Cinta Seorang Perawat

Cinta Seorang Perawat
Episode 7


__ADS_3

*Menahan Amarah


Menjadi mahasiswa profesi ners bukan lah hal yang mudah, banyak yang menyebut mereka sebagai pekerja tanpa gaji, kenapa tidak, di setiap stasenya mereka selalu di sibuk kan dengan jadwal dinas layaknya perawat yang sudah bekerja, ditambah lagi penulisan tugas kampus seperti askep individu dan kelompok yang harus diselesaikan.


*****


Stase demi stase telah dilaluinya tak terasa delapan bulan sudah Iksi menikmati proses kuliah profesinya, dan saat ini Iksi telah memasuki stase terakhir yakni stase keperawatan gawat darurat, hari ini Iksi berangkat lebih awal dari sebelumnya, hal ini dikarenakan hari perdana penerimaan dinas di salah satu rumah sakit berbintang lima yang ada di jogja.


"Minggu pertama dinas di UGD, harus banyak-banyak minum vitamin nih, jangan sampe sistem imunku menurun karena kelelahan" gumam Iksi dalam hati.


"Minggu pertama lu dinasnya diruang apa syif?" tanya Iksi pada Syifa yang duduk tepat di sampingnya.


"Aku minggu pertama di ruang ICCU, lu minggu pertama di ruang apa Iksi?" tanya Syifa balik.


"Aku di UGD syif!"


"haha, semangat yah Iksi!" ucap syifa menyemangati sembil menepuk-nepuk pundak Iksiru.


Usai kegiatan penerimaan dinas, seluruh mahasiswa/i profesi ners bergegas menuju ruangan dinas yang sudah terjadwalkan. Iksi bersama tiga orang temannya bergegas menuju ruang unit gawat darurat, disana mereka begitu sibuk melayani pasien yang silih berganti datang dengan berbagai keluhan memenuhi ruangan UGD.


"Allahu akbar! allahu akbar!" terdengar suara adzan zuhur menggema, menandakan waktunya Ishoma.


"Fan aku istirahat duluan yah" ucap Iksi pada Alfan yang juga salah satu teman dinasnya di UGD.


"Okey!" jawab Alfan sembari mengancungkan jempolnya.


Iksi pun bergegas menuju masjid yang ada di RS tersebut, yang letaknya cukup jauh dari UGD, saat perjalanan menuju masjid langkahnya terhenti seketika, saat melihat wajah seorang anak kecil yang begitu pucat, dan tubuhnya lemas serta terlihat banyak darah yang merembes di pahanya, ibunya hanya bisa menangis sembari membersihkan rembesan darah menggunakan tissu.


"permisi! namanya siapa bu?" tanya Iksi dengan suara pelan.


"Iya sus, nama saya Laksmi, ini anak saya Reihan sus, tolong sus, tolong anak saya suster! hiiks..hiiks..hiiks!" jawab ibu Laksmi sambil menangis terseduh-seduh melihat kondisi anaknya.


"Iya bu, ibu yang tenang yah bu!" ucap Iksi menenangkan sambil megelus-elus pundak ibu Laksmi.

__ADS_1


"Hai! Reihan sayang boleh kakak liat lukanya bentar?" ujarnya sembari merayu Reihan, karena kebanyakan anak kecil takut dengan instrumen kesehatan, jadi harus menggunakan rayuan ekstra untuk meluluhkan hati mereka.


"U'um! hiiks..hiiks..hiiks" ucap Reihan mengangguk sambil terisak-isak menandakan ia mau.


Seketika Iksi pun mengeluarkan perban gulung, gunting, dan beberapa lembar kasa serta cairan NaCl yang ada di dalam ranselnya, ia lalu melakukan balut tekan untuk menghentikan perdarahannya, setelah itu, iksirupun menutup luka dengan perban gulung, kemudian ia membersihkan rembesan darah yang sudah kering pada area luka tersebut.


"Okey! udah selesai Reihan sayang, hmm! pinter banget sih!" Iksi meberikan pujian hebat pada Reihan sambil tersenyum lebar lalu mencubit ke dua pipi Reihan.


Sontak bu Laksmi memeluk Iksi sebagai tanda ucapan terimakasih yang amat mendalam.


"Terimakasih sus! terimakasih, ibu gak tau harus ngomong apa lagi, hiiks..hiiiks..!!"


"Iya, kembali kasih bu, kenapa ibu gak bawa reyhan ke UGD tadi, biar cepat di tangani?" ucap Iksi menenangkan sambil mengelus-elus pundak bu Laksmi.


" Ibu gak punya punya uang sus, uang yang ada hanya cukup untuk makan dan membiayai pengobatan ayahnya reyhan" ucap bu Laksmi.


