
"Apakah itu penting buat kamu?" Rafka memandang Namira dengan tatapan mata yang sulit di artikan.
"kamu marah sama aku,Raf?" ucap Namira tak enak hati.
"menurut kamu, apa aku berhak marah?" Rafka membuang muka lalu duduk di meja kerjanya seperti menghindari pertanyaan Namira. Dari tadi ia tak menjawab pertanyaan Namira dengan jelas, tapi malah membalas dengan pertanyaan juga.
Namira pun mulai mengambil kesimpulan bahwa Rafka memang benar-benar melihatnya bersama Alvan tadi. Tapi yang membuatnya bingung, kenapa pria di depannya itu terlihat seperti sedang marah, padahal yang Namira tau, Rafka tidak memiliki perasaan apapun padanya.
"maksud kamu apa Raf? bukankah kita sudah sepakat sebelumnya untuk tidak saling mencampuri urusan masing-masing?"
"jadi benar kan yang ku bilang tadi? aku nggak ada hak sama sekali untuk marah sama kamu"
"maaf" hanya kata itu yang bisa Namira ucapkan. Dia sadar kalau secara tak langsung sudah menyakiti orang-orang di sekitarnya, termasuk Rafka.
Namira tidak menyangka kalau garis takdirnya akan berjalan seperti benang kusut seperti ini. Kalau tadi ia merasa bersalah pada Alvan, kini ia pun merasakan hal yang sama pada Rafka. Dia merasa salah karena seperti sudah berkhianat pada pernikahannya.
Meskipun tanpa cinta, kesetiaan dalam ikatan pernikahan harus tetaplah di jaga. Itu adalah prinsip Namira, tapi ia sudah mengingkari prinsip itu sendiri, dan ia merasa tak pantas untuk di maafkan.
Tiba-tiba pintu di ruangan itu terbuka dengan keras seperti sengaja di banting. Alena masuk ke dalamnya dengan penuh emosi membara yang menguasai dirinya.
"ini semua pasti ulah kak Rafka kan?" Mata Alena berkilat marah saat mengucapkan kalimat itu.
"maksud kamu apa Alena?" Rafka merasa kebingungan karena tiba-tiba di tuduh tanpa tau masalahnya.
"alaaah... kak Rafka nggak usah pura-pura bego deh! aku tau kalo pasti kakak yang udah buat mas Alvan menjauh dari aku. Iya kan?" sarkas Alena tanpa ampun.
"kakak bener-bener nggak ngerti apa maksud kamu, Alena" Laki-laki itu masih belum juga paham dengan arah tujuan pembicaraan adiknya yang tak ada angin,tak ada hujan tiba-tiba datang menyalahkannya sambil marah-marah.
__ADS_1
"kak Rafka pasti udah ngancam mas Alvan buat jauhi aku kan?" Air mata Alena kini mulai berjatuhan. Selain marah, ekspresi wajah gadis itu juga di penuhi kesedihan.
"apa kamu bilang?? Alena.... " perkataan Rafka seperti menggantung karena Namira menyela obrolannya dengan Alena begitu saja.
"kamu tenang dulu ya, Alena. Kita bicarakan semuanya baik-baik" Namira mendekati gadis yang sedang tersulut emosi itu,mencoba menenangkannya.
"nggak kak Namira. kak Rafka udah jahat sama aku, dia tega misahin aku dan mas Alvan dengan cara licik" Alena mulai mau bercerita pada Namira. Tapi sampai sini Namira belum mengerti permasalahan yang sebenarnya.
"coba kamu jelasin sama kakak, apa yang sebenarnya terjadi?" ujar Namira memancing Alena agar mau bercerita lebih banyak.
"hari ini mas Alvan tiba-tiba nggak bisa di hubungi kak, nomornya nggak aktif. Aku datangi ke kantornya juga nggak ada,kata karyawannya mas Alvan hari ini nggak datang ke kantor. Dia seperti hilang di telan bumi kak" cerita Alena panjang lebar sambil sesenggukan.
