
*1 Minggu Setelahnya
setelah sejauh ini iksi masih saja betah untuk terus menutup matanya, masih dengan suasana yang sama, tubuhnya di jerat berbagai macam alat-alat medis untuk memonitoring kondisi kesehatannya, tentunya selalu memicu tangis bagi orang-orang terdekatnya
"Cheri..udah seminggu cheri tertidur pules seperti ini, apa cheri gak penasaran dengan bayi kita? bayi kita cantik banget hehe matanya mirip aku! hidungnya mungil seperti hidung kamu cheri" hampir setiap harinya selepas dinas rafkil selalu bercengkrama sendiri dihadapan iksi yang faktanya iksi tidak bisa memberikan tanggapan apa-apa dengan kondisinya saat ini.
"Cheri mungkin gak pernah tau, ya diruangan ini pertama kali aku melihat cheri, dibalik jendela ini aku terus memerhatikan cheri, yang saat itu cheri tengah menolong seorang anak kecil yang sedang mengalami perdarahan hebat, hehe sedikit lucu aja dulu aku pernah sebenci itu terhadap cheri" lagi-lagi ia memutihkan air mata, rasanya terlalu berat cobaan kali ini yang harus ia hadapi
"kil..?" panggil mama ika, dengan memegang pelan pundak rafkil
"eh mah? mamah udah nyampe?" sesegera mungkin ia menyeka tithan air matanya sembari mencium tangan mamah ika
"makan dulu, nih mama bawain makanan, habis makan rafkil istirahat ya? rafkil kelelahan belum istirahat dari kemaren" mama ika sangat khawatir dengan kondisi anak pertamanya itu
"iya mah, mama ratna sama papah adnan belum dateng mah?" tanya rafkil pelan
"besok mereka kesini, kasihan papa mertua kamu, gak bisa terlalu bolak-balik mereka rafkil, hari ini biar mamah yang jaga iksi" dengn mata yang sendu ia terus menatap rafkil yang hendak menikmati makanan buatannya itu
__ADS_1
"loh ini ASI siapa? ASI dari Zeyyan lagi?" tanya mamahnya dengan lantang
"iya mah!" ucapnya lesuh
"rafkil!!! udah berapa kali mamah kasih tahu sama kamu, berhenti nerima ASI dari Zeyyan, pokoknya mamah gak mau cucu mama minum ASI dari Zeyyan, mamah kan udah bilang mamah udah dapet pendonor ASI dari Ukhti Fatihah" dengan cerewetnya mama ika terus saja menggerutu dihadapan rafkil
"mah! I know, but...rafkil gak enak sama Zeyyan mah, lagi pula semua ASI ini bisa kan di Stock in di ruang NICU, udah deh mamah gak usah ngomel lagi tambah sakit kepala rafkil tau gak!" cetuhnya sembari bergegas ke ruang istirahat dokter
********
usai sholat ashar, rafkil mulai termenung lagi, akhir-akhir ini ia lebih sering menghabiskan waktu di rumah sakit, bahkan beberapa malam ia rela terbaring duduk saat menemani iksi di ruang intensif
"astaghfirullah! dila kok gak ketok pintu sih" tegurnya sangat lembut
"sorry kak, dila buru-buru, nih baju kakak udah dila cuciin semuanya!" dengan menampilkan senyum manisnya ia lalu sedorkan beberapa pakaian rafkil yang terbungkus rapih dala. kresek bening
"huum...bener cuci sendiri? gak dibawa ke laundry?" tanyanya sedikit meledek
__ADS_1
"iya lah kak! gini-gini juga dila jago nyuci loh" ungkapnya dengan ekspresi beribu-ribu rasa bangga
"huum, ya udah duduk dulu, ada yang mau kakak omongin sama kamu"
"haaduuuh!!! apa lagi sih kak!" kali ini wajah dila terlihat sedikit cemberut, namun tetap saja ia selalu menuruti perintah sang kakak tersayangnya itu
"nih, minggu depan kakak mau minta tolong sama dila, tolong jagain kak iksi yah, soalnya mama minggu depan kan mama mau keluar kota!" tegasnya sedikit merayu
"haah??? mamah sama papahnya kan ada, kenapa gak suruh mereka aja yang jaga" ucap dila sangat kesal
"iya mereka juga jagain kak iksi kok, hanya saja mereka gak mungkin bolak-balik kesini dila" dengan pelan rafkil berusaha memberikan pengertian pada dila, yang pemikirannya belum sedewasa usianya
"katanya gak cinta, tau-taunya udah punya ponakan aja aku ini, nasib-nasib masih muda udah ada yang bakal manggil aku tante" ujarnya dengan tingkah cemberut manja
"apah tadi? apa tadi? dila ngomong apa?" terus saja rafkil membuat adik semata wayangnya itu merasa kesal
"ok..minggu depan aku yang jagain kak iksi" ujarnya sedikit lantang
__ADS_1
sontak rafkil mulai tersenyum melihat tingkah lucu adiknya itu, saat dila akan berpamitan pulang ia masih saja menjailinya, kekesalan yang terlihat dari ekspresi wajah sang adik, setidaknya sedikit membuat rafkil merasa terhibur