"Emang ayahnya reyhan sakit ap...."


Belum selesai Iksi melontarkan pertanyaan, tiba-tiba dari belakang ada seorang pria yang memotong pembicaraannya.


Iksiru pun menoleh ke belakang, terlihat sosok seorang pria berpenampilan rapih dan mengenakan jas putih, pria tersebut berparas tampan, berkulit putih serta bermata sipit layaknya orang yang berkebangsaan korea.


"Aam! sa..saya dok?" tanya iksiru tercengang


"Siapa lagi kalo bukan kamu yang mengenakan seragam putih-putih disini" lanjut dokter tersebut dengan gaya arrogannya.


"Aam, iya dok, sa..saya mahasiswi praktek disini" ucap iksiru terbata-bata.


"Ikut ke ruangan saya sekarang" tegas dokter tersebut.


"Iya, tapi saya sholat dulu dok"


"Setelah sholat temui saya di ruang bedah" lanjut dokter tersebut, sembari berlalu meninggalkan Iksi.

__ADS_1


Usai menunaikan sholat dzuhur, Iksi pun bergegas menuju ruang bedah yang letaknya sekitar 200 m. dari masjid tersebut. saat ia sampai di ruang bedah tepat didepan pintu, Iksi menghentikan langkahnya, seakan ia tak punya keberanian untuk masuk, setelah lama bepikir akhirnya ia memberanikan diri untuk masuk kedalam.


"Permisi!!" ucap Iksi sembari membuka pintu.


"Iya ada apa dek?" tanya seorang perawat yang bertugas di ruangan itu.


"Aam! pak, saya mau ketemu dengan dokter" ucapannya terdengar sangat canggung.


"Dokter siapa dek?" tanya perawat tersebut.


"Waduw! aku gak tau lagi siapa nama dokter tadi" gumam Iksi dalam hati.


"Aam! aku gak tau namanya, tapi yang jelas wajah dokter itu mirip orang korea pak"


Perawat tersebut tertawa kecil mendengar ucapan iksiru yang polos itu, ia sudah paham siapa yang dimaksud Iksi.


"Ohow! dokter Akil, hehe, bentar yah dek aku sampein dulu ke dr. Akilnya" sembari bergegas ke ruang dr. Akil.


Selang beberapa saat iksirupun di izinkan untuk menemui dr. Akil di ruangannya.


"Permisi?" ucap iksiru sambil mengetuk pintu.


"masuk, silahkan duduk" sahut dr. akil, dengan gayanya yang arogan, ia menyuruh iksiru untuk duduk.


"Umm! kenapa saya di panggil kesini yah dok?" tanya iksiru penasaran.


"Kamu diterima praktek disini buat ngurusin pasien, bukan ngurus keluarga pasien" tegas dr. akil, meluapkan kejengkelannya terhadap iksiru.


"Tapi dok, anak itu mengalami perdarahan yang hebat pada femurnnya, jika dibiarkan maka kondisi anak itu bisa tambah gawat dok" pungkas Iksi mencoba menerangkan kondisi reyhan pada dr. Akil.


"Saya dokter disini sedangkan kamu, kamu hanya mahasiswi praktek, seharusnya kamu lebih bisa memposisikan dirimu sebagai apa disini, tugas kamu untuk ngurusin Pasien bukannya malah boros-borosan menggunakan alat-alat kesehatan untuk orang -orang yang gak jelas seperti mereka" tegas dr. Akil berbicara dengan suara lantang sambil menunjuk -nunjuk Iksi.


"ohoouuwgh, jadi yang bapak sebut sebagai pasien disini, hanya mereka-mereka yang namanya terdaftar pada layar komputer kasir? pada mereka-mereka yang mengenakan gelang identitas RS? dan pada orang-orang yang punya duit untuk meyewa kamar VIP? itu yang bapak sebut sebagai pasien? houuftt" Iksi menghembuskan nafasnya, sembari menahan rasa sakit hatinya yang begitu dalam saat mendengar ucapan dr. Akil tadi.

__ADS_1


dr. akil hanya bisa diam tanpa kata saat mendengar ucapan Iksi yang cukup menusuk di hatinya itu.


"Mungkin saya masih berstatus sebagai mahasiswi praktek disini, tapi setidaknya saya tau, setiap mereka yang membutuhkan pertolongan medis itulah yang disebut dengan pasien tanpa dilihat dari status sosial dan ekonomi sebagai parameternya, satu lagi pak! alat kesehatan yang saya gunakan tadi itu semuanya punya saya, selalu saya bawa kemanapun saya pergi buat jaga-jaga kalau saja ada yang membutuhkannya, permisi!" ucap iksiru kesal, sembari berlalu meninggalkan ruangan dr. Akil


__ADS_2