Cinta Seorang Perawat

Cinta Seorang Perawat
Episode 36


__ADS_3

*Happy Anniversary 1 th


"Tok..tok...tok...!!!" suara ketokkan pintu kamar


Iksi yang sementara itu berada dalam kamar dengan desak isakan tangis yang sangat pelan, sesegera mungkin ia mengusap air matanya, ia tidak ingin menambah beban fikiran rafkil dengan mengetahui kalau ia sering menangis akhir-akhir ini.


"masuk Cheri...pake ketok segala" ucapnya dengan pelan


"Happy birthday...Happy birthday..Happy birthday..to our" rafkil bernyanyi sembari membawa cake ultah jumbo ditangannya, langkah demi langkah ia berjalan menghampiri iksi yang duduk di atas tempat tidur.


Siru : "haaah?" iksi kebingungan


Rafkil : "why are you confused?"


Siru : "iyalah aku bingung cheri, akukan gak ulang tahun"


Rafkil : "seriously...you don't remember?"


Siru : "ya...!"


Rafkil : "masa Cheri lupa sih dengan hari pernikahan kita"


Siru : "waaah...jadi Maksudnya happy anniv? Ya ampun maaf banget Cher..aku bener-bener lupa"


Rafkil : "huum..cheri lagi banyak pikiran yah?"


Siru : "gak juga sih..hanya saja aku memang gak pernah ngerayain ulang tahun"


Rafkil : "ahapah??? Seriously?"


Siru : "iya..!"


Rafkil : "terus kalo ulang tahun biasanya cheri ngapain aja?"


Siru : "gak ngapa-ngapain, paling puasa sunah aja"


Rafkil : "ouw yah..emang kenapa cheri gak mau ngerayain ulang tahun?"


Siru : "Cheri...Rasulullah tidak pernah mengajarkan atau menganjurkan tradisi perayaan ulang tahun termasuk di dalamnya tradisi meniup lilin"


Rafkil : "ouuw..gitu hehe, terus cakenya gimana dong?"

__ADS_1


Siru : "kita makan aja, gak mungkin dibuangkan...sayang lah"


Rafkil : "hehe untung aja aku beli cake nya gak pake lilin tadi"


siru : "Thankyou Cheri..."


Rafkil : "One Thankyou one Kiss" tukasnya sembari menyuguhkan senyum termanisnya, yang selalu membuat iksi meleleh


siru : "Hissss....apaan sih"


Mendengar suara iksi yang sedikit serak Rafkil terdiam sejenak sembari memerhatikan kedua kelopak mata iksi yang terlihat sembab itu, dengan anggukkan kepala yang pelan ia paham sedari tadi iksi sempat menangis


Rafkil : "Cheri nangis lagi yah?"


Siru : "mmm? gak kok cheri"


Rafkil : "Don't lie to me"


Iksi hanya menggelengkan kepalanya, ia berusaha untuk tersenyum dihadapan rafkil dan terus berupaya menyanggah pertanyaan-pertanyaan dari rafkil


Rafkil : "Cheri...say something what happen to you?"


Siru : "gak ada apa-apa"


Siru : "huuufft..cheri, sampai kapan cheri akan terus menghindar dengan semua masalah ini?"


Rafkil : "ohoow masalah Zeyyan lagi..emang sudah seharusnya kan...? Gak ada yang perlu aku dekati dengan semua masalah ini, aku hanya butuh sedikit waktu untuk menepis semuanya cheri"


Siru : "cheri...jangan egois please" pekiknya pelan dengan mata sendu yang mulai berkaca-kaca


Rafkil : "Cheri aku bersih keras seperti ini bukan berarti aku egois, aku hanya ingin membuktikan bahwa aku adalah orang yang berpendirian tetap"


Sontak iksi menundukkan kepalanya sembari mengusap air matanya yang terus menitik itu, rafkil yang menyaksikan hal itu seketika bersimpuh dihadapan iksi lalu memeluknya