"mungkin dia sedang sibuk atau ada urusan lain, Alena" Namira coba memberikan pengertian. Ya, Alvan memang sibuk tadi, sibuk menunjukkan bukti tentang foto itu hingga harus mendatangi Rutan agar Namira percaya.
Namira sungguh merasa berdosa pada Alena. Bukannya menceritakan yang sebenarnya ia malah berbohong. Tapi memang tak ada pilihan yang lain untuknya, dia terpaksa harus berbohong demi menjaga perasaan adik iparnya.
"ya ampun Alena. kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?" Namira akan membuka mulut tapi Rafka mendahuluinya.
"udah lah kak, nggak usah bersandiwara. kak Rafka udah jahat sama aku. Aku benci sama kakak!" Hardik Alena kemudian langsung pergi meninggalkan Namira dan Rafka yang masih terperanjat dengan apa yang di dengarnya.
Rafka memegang kepalanya dan memijit pelipisnya pelan. Ia merasa sangat pusing karena semua yang terjadi hari ini. Masalah seperti datang menghampirinya bertubi-tubi.
"maafin aku Raf, ini semua gara-gara aku, sampai akhirnya kamu dan Alena yang terkena imbasnya" Namira merasa bersalah karena semua masalah yang menimpa kakak beradik itu.
"nggak perlu minta maaf, semuanya sudah terlanjur terjadi dan aku nggak menyalahkan kamu untuk semua itu" ucapan Rafka terdengar datar tapi menusuk.
"aku akan coba ngomong lagi sama Alena" Namira berkata kemudian pergi mencari keberadaan adik iparnya.
__ADS_1
Namira mengetuk pintu kamar Alena beberapa kali, tapi tak ada jawaban dari dalam sana. Dia pun membuka pintu di hadapannya lalu masuk ke dalam kamar yang tampak berantakan itu. Terlihat beberapa baju dan buku tergeletak begitu saja, tak berada pada tempatnya.
Mata Namira menyapu seluruh ruangan,tapi ia tak menemukan keberadaan Alena. Dia mengira, mungkin adik iparnya itu sedang ada di dalam kamar mandi karena pintu kamar mandi dalam keadaan tertutup.
Akhirnya ia putuskan untuk menunggu hingga Alena keluar, dengan duduk di kursi di depan meja rias milik Alena.
Tak sengaja Namira melihat sebuah buku diary berwarna pink bergambar Love di meja rias itu.
Sebagai manusia yang punya jiwa kekepoan yang tinggi, hati Namira meronta-ronta,seakan menyuruhnya untuk membaca tulisan dalam buku diary itu. Tapi di sisi hatinya yang lain, mencegah Namira untuk melakukannya.
Namira seperti berperang batin antara sisi malaikat dan sisi iblis yang menguasai pikirannya.
Setelah menimbang-nimbang cukup lama, akhirnya perang batin itu di menangkan oleh sisi iblis dalam hati Namira. Dia pun langsung membuka buku diary itu, lalu membacanya.
Hi diary..
Hari ini aku bahagia sekali, karena bertemu dengan seorang pria yang sangat baik dan juga tampan, namanya Alvan.
Dia seperti seorang superhero yang menyelamatkan ku dari seorang penjahat yang menggangguku pada saat itu.
Ku rasa, aku benar-benar jatuh cinta padanya sejak pertama kali bertemu. Karena selain baik,dia juga sangat menyenangkan. Aku selalu bahagia jika berada di sisinya.
Tuhan, ku mohon hadirkan cinta di hatinya untukku, karena rasa cintaku begitu besar untuknya.
Namira menutup buku diary itu dengan tangan bergetar. Dia tak menyangka kalau perasaan Alena ternyata begitu dalam untuk Alvan.
Rasa bersalah pun semakin besar melingkupi hati Namira. Dia merasa kalau semua itu adalah salahnya. Karena alasan Alvan mendekati Alena adalah agar bisa bicara dengannya dan membuktikan kejadian yang sebenarnya.
__ADS_1
Andai ia tak egois dan mendengarkan ucapan Alvan waktu itu, mungkin Alena tak akan menjadi korban.