
"Baiklah, aku akan coba bicara pada Alena" ucap Alvan setelah berpikir beberapa saat.
"benarkah?? terima kasih Alvan" Namira merasa lega karena laki-laki itu mau melakukan permintaannya.
"sama-sama Namira" balas Alvan.
Harusnya kamu nggak perlu berterima kasih padaku Namira, karena semua yang menimpa Alena adalah tanggung jawabku..
Andai kamu tau semua yang terjadi, mungkin kamu nggak akan bisa memaafkan aku. akulah orangnya, yang membuat Alena jadi seperti itu..
"ya udah kalo gitu ayo kita ke ruangan Alena sekarang!" ajak Namira.
"iya.."balas Alvan singkat.
Mereka berdua pun pergi menuju ruang rawat Alena. Untuk mencoba melakukan sesuatu agar gadis itu segera bangun dari koma.
"kamu?? ngapain di tempat ini?!" Rafka tampak emosi melihat kedatangan Alvan.
Bagi Rafka, Alvan adalah laki-laki brengsek yang telah mempermainkan perasaan adik kesayangannya. Pria itu menjadikan Alena alat agar bisa mendekati Namira dengan memanfaatkan kepolosannya.
Seumur hidup, Rafka mungkin tidak akan pernah bisa memberikan maafnya untuk Alvan. Jika tidak sedang di rumah sakit, mungkin ia akan menghadiahkan bogem mentah untuknya. Tapi karena tempat dan situasi, Alvan berusaha menahan mati-matian amarahnya itu.
"tenang dulu, Raf. Aku yang minta Alvan buat ke sini" jelas Namira berharap agar suaminya mau mengerti.
"apa?? kenapa kamu minta orang ini datang, Namira?! dia nggak pantas ada di sini!" Rafka berkata sambil menatap Alvan penuh amarah. Dia tak habis pikir, kenapa Namira malah menyuruhnya datang.
"aku mohon jangan emosi dulu Raf! ini semua aku lakukan demi kesembuhan Alena" ujar Namira.
"apa maksud kamu?" Rafka tak mengerti dengan maksud perkataan Namira.
"Alena sangat mencintai Alvan, Raf. Biarkan Alvan coba untuk bicara dengan Alena, siapa tau dia bisa cepat merespon kalo yang bicara adalah orang yang di cintainya" Namira mencoba menjelaskan pemikirannya.
Rafka hanya bisa diam jika itu menyangkut tentang kesehatan Alena. Harapan terbesarnya adalah adik perempuannya itu cepat sembuh bagaimana pun caranya.
__ADS_1
"kamu langsung masuk aja, Van!" ujar Namira, meminta Alvan untuk segera menemui Alena.
"iya"
Alvan pun masuk ke dalam ruangan serba putih itu, kemudian melangkahkan kakinya mendekati Alena yang seperti sedang tertidur pulas.
Perasaan kalut semakin menyergap pikiran Alvan. Dia benar-benar tak tega melihat keadaan Alena yang terlihat memprihatinkan.
Maafkan aku Alena..
karena perbuatanku, kamu jadi menderita seperti ini.
Aku sama sekali tak bermaksud untuk menyakiti perasaan kamu..
Aku hanya ingin memperjuangkan cintaku saja..
Aku harap kamu mengerti, Alena..
"Bangunlah Alena.. aku minta maaf untuk semua kesalahan yang udah aku lakukan sama kamu" Alvan mengucapkan kalimat itu dari dalam lubuk hatinya.
Dia akan terus mencoba untuk membuatnya bangun, seperti yang di inginkan Namira. Dia tak akan menyerah begitu saja untuk terus berusaha.
Tak sengaja, Alvan melihat jari jemari Alena sedikit bergerak seperti merespon ucapannya. Alvan sampai tersentak melihat kejadian itu.
" Alena.." ucapan laki-laki itu tak di selesaikan. Dia sungguh tak menyangka kalau cara yang di usulkan Namira bisa Berhasil dan bisa membuat Alena membuka mata. Ini seperti sebuah keajaiban yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
"mas Alvan.." ujar Alena lemah, perkataannya itu lebih terdengar seperti gumaman di telinga Alvan.
