
*Membenci Saya Juga Butuh Tenaga Pak!!!
Setelah usai wisuda profesi, Iksiru pun memutuskan untuk istirahat beberapa bulan, karena saat ini ia belum ingin terikat dengan pekerjaan.
"Kamu gak berniat mau ngelamar kerja di RS yang pernah kamu ceritain ke mamah waktu itu?" tanya mamanya penasaran.
"Yang di jogja itu mah?"
"U'um, keliatannya rumah sakit itu bagus kok nak, apalagi kamu udah dapet rekomended dari direkturnya" ucap mamanya mengangguk.
"Nanti mah, aku lagi malas mikirin itu"
"Umm! ow iya nanti sore, tante Ika, Rafkil dan papah nya mau mampir kerumah, kamu siap-siap yah" ucap mamanya.
"Loh! kok mamah gak bilang sih dari tadi, kalo mereka mau kesini"
" Loh, memangnya kenapa? ini kan baru jam 10 pagi nak"
"Mah! setidaknya kita bersih bersih, rapihin rumah, masak hidangan buat mereka, kasian kan mah, mereka jauh jauh dateng ke sini terus kita gak nyiapin apa-apa!"
"Iya juga yah, hmm! ya udah, kita bagi tugas aja, kamu yang masak, mamah yang bersih bersih rumah, okey?"
"Ok mah!"
Tak menunggu waktu lama, Mereka lalu mengambil tugas masing-masing, Iksiru pun menuju dapur dan menyiapkan bahan bahan untuk membuat cake, ia sangat bersemangat membuat beberapa jenis cake untuk Rafkil dan keluarganya, mengingat ia masih punya utang budi dan utang materi sama rafkil.
"Gimana? udah beres belum?" tanya mamanya.
"Tinggal dikit lagi mah, mamah gimana?" sembari mengusap-usap keringat yang mencucur ke dahinya.
"Udah dong! hehe, kasian anak mamah ini repot-repot buatin cake untuk keluarga Rafkil"
"Yah! sesekali kan mah, hehe, tapi mudah-mudahan aja mereka suka dengan cake buatan Iksi yah mah"
"Kalo di buat dengan susah payah seperti ini, pasti mereka bakal suka, karena rasanya gak pernah bohong, hehe!" ucap mamanya bercanda.
"Hehe mamah ada ada aja, ini bukan iklan kecap bango mah"
"Hehe! kalo udah beres mandi gih badan kamu penuh tepung semua"
"Ok mah! umaaah" Iksi yang gemesh lalu mencium mamanya.
Kini jam dinding telah menunjukkan pukul 16.00, dimeja ruang tamu sudah dihidangkan beberapa jenis cake yang di buat oleh tangan iksiru sendiri, dan minuman jus buah strawberi kesukaan rafkil.
"Piipp!!" terdengar bunyi klakson mobil yang menepih tepat di depan rumah Iksi.
"Eeh jeng ratna!" ucap mama Rafkil sembari turun dari mobil, dengan gaya modis dan kacamata riben yang harganya mencapai ratusan juta rupiah.
"Iya jeng Ika, ya ampun cantik bangat jeng, apa kabarnya jeng?" ucap mama Iksi yang menyambut kedatangan mereka.
"Alhamdulillah sehat jeng! iksi mana jeng?" mereka lalu bersalaman sembari cipika dan cipiki.
"Ada di dalam jeng, eh pak Burhan" sembari bersalaman dengan pak Burhan.
"Iya Ratna, adnan ada?"
"Iya ada, suami saya sudah lama menunggu kedatanganmu, ini..ini Rafkil?" ucap ratna sambil menunjuk rafkil
"Iya ini Rafkil, hehe"
"Halo tante!" balas Rafkil.
"Halo, ya allah! ganteng banget kamu nak, ow iyah ayo masuk kita minum minum dulu"
__ADS_1
Diruang tamu yang sangat sederhana itu, pak Burhan dan pak Adnan saling melepas rindu dan bernostalgia dengan kisah kisah silam mereka yang begitu indah dan mengesankan, begitupun tante Ika dan bu Ratna, terkadang pembicaraan mereka sesekali diiringi tertawa lepas, berbeda dengan Rafkil, ia hanya sibuk mengotak atik Hpnya dan senyum senyum sendiri melihat layar handphonenya.
Setelah beberapa menit mereka berbincang-bincang, Iksi pun belum juga ke ruang tamu.
"Iksi? Iksi?" teriak bu Ratna.
"Iya mah, bentar!" ucap Iksi dari dalam kamarnya.
"Ayo cepatan nak, tante Ika, Rafkil dan papah nya udah datang nih!"
"Iya mah ini udah mau kesitu" Iksi pun berjalan menuju ruang tamu, dan mengambil tempat duduk tepat di sebelah mamanya tiba-tiba ia dan Rafkil tak sengaja saling menatap dan ternyata.....