"Hei look at me, udah cheri gak usah sedih lagi, malam ini kita bahas hal-hal yang bahagia aja, gak usah bahas tentang Zeyyan dulu okey?" tukas rafkil sembari menengadahkan wajah iksi yang masih menunduk itu


"Okey....!" balas iksi sembari tersenyum pada rafkil


Rafkil : "jangan nangis lagi yah? meskipun saat aku tak ada, promise to me" tegas rafkil sembari mengangkat jari kelingkingnya


siru : "Cheri...satu-satunya janji yang gak akan pernah aku tepati mungkin janji tentang air mata"

__ADS_1


Rafkil : "Why..?"


siru : "karena air mata adalah kekuatan wanita....... disaat lisan tak mampu terucap, hanya air mata yang bisa menggambarkan suasana hati seorang wanita, yah..karena disaat sedih, gundah gulana bahkan riang gembira wanita selalu meneteskan air matanya"


"ok....I'm so sorry" cetuh rafkil sembari memeluk dan mengecup kening isterinya


"cheri..suapi aku cake itu" pekik iksi dengan suara yang menggemaskan ia bermanja pada rafkil, sembari menunjuk choco cake jumbo yang ada dihadapannya itu.



"of course cheri...bentar yah aku motongin cakenya dulu" sahut rafkil dengan gemesh ia mengusap ubun-ubun iksi


sesaat setelahnya rafkil pun menyuapi iksi dengan lembut dan penuh kasih sayang, suasana hangat dan haru kini menghiasi keduanya, perlahan senyuman lebar mulai merekah di bibir iksi, sambil sesekali ia terlihat malu untuk melihat wajah rafkil yang sangat tampan itu, bahkan berkali-kali ia seakan tak percaya bahwa seorang dokter yang sangat dibencinya, yang tak ingin ia sebut namanya sewaktu duduk dibangku kuliah dulu kini menjadi suaminya.


hiruk pikuk rumah tangga sudah sejauh ini mereka lewati, pahit manis kehidupan kini telah mendewasakan keduanya, pasang surut yang menghiasi kekuatan dan kelemahan hati kini teroyakkan melebur jadi satu dengan sebuah kesimpulan yang mengajarkan mereka untuk memahami arti dari kesabaran.


kini jarum jam tengah mengarah pada angka 22.13 WIB, Syifa yang saat itu baru saja Lepas shift Siang, menyempatkan diri untuk membeli se box cake kesukaan iksi di toko kue langganannya.


**********


syifa : "nih...cake kesukaan kamu!"



Visual dari Suster Syifa


siru : "ya ampun syif...kamu kok repot-repot pake bawa cake segala"


Syifa : "gak repot kok...!"


siru : "kamu tau yah kalo hari ini tuh, hari anniv aku?"


Syifa : "ya iyalah iksi masa aku lupa" tukasnya sembari mencubit kedua pipi sahabatnya itu


siru : "auuu sakit tau, kamu kebiasaan deh"


Syifa : "hehe sorry..!" tukasnya sambil nyengingiran


Siru : "huusst nyengirnya jangan keras-keras...rafkil baru aja tidur"


syifa : "ouw yah..hehe.. maaf..maaf, dr. rafkil pasti kelelahan soalnya tadi banyak pasien rujukan dan rata-rata pasien nya rencana operasi..eh..eh ngomong-ngomong gimana urusan kalian sama si Zeyyan itu?"

__ADS_1


siru : "huuft....!!! entahlah syif"


selang beberapa menit, mereka tak banyak menghabiskan waktu untuk bercengkrama karena tubuh syifa yang kelelahan dan juga hari mulai larut, syifa pun pamit pulang tak lupa ia cipiki cipika dengan iksi, sembari mengenalkan seorang pria yang baru saja tiba di depan rumah untuk menjemput syifa, yang ternyata pria itu aalah calon suami dari syifa, kegirangan dan bahagia turut dirasakan iksi saat mengetahui tidak lama lagi sahabat ngeyelnya itu akan melepas masa lajang nya.


__ADS_2