
*Suasana Hati Yang Mulai Terganggu
"Cheri? kalo aku beli rumah baru, gimana menurut cheri?" sontak Iksi menatap bingung suaminya, kenapa tiba-tiba ia bisa berpikiran untuk membeli rumah baru.
"Beli rumah baru buat apa?"
"Yah, untuk di tinggali lah, masa untuk di anggurin"
"Gak usah, buang-buang uang aja, lagian kenapa dengan rumah ini?"
"Uum, cheri! coba deh liat rumah ini, udah gak bagus lagi kan?" lagi-lagi Iksi terlihat bingung dengan alasan Rafkil yang terdengar sedikit tidak masuk akal di telinganya.
"Bagus kok!"
"Gini cheri, gimana kalo...kita cari rumah baru, terus kita pindah dari sini!" tak puas dengan jawaban Iksi, kini Rafkil mulai bersuara ragu-ragu lagi pada Iksi yang tengah sibuk merapihkan tempat tidur.
"Cheri ngomong apa sih!" setelah usai merapihkan tempat tidur Iksi kemudian bergegas ke dapur untuk menyiapkan. sarapan pagi.
"Aku serius cheri" terus saja ia mengikuti kemana Iksi melangkah, belum puas rasanya jika Iksi masih kekeh untuk tetap tinggal di rumah ini.
"Aku udah nyaman disini, lagi pula aku salah satu orang yang paling sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan baru"
"Tapi cheri...."
"Udah, udah aku gak mau denger lagi cheri ngomong beli rumah, pindah rumah dan lain sebagainya, aku mau buat sarapan dulu, please jangan ganggu aku, sekarang cheri mandi terus siap-siap untuk ke rumah sakit"
"Aku kan libur hari ini"
"Ow, libur! bagus lah klo libur, gimana kalo hari ini kita jalan-jalan?"
"Uum! boleh!"
"Yeay, thank you cheri" saking senangnya Iksi melompat-lompat gemesh kemudian mencium ke dua suaminya itu.
"Aku yang request yah, tempatnya!"
"Terserah cheri, aku ngikut aja, ya udah aku mandi dulu yah!" sebelum bergegas seperti biasa, segera saja ia mengecup kening Iksi, kurang apdhol rasanya jika tengah bahagia Rafkil tidak mengecup kening isterinya itu.
"Ok cheri"
*****
__ADS_1
Iksi memilih tempat Rekreasi di sebuah pantai yang terdapat kolam renang disekitarnya, juga di fasilitasi beberapa mini restoran yang menyediakan berbagai menu yang ada, dimulai dari menu lokal maupun menu internasional.
"Wah! tempatnya keren yah?" pujian itu keluar dari mulut Rafkil saat melihat pemandangan yang sangat luar biasa di pantai itu.
"Iya dong, cheri suka ya?"
"U'um! nih cheri mau renang kan?"
"Gak ah, aku ngeliatin cheri aja ama Zilda renang, aku kan cuman bawa baju renang cheri ama Zilda aja"
"Yaah, gak seru dong" lanjut Rafkil, ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Zilda yang masih sibuk mengunyah cemilan cokelat, Rafkil yang mulai gemesh lagi pada si kecil itu, sontak ia lalu menggelitik tubuh Zilda.
"Aauuh! haha papah ganggu aja, Zilda lagi makan nih!"
"Zilda mau mandi ama papah gak?"
"Mau, papah! mau, mah mana baju renang Zilda?"
"Bentar ya sayang!" Rafkil kemudian terperanjat lalu bersuara pada Iksi yang tengah menyiapkan baju renang mereka.
"Aam! cheri aku mau pesen minum dulu yah, cheri mau minum apa?"
"Umm..samain aja deh sama cheri"
"Ohugh, gak, gak, aku jus apel aja!"
"Ok!" Rafkil kemudian bergegas ke salah satu mini restoran yang ada disitu, setelah mengorder ia harus menunggu beberapa menit di ruang tunggu menu sampai orderannya ready untuk di ambil.
