Cinta Salah Target

Cinta Salah Target
Bab 53 Misi yang berhasil


__ADS_3

"Sudah, kami pesan itu aja mbak" ujar Alvan pada pelayan itu.


"baik kalau begitu, mohon di tunggu sebentar pak, pesanan akan segera kami antar"


"oke"


Pelayan wanita itu pun berlalu dari meja Alvan dan Namira untuk menyiapkan makanan yang mereka pesan.


"gimana sih Van, katanya tadi cuma nemenin makan aja? ini kok pake pesenin buat aku segala?!" protes Namira setelah pelayan tadi sudah pergi menjauh.


"yang namanya nemenin ya harus ikut makan juga dong! masa iya cuma diem sambil ngeliatin aku makan aja?! bisa-bisa aku nggak bisa nelan makananku kalo di liatin cewek cantik seperti kamu!" balas Alvan tak lupa dengan gombalan garingnya.


"ih.. serius dikit dong Alvan, jangan bercanda mulu!" Namira mulai tak sabar menghadapi sikap Alvan yang semau-maunya sendiri.


"aku emang serius Namira, dua rius malah!" seloroh Alvan mengeluarkan kalimat candaanya yang membuat Namira semakin kesal.


"hufft.. capek deh ngomong sama kamu!" keluh Namira sambil menelungkupkan kepalanya di meja.


Alvan tak bisa menahan tawa melihat tingkah Namira. menurutnya tingkah seperti itu membuat Namira semakin lucu.


Dia juga merasa puas karena misinya berhasil , untuk bisa mengajak Namira makan bersamanya. Sebenarnya bukan itu point pentingnya. Tapi tujuan Alvan yang terpenting adalah agar Namira mau makan, itu saja sudah cukup baginya.


Namira tampak cemberut dari tadi. Sedangkan wajah Alvan di penuhi dengan senyuman karena merasa sangat bahagia.


Tak butuh waktu yang lama, seorang pramusaji datang dengan membawa makanan yang mereka pesan.


"silahkan menikmati hidangannya pak, bu" ujar seorang pramusaji wanita itu setelah makanan dan minuman yang Alvan pesan tertata rapi di meja.


"terima kasih mbak" ucap Alvan.


"sama-sama" pramusaji itu pun pergi untuk melanjutkan pekerjaan lain yang sudah menanti.

__ADS_1


"ayo di makan dulu Namira" Alvan mendorong hot plate yang berisikan tenderloin steak di hadapannya agar lebih dekat dengan posisi Namira.


"kan udah aku bilang kalo aku nggak lapar" tolak Namira.


"ya udah kalo gitu aku juga nggak akan makan sebelum kamu makan steak kamu. Aku akan tunggu sampai kapan pun, sampai restoran tutup pun ngga masalah buat aku" tukas Alvan yang membuat Namira semakin pusing.


Akhirnya dengan berat hati, ia pun memakan makanan yang di pesan Alvan karena tak mau berdebat lagi. Menurutnya lebih baik ia mengalah dan memakannya dari pada harus memperpanjang masalah dengan perdebatan yang tak ada habisnya. Lebih baik ia menuruti keinginan laki-laki itu, biar urusannya bisa cepat selesai.


Mereka pun makan dengan tenang tanpa ada percakapan lagi. Namira hanya ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat agar bisa langsung pulang setelah itu.


Seusai menghabiskan makanannya, mereka pun langsung pergi dari tempat itu. Tentunya setelah Alvan membayar semua makanan yang di pesannya tadi.


Seperti janji Alvan tadi, ia langsung mengantarkan Namira ke tempat tinggalnya seusai makan malam.


"makasih ya Van" ucap Namira sembari keluar dari mobil Alvan.


"sama-sama Namira, aku juga makasih karena kamu udah nemenin aku makan tadi" balas Alvan seperti merasa tak berdosa, yang membuat Namira memutar bola matanya malas.


"oke Namira, sampai jumpa besok" Alvan melambaikan tangannya.


Namira membalas lambaian tangan Alvan ogah-ogahan lalu masuk ke dalam rumah yang sudah beberapa bulan ini ia tinggali. Sedangkan Alvan langsung menginjak pedal gasnya setelah melihat Namira hilang dari pandangannya.


