Cinta Seorang Perawat

Cinta Seorang Perawat
Episode 53


__ADS_3

*Sahabat Lama


langkah kaki rafkil terhenti seketika, saat ia mendapati sosok wanita yang belum pernah ia temui sebelumnya, wanita itu kini sedang terisak sambil menggenggam tangan kanan iksi, dengan segera iapun menghampiri wanita itu


"maaf! anda ini siapa?" pertanyaannya terdengar sedikit to the point ya itulah dr. rafkil, sosok pria yang paling tidak suka dengan kalimat basa-basi dengan segera wanita itupun menoleh ke arah rafkil, sontak saja ia melongo dihadapan rafkil



"aam...hai sa saya anisa!" balasnya dengan salah tingkah tak sungkan-sungkan ia menyedorkan tangannya seraya berkenalan


"anisa? anisa siapa?" tanyanya lagi, masih dengan ekspresi yang sangat datar


"aam..saya sahabat iksi, dulu waktu kuliah S1 kami cukup akrab" pungkasnya sedikit malu-malu, sepertinya anisa mulai terkesima dengan ketampanan yang dimiliki oleh dokter rafkil


"ouw yah..! tapi iksi gak pernah apa-apa tentang kamu" tegasnya


"jadi anda kenal dekat dengan iksi?" rupanya anisa belum menyadari kalau sosok pria tampan dihadapannya saat ini ialah suami dari sahabatnya


"aam..dok! dokter ilyas minta konfirmasi terkait perubahan jadwal!" ujar salah satu perawat yang hendak memotong ucapan mereka saat ini

__ADS_1


"huum, bilang sama dr. ilyas, aku ambil cuti tiga hari dan semua jadwal operasi aku selama itu, dilimpahkan ke dia" lagi-lagi anisa mulai nyengingiran tak menentu, saat mengetahui pria tampan itu yang ternyata juga seorang dokter


"ok, baik dok!" balas perawat itu sembari bergegas meninggalkan mereka


"wah..wah..wah!!! boleh aku ngomong sesuatu?" ucapnya dengan tingkah yang kegirangan, sontak rafkil melihatnya dengan tatapan yang sedikit aneh


"mau ngomong apa?" ucapnya singkat


"kamu tampan banget!" sembari cengengesan tak menentu, rafkil semakin ilfil dengan tingkah anisa saat ini


"heeem, terimakasih! meskipun kamu bukanlah orang pertama yang ngomong seperti itu ke saya, aam boleh saya jenguk isteri saya sebentar" pungkasnya pada anisa yang terlihat sedikit menghalangi jalannya


"aam jadi iksi ini.." anisa seperti tak ada kekuatan untuk melanjutkan ucapannya


anisapun hanya terdiam, mungkin saja ia merasa sedikit malu atas sikapnya yang ceplas-ceplos terhadap rafkil, Susana saat ini terasa canggung bagi anisa bagaimana tidak, perasaannya tengah campur aduk antara malu dan merasa bersalah


"assalamualaikum! dr. Rafkil" ucap syifa sedikit menghebohkan suasana yang terlihat canggung itu, sembari menyedorkan sekotak buah pada rafkil


"wa'alaikumussalam, syifa!!! maaf yah syif kami gak sempat hadir dihari pernikahan kalian waktu itu" ucapnya

__ADS_1


"eh, gak apa-apa kok dok, aku juga paham dengan kondisi dokter sekarang, iksi gimana belum ada kemajuan?" syifa belum menyadari kehadiran annisa saat ini


"hum..belum ada perkembangan syif, suami kamu mana?" ucapnya lesuh


"ada diluar, huufffttt iksi itu wanita yang kuat aku yakin dia pasti mampu ngelewatin ini, eh bay the way thanks yah atas kadonya, suami aku suka banget" syifa memberikan sedikit semangat pada rafkil


anggukan rafkil saat ini ialah jawaban terbaik disaat kata-kata tak bisa mengukir sandiwara, karena jika terlalu banyak berbicara nantinya hanya akan membuat rafkil semakin bersedih


"ouw yah ini siapa?" tanya syifa pada rafkil, yang seketika mulai menyadari akan kehadiran anisa


"aku anisa, sahabat iksi!" jawab anisa spontan, syifa yang merasa sedikit asing dengannya hanya sekedar memberikan senyuman dingin, tanpa memperpanjang percakapan lagi dengan anisa


"ow yah, anak kamu yang menggemaskan itu gimana keadaannya?" ia mengalihkan pandangannya pada rafkil, kali ini meski baru kenal syifa seakan tak menyukai dengan kehadiran anisa disini


"alhamdulillah sehat syif" pungkasnya


"dia udah punya nama belum?" syifa semakin penasaran, dan berusaha tidak membuat celah pada anisa


"udah, namanya Rafzilda Mahya Anugerah" satu demi satu rafkil mengeja nama anaknya yang terdengar sedikit panjang itu

__ADS_1


"waaow nama yang cantik!" balasnya


saat ini anisa bagaikan sebuah patung yang terus saja memerhatikan kehebohan syifa dan rafkil saat bercengkrama, ia sedikit iri melihat syifa yang begitu akrabnya melepas tawa dengan rafkil


__ADS_2