Cinta Seorang Perawat

Cinta Seorang Perawat
Episode 60 (Part II)


__ADS_3

*Hari Ulang Tahun Profesi IDI


"Entar malem cheri siap-siap ya!" ucap Rafkil yang baru saja kembali dari rumah sakit, sembari membuka lemari dan menyiapkan stelan pakaian yang akan ia gunakan nanti malam.


"Loh, memangnya kita mau kemana?" Iksi yang seketika itu dibuatnya bingung, terus saja ia mengekori Rafkil dari belakang.


"Kita bakal menghadiri acara ulang tahun IDI (Ikatan Dokter Indonesia)" tuturnya, sembari berbalik arah menghadap sang isteri, cukup lama ia memandangi wajah cantik isterinya itu, seperti sudah menjadi kebiasaan yang tak terelakkan lagi, ia kemudian mengecup dahi isterinya sembari berjalan ke lemari sepatu, karena Rafkil adalah pria yang sangat stylish sudah pasti di acara penting seperti itu, ia benar-benar harus memilih kostum yang tepat.


"Kok cheri baru sekarang sih ngomongnya, kenapa gak dari tadi, biar aku juga bisa siap-siap" terdengar lagi suara keluh Iksi yang masih saja mengekorinya dari belakang.


"Aku juga baru ngebuka WA tadi, udah cheri siap-siap aja dari sekarang, kita masih punya banyak waktu kok" cetuhnya sambil memilih-milih sepatu yang cocok untuk di matchingkan dengan stelan bajunya.


"Terus Zilda gimana?"


"Bawa aja!"


"Lah, masa acara sepenting itu harus bawa Zilda sih, nanti riweuh jadinya cheri!"


"Gak apa-apa bawa aja!" mendengar jawaban datar sang suami, Iksi pun terdiam sejenak, ia hendak mengingat-ngingat lagi betapa rempong nya, harus mengasuh anak di tengah-tengah acara, yang di penuhi oleh orang-orang yang berjas putih. seketika ia pun mulai bersuara lagi.


"Gimana kalau aku gak usah ikut? biar aku sama Zilda di rumah aja"


"No cheri, kamu wajib ikut di acara ini, semua dokter diharuskan membawa partnernya, isteri atau suami"


"Cheri tau kan, Zilda tuh anaknya kek gimana?"


"Cheri! cheri tenang aja, di acara itu nanti, banyak kok teman-teman dokter yang ngebawa anaknya, bahkan ada yang lebih kecil dari Zilda!"


"Huufftt! ya udah lah, aku bangunin Zilda dulu biar kita siap-siap"


*****

__ADS_1


Tepat di pelataran sebuah Hotel bintang lima, Rafkil dan Iksi beserta Zilda anak semata wayangnya itu segera menuju ruang aula yang sudah di sepakati sebagai tempat pertemuan besar-besaran para profesi jas putih itu, setibanya mereka disana, langsung saja mereka digiring menuju kursi paling depan sebagai tamu VIP, karena sejak masa pengabdiannya, Rafkil sudah sangat dikenal sebagai dokter yang sangat ahli di kamar bedah, bahkan tidak sedikit dari teman sejawatnya yang sering menggadang-gadangkan ia sebagai gold a doctor (seorang dokter emas).


"Silahkan duduk pak, bu, silahkan dinikmati hidangannya" tutur salah satu pelayan wanita, Iksi kemudian menyambut hangat ucapan pelayan itu dengan senyuman lirihnya.


"Assalamualaikum, wr.wb, selamat malam dan selamat datang, kami ucapkan kepada seluruh dokter hebat indonesia..." terdengar suara MC yang baru saja memulai acara ini, hingga satu demi satu orang-orang hebat ini disilahkan untuk menuturkan sambutannya di depan sana, hingga akhirnya sang MC menyebut sebuah nama yang cukup menggetarkan sepasang kaki dan tangannya, siapa lagi kalau bukan sang suami tercinta, dr. Ashrafkil Farish.


Sorakan ria dan gemuruh tepuk tangan mulai menggelora seakan mengiringi langkah kaki dokter Rafkil yang seketika itu bergegas ke atas podium.


"Haaaa! Oppa?" seketika terdengar suara kejut para kaula muda wanita di belakang sana.


"Haaa! Oppa, Oppa saranghaeyo!" lagi-lagi para dokter muda itu berteriak gemesh di belakang sana, yang kelihatannya paling didominasi dokter wanita.