"iya Alena, aku di sini" balas Alvan sambil memegang tangan Alena, memberikan semangat pada gadis itu. Tapi bukannya lebih bersemangat, Alena malah meneteskan air mata saat tangan Alvan menyentuhnya.
"kamu kenapa Alena? apa ada yang sakit?! sebentar, biar aku panggilkan dokter untuk memeriksa keadaan kamu!" Alvan beranjak dari duduknya berniat akan memanggil dokter, tapi Alena memegang tangan laki-laki itu erat agar ia tak pergi meninggalkannya.
"jangan pergi kemana-mana mas, yang aku butuhkan cuma kamu!" Alena berkata dengan suara yang parau.
__ADS_1
Deg .. Alvan terperanjat. Inilah yang di takutkannya, terjebak dalam situasi seperti ini, di mana perbuatannya di salah artikan oleh Alena. Dan ia pun akan susah untuk menolak jika melihat kondisi Alena yang seperti itu.
Jika sudah begini, Alvan bingung harus berbuat bagaimana. Haruskah ia menuruti kemauan Alena, atau menjelaskan yang sebenarnya agar dia tak salah paham dengan sikap baiknya.
Padahal semua ini ia lakukan karena permintaan Namira. Hanya itulah alasan Alvan berada di tempat ini. Tapi karena hal itu juga, ia jadi terjebak dalam situasi yang rumit seperti yang di alaminya saat ini.
"biarkan dokter memeriksa kamu sebentar, Alena. setelah itu aku akan kembali lagi. aku janji nggak akan kemana-mana" tutur Alvan berusaha bersikap lembut.
"baiklah.. " balas Alena patuh.
Seorang dokter dan beberapa perawat datang untuk memeriksa keadaan Alena yang baru bangun dari koma, setelah Alvan memanggilnya.
Dokter itu memeriksa semua bagian paling penting, seperti detak jantung, tekanan darah dan juga yang lainnya. Sedangkan Alvan menunggu di luar ruangan bersama Namira dan juga Rafka yang di wajahnya tergambar kelegaan yang luar biasa mendengar kabar bahwa Alena sudah bangun dari koma.
Tak lama kemudian, dokter paruh baya itu keluar sambil tersenyum simpul sambil berjalan mendekat ke arah mereka bertiga.
"Bagaimana keadaan Alena dokter?" tanya Rafka menggebu.
"ini adalah sebuah keajaiban pasien bisa sadar dengan waktu yang cepat. kondisi pasien sudah lebih baik dari sebelumnya, tapi untuk pembekuan darah di kepalanya harus di lakukan operasi" jelas dokter itu secara detail.
"tolong lakukan penanganan yang terbaik untuk adik saya, dok!" ujar Rafka. Sedangkan Namira dan Rafka hanya menyimak saja karena tidak ada kesempatan bicara untuk mereka.
"pasti kami akan melakukannya semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan kami. Dan untuk sekedar informasi, setelah ini pasien akan di pindahkan ke ruang rawat lain" tambahnya.
"baik, terima kasih dokter Harun" ucap Rafka setelah membaca name tag yang terpasang di dada sebelah kiri dokter itu.
"sama-sama pak" balas dokter itu kemudian berlalu pergi untuk menangani pasien yang lain.
Untuk sementara Rafka bisa bernafas lega mengetahui bahwa kesehatan adiknya sudah mulai membaik.
Selang beberapa menit, terlihat dua orang perawat mendorong brankar Alena untuk di pindahkan ke ruangan lain.
Saat keluar dari ruangan itu, Alena terus saja memandang ke arah Alvan sambil tersenyum kecil. Namira yang melihat itu seperti merasakan ada perasaan yang aneh menghampirinya.
__ADS_1
Ia senang melihat Alena sudah mulai pulih, tapi ada perasaan lain yang seperti mengusik hatinya saat melihat senyum Alena untuk Alvan.