
Dengan cepat Alvan menekan tombol darurat untuk memanggil dokter dan perawat agar datang secepatnya memeriksa keadaan Alena yang seperti sangat kesakitan.
Alena terus saja memegangi kepalanya sambil meringis menahan sakit yang tiba-tiba ia rasakan, tanpa memperdulikan pertanyaan Alvan. Jangankan untuk memperdulikan orang lain, untuk membuka mata saja rasanya tak kuat. Ia bahkan sampai memejamkan mata saking sakitnya.
Beberapa saat kemudian para tenaga medis datang untuk memeriksa kondisi Alena. Sementara Alvan di persilahkan untuk menunggu di luar ruangan agar tidak menggangu proses pemeriksaan.
Alvan keluar ruangan dengan wajah yang muram. Dia merasa sangat menyesal tadi membicarakan sesuatu yang membuat pikiran Alena terbebani hingga membuatnya jadi seperti itu. Alvan bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Namira nanti, karena ia merasa jika itu semua adalah salahnya.
"Alena kenapa Van? kenapa dokter dan suster masuk ke sana dengan terburu-buru? dia baik-baik saja kan?" Namira memberondong Alvan dengan banyak pertanyaan saat Alvan terlihat keluar dari pintu ruangan Alena. Sedangkan Rafka tampak memandang laki-laki itu dengan tatapan tajam seperti siap untuk menyerang.
"Tadi Alena merasa kesakitan di bagian kepalanya, jadi aku segera memanggil dokter" jelas Alvan dengan tatapan sendu.
"ya tuhan.. Alena" Namira menutup mulutnya saat mendengar ucapan Alvan. Ia tak menyangka kalau Alena akan kritis lagi, padahal tadi gadis itu sudah terlihat lebih baik dan juga tampak ceria.
"kamu apakan adikku? Hahh?? dasar bajingan!" Rafka menarik kerah kemeja Alvan lalu memukulnya dengan keras sampai pria itu terhuyung ke belakang. Sedangkan yang di pukul hanya diam tak melawan, karena ia merasa pantas di perlakukan seperti itu untuk menebus kesalahannya pada Alena.
"ya ampun.. Rafka? apa yang kamu lakukan?! kendalikan emosi kamu Rafka! ini di rumah sakit" Namira berusaha untuk menghentikan perkelahian sebelah pihak itu, tapi Rafka masih terus emosi hingga tak sengaja tangannya mendorong Namira sampai ia hampir terjatuh, untungnya ada Alvan yang refleks menangkapnya. Kalau tidak, mungkin hidung Namira akan mencium dinding rumah sakit.
"kamu nggak pa pa Namira?" tanya Alvan cemas setelah membantu Namira ke posisi berdiri setelah oleng tadi
"aku nggak pa pa kok" balas Namira berusaha tenang dan mengatur nafasnya, karena ia tak mau kalau sampai keributan terjadi lagi.
__ADS_1
Alvan mengalihkan pandangannya pada Rafka, lalu menatap pria itu dengan tatapan marah. Ia bisa terima jika dia yang di pukul, tapi dia tak akan bisa tinggal diam jika wanita yang di cintainya yang di sakiti.
"apa yang kamu lakukan?? kenapa kamu mendorong Namira?!" Alvan tak terima terhadap perlakuan Rafka yang membuat Namira hampir saja celaka, meskipun itu tak sengaja. Alvan tidak mau memakluminya jika itu menyangkut Namira.
"ma .. maaf Namira. Aku benar-benar nggak sengaja melakukannya!" ucap Rafka menyesali perbuatannya yang tak bisa mengontrol emosi hingga membuat orang lain hampir celaka.
"nggak pa pa Raf, aku ngerti kamu cuma sedang emosi" sahut Namira dengan perasaan was-was, takut kalau dua lelaki di hadapannya itu tak bisa menguasai diri dan akhirnya saling berkelahi.
Namira tak mau melihat kekacauan lagi, karena semua masalah yang di hadapinya sudah cukup membuatnya pusing. Ia tak mau di tambah dengan satu masalah lagi yang tentunya akan lebih memperparah keadaan.