"Kamu.?" Rafkil sangat terkejut melihat Iksi.
"Haa? Do..do..dokter Akil?" Iksi tercengang dan merasa heran kenapa dr. Akil bisa ada dirumahnya.
"Ouw, jadi kalian udah saling kenal? hihihi bagus dong kalo kek gini" sambung tante Ika.
"Jadi Iksi yang selama ini mami sering ceritain ke papi ternyata Iksiru!" ujar pak burhan, yang juga sangat terkejut itu.
"Ow jadi papi juga udah kenal dengan Iksi?"
"Iya, dia pernah praktek di RS kita mi"
"Tante, ra..Rafkil mana tante?" tanya Iksi terbata-bata layaknya orang yang sedang bermimpi.
"Jadi gini Iksi sayang, Akil dan Rafkil itu orang yang sama, nama lengkapnya Asrafkil Farizh hanya saja di rumah sakit dia lebih sering di panggil akil, kalo keluarga dekat semua manggilnya Rafkil." ucap tante Ika mencoba menjelaskan yang sebenarnya pada Iksi.
Iksi masih saja tercengang dan masih belum percaya dengan semua ini, Rafkil pun masih terus berdiri dengan wajah memerah sembari menahan amarahnya yang sedikit lagi akan meluap itu.
"Rafkil, duduk sayang, masih banyak yang mau kita omongin disini!" tiba-tiba tante Ika bersuara lirih pada rafkil.
Tanpa kata, ia pun mengambil tas dan jas putihnya yang ia simpan di sofa, lalu bergegas menuju pintu dengan maksud ia akan pulang terlebih dulu, sontak pak Burhan bersuara padanya.
" Rafkil! Mau kemana kamu?"
"Rafkil! Kesini kamu, kita belum selesai ngomong kamu udah mau pulang!" tegas papahnya.
"Pah, dari tadi mama sama papah ngomong panjang lebar ketawa ketawa, itu belum selesai juga? Belum puas juga mama sama papah ngomong?" tukas rafkil
" Rafkil! papah suruh kamu duduk, duduk sekarang!" ucap papah nya dengan suara lantang.
Dengan keadaan terpaksa Rafkil pun kembali duduk di sofa sembari menahan amarahnya, pandangannya selalu tertuju ke arah pintu seakan ia tak ingin melihat wajah iksiru.
"Aam! ini diminum dulu pak Rafkil!" tukas Iksi ragu-ragu sambil menyedorkan segelas jus strawbery kesukaannya.
"Pyuurk..bluuirr" dengan sengaja Rafkil menghempas gelas yang berisi jus tersebut hingga jatuh dan berhamburan dilantai.
"Rafkil!!!" teriak papah nya.
"Rafkil, kamu apa apaan sih!" pun tante ika turut geram dengan sikap rafkil.
"Udah, gak apa-apa om tante, pak Rafkil gak sengaja kok numpahin jusnya, hehe biar saya bersihin dulu" ucap Iksi berusaha tegar dihadapan rafkil dan keluarganya.
"Pah, katanya mau ngomong!" tukas Rafkil mengalihkan pembicaraan.
"Ada baiknya kita mulai saja pembicaraan kita, pak Adnan, bu Ratna, maksud kedatangan kami kesini ingin menunaikan hajat ingin menyambung silaturahim, lebih cepat lebih baik, jika iksi dan keluarga berkenan rencananya bulan depan kami akan menikahkan Rafkil dengan Iksi!" tukas papah nya dengan tegas.
"Apah? bulan depan?" Rafkil terkejut mendengar ucapan papah nya.
"Rafkil shut up, Jadi gimana pak Adnan dan bu Ratna?"
"Burhan! jujur kami sangat berterimakasih dengan niat baik kalian, saya dan Ratna cukup gembira mendengarnya tetapi kami serahkan semuanya ke Iksi, karena ini masa depan dia, dia yang berhak memilih dan menentukan dengan siapa ia akan menyusun bahtera rumah tangga."
__ADS_1
"Jadi gimana iksi sayang?" tanya tante Ika sangat excited.
"Jujur saja! om, tante, Iksi sangat terkejut mendengar ucapan om barusan, hanya saja Iksi belum bisa memberikan jawabannya sekarang, beri Iksi waktu 2 minggu untuk memikirkan hal ini?"
"Boleh Iksi"
"Boleh kok sayang, tapi kalo bisa jawabannya jangan yang mengecewakan tante yah"
"Yeleh, sok belagu lu, ngomong aja sekarang ngapain harus nunggu 2 minggu, kalo tidak yah tinggal bilang aja tidak, selesai kan masalah" sahut Rafkil kesal.
"Maaf pak Rafkil, saya gak bisa memutuskan perkara ini secara terburu-buru, takutnya akan ada penyesalan dikemudian hari"
"Hum, mama sama papah gak bakalan nanya, Rafkil suka atau gak sama dia?"