Tatapan pertamanya ia suguhkan untuk sang isteri tercinta yang saat ini tengah memangku puteri tercintanya, dengan bergumam lirih mengucap basmalah, ia kemudian memulai sambutannya, tidak sedikit dari para dokter yang memuji isi sambutannya yang terdengar hebat itu, bahkan dari kalangan dokter senior pun turut menggeleng-gelengkan kepala berasa terkesima atas semua perkataan yang dilontarkan oleh dr. Rafkil.


Ashrafkil Farish merupakan seorang dokter bedah yang memiliki wajah yang sangat jauh berbeda dengan para dokter indonesia pada umumnya, wajah yang sangat khas layaknya opa-opa korea, bermata sipit, berkulit putih, berambut jatuh, tentunya banyak mendapatkan sanjungan lebih dari para dokter muda yang berasal dari kalangan perempuan, namun sikap dinginnya tentu saja membuat tantangan baru bagi mereka-mereka pencinta para opa.


Setelah memberi sambutan, Rafkil kemudian di giring bersama petinggi-petinggi IDI menuju sebuah ruangan khusus, sementara para dokter lainnya beserta partner di silahkan untuk mencicipi jamuan makan yang sedari tadi sudah tersaji di meja masing-masing.


"Dikit lagi yah sayang, kita nungguin papah dulu"


"No! Zilda maunya sekarang mah, Zilda mau tidur!" Zilda yang mulai kesal kemudian berteriak sambil memukul-mukul lengan sang mamah.


"Zilda, diam Zilda!" dengan rapatan giginya ia bersuara lirih pada Zilda.


"Mamah pulang, mamah, pulang, puuulang" semakin di larang, Zilda malah semakin berulah, tak tahan dengan tingkah Zilda yang mulai mengundang sorotan mata orang-orang di sekeliling, ia pun kembali bersuara sembari mencubit pelan pipi Zilda.


"Zilda! diam, bikin malu aja ih!"


"Liat tuh orang-orang pada ngeliatin mamah" lanjunya.


"Hiiks...hiiiks...hiiiks!" seketika Zilda menangis sejadi-jadinya, Iksi yang semakin pusing tak tau harus berbuat apa lagi, ia kemudian menggendong Zilda yang tengah menangis itu menuju toilet, sesampainya di toilet ia kemudian menurunkan Zilda lalu mengunci rapat pintu toilet, tak lupa ia menyalakan kran air agar tangisan pecah Zilda tak didengar dari luar.

__ADS_1


"Nangis sampe puas, nagis!" cetuh Iksi sangat kesal.


"Hiiiiiks..hiiiks..hiiiks!" benar saja, saat melihat Iksi yang tengah murka, kini Zilda kemudian menambahkan volume suaranya dan terus saja ia menangis terseduh-seduh.


"Ini baru punya anak satu, gimana nanti kalo punya anak banyak, terus tipikalnya semua sama kek begini, bisa struk aku lama-lama jadinya"


Setelah tangisan Zilda mulai mereda, Iksi pun kembali menggendong Zilda untuk masuk ke dalam aula, namun tepat di pintu masuk, hampir saja ia terjatuh untungnya dari belakang ada seorang pria dengan sigap meraih tubuhnya.


"Aam! Makas....." ungkapnya hanya sepenggal kalimat yang tak sempurnah, Iksi yang tercengang dibuatnya terdiam sejenak sembari menatap pria itu.


"Lain kali jalannya hati-hati yah!" balas pria tersebut.


"dokter Adit ya?" seketika terdengar suara girang yang keluar dari mulut Iksi.


"Anda kenal dengan saya?"


"Ini saya dok, Iksi!" cetuhnya dengan senyum semringah.


"Haaa? Iksi?"


"Yaa!"


"Waow! amazing, verry amazing! Iksi kamu benar-benar membuat aku pangling jadinya"


"Ouw yah?"


"Ya, aku sama sekali gak mengenal kamu loh, ya ampun! Iksi yang dulu wajahnya sangat imut, sekarang udah sedewasa ini? sumpah kamu cantik bener malam ini!" tak habis-habis keheranan dr. Adit saat bertatap muka lagi dengan Iksi.


"Hehe! dokter Adit bisa aja!" cetuh Iksi malu-malu.


"Ayo kita pulang!" Rafkil yang tiba-tiba saja datang menghampiri, seakan memutus cengkrama yang baru saja dimulai itu, dengan wajah datarnya ia kemudian menggendong Zilda, sembari menggenggam tangan Iksi, Iksi hanya sempat memberikan isyarat pamit pada dr. Adit, kemudian bergegas menuju lift.

__ADS_1


__ADS_2