"Orderan Jus strawberry dan jus apel atas nama bapak Rafkil sudah ready, silahkan di ambil" teriak salah satu pelayan di situ, Rafkil yang terlihat sedikit buru-buru mulai terperanjat untuk mengambil orderan tersebut, namun tak sengaja ia menabrak seorang pelayan wanita hingga terjatuh, dua gelas orderan pengunjung yang hendak dibawanya pun terpental hingga menyisakan puing-puing pecahan kaca yang berhamburan di lantai.
"Maaf, maaf mbak aku gak sengaja!" ucap Rafkil sangat merasa bersalah atas kejadian itu.
"Hwuuh! makanya lain kali kalo jalan tuh pake mata do..." sontak wanita itu berhenti mengomel saat ia menengadahkan wajahnya dan melihat wajah Rafkil secara detail yang saat ini tengah berhadapan dengannya.
"Rafkil?" lirih wanita itu, Rafkil hanya terdiam dengan tatapan kosong, berasa di otaknya sudah tidak ada lagi kata-kata yang bisa ia lontarkan.
"Kamu Rafkil kan?" tutur wanita itu, kali ini wajahnya mulai berseri-seri dan tersenyum malu atas penggalan teriakan kasar yang sempat ia lontarkan pada Rafkil barusan.
"Aam! Rafkil se..sebenarnya aku..." tak mau berlama-lama menghadapi wanita itu, Rafkil segera berbalik arah pelayan yang tadi menyebut namanya di meja kasir.
"Berapa mbak?"
__ADS_1
"Semuanya 60 ribu pak!" Rafkil segera membaya jus tersebut lalu secepatnya ia bergegas keluar dari situ, namun tiba-tiba pelayan kasir itu memanggilnya kembali.
"Pak, minumannya sama kembaliannya?"
"Ambil aja buat kamu" cetuhnya datar.
"Tapi pak...makasih ya!" lanjut pelayan kasir itu namun tak lagi di gubris oleh Rafkil yang hampir sudah tidak terlihat di pelupuk matanya.
Dari kejauhan Iksi mulai menatap heran Rafkil yang hendak berjalan menghampirinya dengan langkah yang terburu-buru dan ekspresi wajahnya yang terlihat datar.
"Mana pesanan aku?" ujar Iksi sembari menjurkan telapak tangannya di hadapan Rafkil.
"Ayo kita pulang sekarang!" segera saja Rafkil mengemasi beberapa barang yang sempat ia keluarkan dari mini bagnya.
"Loh, kok pulang sih, kita kan baru aja nyampe cheri masa udah mau pulang! belum juga apa-apa, mandi belum, minum bel..." Rafkil kemudian memenggal ucapan Iksi.
"Aku bilang pulang, pulang sekarang!"
"Cheri kenapa sih? tiba-tiba kek begini? pasti ada sesuatu kan? coba deh cerita ke aku"
"Bisa gak jangan banyak tanya? udah beresin aja semua ini kita pulang sekarang!"
"Papah, Zilda pengen mandi dulu papah!"
"Nanti mandinya di rumah aja ya sayang?"
"Enggak pah, Zilda maunya mandi disini!"
"Zilda! bisa gak jangan rewel dulu?"
"Lagian cheri juga, anaknya pengen mandi eh tiba-tiba aja di suruh pulang" Iksi turut menambahkan, mendengar ungkapan kesal Iksi itu, sontak Rafkil menatapnya sinis, Iksi pun kebingungan dibuatnya.
"Ok, ok fine! kita pulang sekarang!"
*****
Hampir di setengah perjalanan, Rafkil hanya membungkam, terus saja ia menyetir mobil dengan pandangannya yang terus terarah ke depan, Iksi yang tengah duduk di sampingnya saat ini terus berkicau tanda tanya di dalam hatinya, ada apa yang terjadi dengan suaminya saat ini, apakah ia Tenga marah dengan Iksi ataukah ada hal lain yang membuatnya seperti ini.
"Cheri marah sama aku?" pertanyaan lirih itu tak di respon oleh Rafkil, Iksi kemudian menghela nafasnya lalu bersuara kembali pada Rafkil.
"Gak apa-apa cheri ngomong aja!" sontak Rafkil menanggapi ucapannya.
__ADS_1
"Boleh gak? untuk saat ini kamu diam aja dulu?"
"Ok!" jawab Iksi, namun tetap saja di dalam hatinya masih dipenuhi beragam kalimat tanya atas sikap Rafkil saat ini.