Namira memutar kenop pintu utama, tapi ternyata pintunya sudah terkunci. Memang ini sudah lumayan malam, jadi asisten rumah tangganya pasti sudah mengunci semua pintu. Karena mampir ke restoran tadi jadi membuat Namira sampai di rumah lebih malam melebihi perkiraannya.


Namira memencet bel rumah besar itu, berharap bik Siti ataupun bik Imas membukakan pintu.


Beberapa saat kemudian pintu terbuka dan muncullah bik Imas dengan wajah bantalnya di balik pintu.


"Eh.. non Namira? bagaimana keadaan non Alena, non?" tanya bik Imas penuh antusias setelah Namira masuk ke dalam rumah.


"Alena baru selesai menjalani operasi bik, dan keadaannya juga sudah mulai membaik dari pada sebelumnya" jelas Namira sambil meletakkan tas selempangnya lalu duduk di sofa ruang tamu untuk melepas lelah.

__ADS_1


"Alhamdulillah.. saya tadinya khawatir sekali sama keadaan non Alena. Den Rafka ndak ikut pulang non?" tanya bik Imas lagi.


"nggak bik, Rafka masih di sana nunggu Alena sadar" jawab Namira.


oh.. begitu. oh iya, non Namira mau saya buatkan teh hangat atau barangkali mau makan? biar siapkan non" tawar bik Imas.


"nggak usah bik, tadi saya udah makan sebelum pulang ke rumah. saya mau langsung istirahat ke kamar aja" tolak Namira halus. Sekarang rasanya dia hanya ingin segera sampai di kamar dan mengistirahatkan badannya yang sudah terasa lelah.


"baik non Namira" balas bik Imas.


Namira pun bergegas pergi ke kamarnya setelah berpamitan pada asisten rumah tangganya. Dia membuka pintu kamar lalu menutupnya kembali setelah memasuki ruangan itu.


Jika sedang di kamar sendirian begini, membuat perasaan Namira jadi sedikit aneh. Dia merasa kesepian karena ketidak hadiran suaminya di kamar ini.


Meskipun mereka jarang mengobrol, tapi Namira sudah terbiasa dengan kehadiran Rafka di sekitarnya. Apalagi, kamar ini bukan kamarnya sendiri, melainkan kamar Rafka.


Namira memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum istirahat, karena seharian ini dia banyak mengeluarkan keringat karena beraktivitas.


Ia menikmati setiap tetesan air yang mengalir menyentuh kulitnya. Sangat nyaman dan menyegarkan.


Selesai mandi, seperti biasa Namira memakai toner, serum dan terakhir night cream di wajahnya untuk perawatan. Dia melakukan kegiatan itu setiap hari tanpa absen. Itulah yang membuat kulit wajah Namira senantiasa sehat dan bersinar. Di dukung wajah cantik alami yang sudah ia dapatkan sejak lahir.


Setelah melakukan semua ritual sebelum tidurnya, Namira pun naik ke tempat tidur kemudian memasang selimut di tubuhnya lalu mencoba untuk memejamkan mata setelah memasang alarm agar besok tidak bangun kesiangan.


Tak butuh waktu lama, Namira sudah terbuai ke alam mimpi. Saking capeknya tubuh karena kesibukan yang ia lakukan hari ini.


Sejenak Namira bisa melupakan semua masalah dan kepelikan hidup, untuk menghadapi hari esok yang tak tau apalagi yang akan terjadi selanjutnya.


Tidur Namira sangat lelap hingga alarm yang berbunyi sampai tak bisa di dengarnya. Sudah beberapa kali alarm yang di pasang Namira itu meraung-raung membangunkan pemiliknya. Tapi pemilik dari jam alarm itu tetap tak bangun juga.


Beberapa saat kemudian, ponsel Namira berbunyi dan tertera nama Rafka sebagai pemanggilnya.

__ADS_1


Sudah berkali-kali juga nomor itu menghubungi, tapi Namira tak bangun juga. Padahal suaminya itu akan mengabarkan sesuatu yang penting dari seberang sana.


__ADS_2