"seenaknya saja minta maaf setelah berbuat kasar. Dasar banci!!" Alvan maju beberapa langkah dan menghadiahkan bogem mentah di wajah Rafka. Rupanya ia masih tak terima dengan yang di lakukan pria itu.
"apa hak mu mukul aku? ini semua adalah salahmu! Kamu lah yang membuat semua masalah ini. Kalo kamu nggak ada, mungkin semua ini nggak akan terjadi!" Rafka pun tak mau kalah, ia bangkit lalu membalas pukulan dari Alvan.
Namira yang melihat itu, merasa sangat shock. Dia tak menyangka kalau situasinya akan bertambah kacau seperti ini. Dua lelaki di depannya itu berhasil membuat emosinya memuncak sampai naik ke ubun-ubun.
"Alvan, Rafka. HENTIKAN!! apa yang kalian lakukan? kenapa malah bertingkah kayak anak kecil gitu?! apa kalian nggak sadar ini rumah sakit?!" Namira sampai sedikit berteriak dengan setengah tertahan mengatakan itu, agar dua manusia di depannya menghentikan aksi adu jotos mereka.
"tapi dia udah menyakiti kamu Namira!" ujar Alvan dengan menatap penuh dendam ke arah Rafka sambil mencengkram leher lelaki itu.
"Dia lah penyebab semua kekacauan ini. Dia yang membuat Alena harus menderita seperti itu!" Hardik Rafka tak mau kalah sambil melayangkan tinjunya lagi.
__ADS_1
Tentu saja Alvan tak tinggal diam, dia membalas hantaman Rafka, sehingga adu jotos pun kembali terjadi di antara mereka.
"sudah cukup, Hentikan semua ini!" Namira mengambil posisi berdiri di tengah-tengah dua lelaki yang seperti saling berperang itu sambil menatap mereka satu-persatu dengan tatapan nyalang.
Rafka dan Alvan pun terpaksa menghentikan perkelahian mereka karena tidak mau kalau sampai pukulan yang mereka lesatkan malah akan salah sasaran dan mengenai Namira.
"kenapa kalian malah berantem sih?! Dasar kekanakan!! apa kalian nggak memikirkan nasib Alena di dalam sana?!" sentak Namira yang membuat keduanya terdiam.
"maaf Namira.." ucap Alvan dan Rafka hampir bersamaan seperti anak kecil yang ketahuan melakukan kesalahan.
Mereka sadar telah membuat kesalahan dengan kekacauan yang mereka lakukan. Seharusnya mereka bisa membuat keadaan jadi lebih baik, bukan malah memperkeruh keadaan seperti ini.
"sudahlah.. lebih baik kalian diam dan duduk menunggu hasil pemeriksaan dokter!" perintah Namira yang langsung di patuhi oleh kedua pria yang wajahnya tampak memar karena perkelahian tadi.
Rafka mendudukkan diri di ujung kursi panjang bagian kanan, sedangkan Alvan memilih untuk duduk di ujung bagian kiri. Sesekali mata mereka beradu dengan tatapan tajam, tapi setelah Namira melirik keduanya, mereka langsung membuang pandangan melihat ke arah lain.
Namira merasa kedua laki-laki ini sudah seperti anak kecil yang membuatnya kerepotan. Sungguh dia tak mengerti dengan jalan pikiran keduanya.
Tugas Namira kini tampak seperti seorang ibu yang sedang menjaga kedua putranya yang bandel agar tidak saling berkelahi.
Sesekali ia memicingkan mata pada kedua laki-laki itu, seakan menegaskan bahwa dia sedang mengawasi dan seolah berkata ( Kalian sedang ku awasi, jadi jangan macam-macam jika tak ingin dapat masalah besar! ) begitu lah kira-kira arti tatapan Namira untuk keduanya.
__ADS_1
Sudah beberapa menit berlalu, tapi dokter yang memeriksa Alena belum juga keluar. Jarum jam seakan bergerak lebih lambat dari biasanya jika sedang dalam suasana seperti ini.
Mereka bertiga hanya diam tanpa bicara apa pun seperti larut dalam pikiran masing-masing.