
Di kantin rumah sakit..
Keadaan kantin cukup ramai pagi ini. Rafka menyapukan pandangan ke seluruh sisi kantin, mencari tempat yang kosong untuk ia duduki.
Semua orang yang berada di tempat itu tampak berpasang-pasangan saat sarapan pagi. Berbanding terbalik dengan Alvan yang hanya sendirian saja di tempat ini.
Kalau sedang tidak lapar, pasti dia akan memilih pergi dari tempat ini. Tapi sayangnya perutnya sedang tak mau di ajak kompromi, Karena dari tadi sudah berdemo minta untuk segera di isi.
Saat sedang mencari tempat yang kosong, tiba-tiba saja matanya tertuju pada satu titik di salah satu meja yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.
Seorang pria yang sedang makan di meja itu tampak sendiri juga sama sepertinya. Di lihat dari makanan dan minuman yang ada di atas meja hanya ada satu porsi.
Alvan berjalan mendekat ke arah pria berbaju hitam yang sedang duduk sendirian dan hanya tampak punggungnya saja itu, berniat untuk bergabung ikut duduk di sana juga, karena tak ada meja lain lagi yang kosong.
"Pagi bro.. bisa gabung di sini nggak? soalnya meja yang lain pada penuh semua!" ucap Alvan pada laki-laki yang belum terlihat wajahnya itu.
"oh.. boleh, silahkan duduk bro.. " balas pria itu sambil mengangkat wajahnya, yang membuat Alvan terkejut seketika karena ternyata dia adalah Rafka.
Rafka pun sama terkejutnya, dia tak menyangka kalau bisa bertemu seteru abadinya di tempat ini.
"ternyata lo? hufft.. tau gitu nggak gue izinin tadi buat duduk di sini!" seru Rafka dengan wajah malas.
"bodo amat, lagi pula gue juga nggak bakal mau minta izin kalo ternyata lo yang duduk di sini, karena gue minta izin sebagai bentuk kesopanan aja. Tapi kalo orangnya lo, kayaknya gue nggak perlu ngelakuin itu, soalnya lo nggak pantes di hormati!" ujar Alvan sambil duduk di depan Rafka, tak perduli dengan tatapan tidak suka dari pria itu.
__ADS_1
"ya elah .. malah duduk di sini lagi! eneg gue liat muka lo!" gerutu Rafka.
"biarin! orang bukan meja lo! ini tuh tempat umum, jadi terserah gue mau duduk di mana!" Alvan tak perduli dengan omongan Rafka dan tetap duduk di tempatnya dengan santai.
Beberapa saat kemudian makanan dan minuman yang di pesan Alvan pun datang. Dia pun segera menyantap makanan itu dengan lahap karena sudah merasa lapar sejak tadi.
*Ah.. tau gitu tadi gue sarapan di rumah aja..
Udah di bela-belain kelaparan karena nggak sarapan, biar bisa ngajak Namira sarapan bareng, eeh.. dia nya malah bawa bekal..
Mana sekarang musti ketemu laki-laki nggak jelas ini lagi! huh.. sial banget nasib gue hari ini..*
Alvan sibuk dengan pikirannya sendiri, tak perduli kalau Rafka sedang menatapnya dengan tatapan heran.
"Lo habis nggak makan sebulan apa gimana sih?! rakus banget makannya! kayak orang kelaparan aja!" Ledek Rafka melihat Alvan yang begitu lahap memakan menu biasa yang ada di tempat itu.
"dasar aneh!" Rafka geleng-geleng kepala melihat kelakuan Alvan. Siapa sangka, seorang pemilik perusahaan terkenal di kota ini, attitude nya seperti ini jika sedang makan.
Alvan menyantap makanan di hadapannya sampai habis, setelah itu meminum jus strawberry sebagai penutupnya.
"ngapain lo pagi-pagi udah nongol di tempat ini? udah kayak jelangkung aja lo! datang tak di jemput, pulang tak di antar!" oceh Rafka setelah menyeruput coffee latte nya yang terakhir.
Alvan tersenyum jahil mendengar pertanyaan dari Rafka. Tiba-tiba di otaknya terlintas sebuah ide, dan akan di jalankannya sekarang juga.
__ADS_1
"mau tau aja, apa mau tau banget?!" seloroh Alvan sengaja agar membuat laki-laki di hadapannya itu kesal.
"udah nggak usah di jawab. nggak penting juga buat gue!" balas Rafka sembari berdiri dari duduknya, berniat untuk segera pergi dari tempat itu dan menjauh dari pria yang menurutnya sangat menyebalkan.
"eeits.. tunggu! gue di sini karena habis ngantar Namira. Dia minta gue jemput di rumah tadi!" tukas Alvan setengah berdusta. Dia memang mengantar Namira ke sini tadi, tapi itu bukan Namira yang minta. Ia saja yang sengaja membuat cara agar Namira mau di antarkannya.
Mendengar hal itu, membuat Rafka tak jadi pergi, dia duduk kembali di tempatnya seakan tertarik dengan ucapan Alvan. Karena itu menyangkut tentang istrinya.
"apa lo bilang barusan?" Rafka bertanya untuk meyakinkan dirinya sendiri, bahwa yang di dengarnya tadi tidak lah benar.
"Lo tuh nggak bisa denger ya? gue bilang kalo Namira minta gue buat ngantar dia ke sini tadi! puas lo?!" Alvan mengulang kembali kalimatnya, bertujuan agar membuat laki-laki itu semakin kesal.
Rafka terpaku, dia tak menyangka kalau rasanya akan sesakit ini mendengar kenyataan kalau istrinya meminta laki-laki lain untuk mengantarnya. Padahal selama menjalani suami Namira, tak pernah sekalipun wanita itu memintanya untuk sekedar mengantarkan ke suatu tempat.
Iri, mungkin itulah yang di rasakan Rafka dalam hatinya sekarang. Dia iri pada Alvan yang bisa mengambil hati Namira. Dia iri karena pria itu mendapat perlakuan yang lebih spesial dari Namira. Dia iri karena yang di cintai istrinya adanya Alvan bukan dirinya.
"kenapa lo? kok kayak kaget gitu? Lo tau kan kalo Namira nggak pernah cinta sama lo?" Alvan semakin memprovokasi.
Rafka hanya diam membisu, tak bisa menjawab pertanyaan dari laki-laki yang sudah membuat mood nya jadi buruk hari ini.
"kenapa nggak di jawab? pasti lo sendiri tau kan jawabannya!? Dan.. lo pasti tau juga kan siapa laki-laki yang di cintai Namira?" Alvan tak henti-hentinya memancing kemarahan Rafka. Tujuannya adalah agar dia menyerah dan memutuskan hubungan pernikahannya dengan Namira.
Kini Rafka tak hanya diam, ia menatap Alvan dengan tatapan tajam seperti ingin membunuh. Seakan dia mengekspresikan kemarahannya lewat tatapan matanya itu.
__ADS_1
"ngapain lo liat gue dengan tatapan kayak gitu? Lo marah karena pada kenyataannya istri lo sendiri nggak pernah cinta sama lo dan dia malah mencintai laki-laki lain?" Alvan berkata dengan tersenyum miring, seperti menghina.
Rafka mengepalkan tangannya di bawah meja. Rasanya dia ingin menghajar habis-habisan pria yang ada di depannya itu sampai titik darah penghabisan. Tapi akal sehatnya masih berfungsi, dia tak mungkin membuat keributan di tempat umum seperti ini. Lagi pula kondisi kantin juga sangat ramai, bisa-bisa dia jadi tontonan banyak orang kalau sampai hilang kendali.