"Rafkil!" teriak lirih tante Ika.
"Rafkil, kita udah bicarakan ini sebelumnya, so stop talking about that, okey" tambah pak Burhan.
"Okey! sudah selesai pembicaraan kan, so Rafkil balik duluan yah, pah, mah, om, tante!" ucap Rafkil berpamitan sembari mencium tangan ke dua orang tuanya dan kedua orang tua Iksi.
Sesaat ia akan menuju mobil tiba-tiba, ayahnya menyusul dari belakang.
"Rafkil, makasih ya nak kamu mau turutin kemauan mama kamu!"
"pah Rafkil terpaksa setuju waktu itu, dan rafkil sama sekali gak tau kalau wanita itu ternyata dia, kalo rafkil tau dari awal rafkil gak bakalan mau pah"
"Emang kamu pikir papah juga tau kalau ternyata anak itu yang sering diceritakan sama mama kamu, yang namanya jodoh gak ada yang tau rafkil, dan mungkin saja dia benar-benar jodoh kamu"
"Enough pah, satu yang mau aku ungkapkan saat ini, aku malu pah punya calon mertua yang cacat kek gitu"
"Rafkil! Jangan mulai lagi yah, papah sudah cukup bersabar dengan sikap kamu selama ini, huuuufttt ya sudah papah ke dalam dulu, hati-hati menyetir"
Ungkapan Rafkil tak sengaja di dengar oleh Iksi yang hendak membawakannya sebuah parsel yang berisi sekantong jus strawbery dan beberapa jenis cake yang belum sempat dicicipi Rafkil, dengan menahan air mata yang sedikit lagi akan menetes itu serta rasa sakit yang amat dalam ia berusaha untuk tampil tegar lalu menghampirinya.
"Eh Iksi!" sambung pak Burhan sedikit terkejut melihat iksiru
"Hehe iya om"
"Ya udah om masuk dulu yah"
"Iya om, aam pak Rafkil, ini takutnya pak Rafkil nanti lapar di tengah jalan" sembari menyedorkan parsel.
Dengan tidak menghiraukan perkataan Iksi, ia pun segera membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil, sesaat ia akan menutup pintu tiba-tiba Iksi menahan pintu mobil tersebut.
"Pak, saya tau bapak sangat membenci saya, tapi saya mohon tolong terima ini, kesehatan bapak jauh lebih penting dari segalanya"
"Bawa pulang aja, lagi pula kalo saya lapar, saya tinggal beli aja di restoran kamu gak perlu capek capek memberikan perhatian sama saya, karena saya tidak butuh perhatian dari kamu"
Setelah pintu mobil berhasil ditutupnya, iapun kembali akan menutup kaca mobilnya, tak tanggung tanggung iksiru memasukkan jari-jarinya disela kaca mobil tersebut hingga ia menjerit kesakitan karena terjepit, tak tega rafkilpun menurunkan kembali kaca mobilnya.
"Kamu tuh udah gila yah?"
"Saya tau kok, dari tadi pak Rafkil belum makan makanya saya bawain ini untuk mengganjal perut bapak"
"Saya gak suka sama kamu, saya benci sama kamu, saya benci segala sesuatu yang berkaitan dengan kamu, termasuk ini" ia menunjuk parsel yang dipegangi iksiru.
"Ya sudah terserah bapak, yang penting bapak mau menerima ini, karena membenci saya juga butuh tenaga pak, jika bapak merasa tak membutuhkannya bapak ngasih aja ke orang yang lebih membutuhkan dijalan nanti, itupun kalau bapak masih menghargai susah payah saya membuat cake itu, jika tidak bapak buang aja" tukas Iksi sembari berlalu meninggalkan Rafkil.
Saat perjalanan pulang, Rafkil terjebak macet Hingga membuat perutnya semakin lapar, ia terus memandangi parsel yang diberikan Iksi, tetapi tetap saja gengsi masih mengalahkan rasa laparnya. Ia mencoba melihat kesamping kiri dan kanannya namun tidak ada restoran sama sekali, hingga ia benar benar tak mampu menahan rasa laparnya terpaksa ia membuka parsel tersebut.
"Waduh aku makan gak yah? Kalo aku gak makan aku bakalan mati disini" ucapnya dalam hati.
Dalam keadaan macet, didalam mobil Rafkil begitu menikmati cake dan jus strawbery buatan Iksi.
__ADS_1
"Alhamdulillah, akhirnya gue kenyang juga, untung aja tadi dia ngotot masukin parsel ini, kalo gak gue bisa mati kelaparan nih, gila dia pintar masak juga ternyata yah" ucap Rafkil.
Dirumah Iksi mengunci pintu kamarnya dan menutup mulutnya dengan bantal sambil terisak-isak terus menangis mengingat ucapan Rafkil yang menghina ayahnya, ia tidak ingin suara tangisan nya terdengar oleh kedua orang tuanya.