duduk di salah satu meja yang berada di dekat jendela berkaca besar yang menghadap langsung ke jalanan kota yang seperti berkilauan karena banyaknya cahaya lampu.


Mungkin jika di lihat orang lain, mereka seperti sepasang kekasih yang sedang makan malam bersama. Padahal bukan seperti itu kenyataan yang sebenarnya. Status mereka hanyalah mantan yang harus berurusan lagi karena suatu alasan.


Restoran tampak sepi. Hanya beberapa orang saja yang ada di restoran itu. Mungkin karena sudah terlewat jam makan malam. Banyak orang yang tidak mau makan pada jam-jam seperti ini karena takut akan membuat tubuh mereka menjadi gendut, mungkin itulah alasannya tempat ini jadi sepi pada jam malam begini.


"saya mau pesan tenderloin steak sama mango squash masing-masing dua porsi ya mbak" ucap Alvan pada pelayan wanita yang datang menghampirinya, setelah membaca daftar menu. Dulu, menu itulah yang sering di pesan Namira saat mereka sedang makan di restoran seperti sekarang ini.


Namira yang mendengar itu, langsung melotot ke arah Alvan, pertanda tidak setuju dengan yang di lakukannya, yang memesankan makanan untuk dirinya juga.


"baik pak, ada yang lain lagi?" tanya pelayan itu ramah.


"kamu mau yang lain lagi Namira?" Alvan malah bertanya pada Namira. Dan wanita itu pun menggeleng kesal, hingga membuat Alvan tertawa kecil.

__ADS_1


__ADS_2