
*Gelora Hati Yang Was-was
ketika fajar mulai menyingsing saat itu pun iksi sudah sibuk membuat sarapan didapur, sudah menjadi kebiasaannya yang setiap waktu makan, ia selalu menghidangkan makanan buatannya sendiri untuk sang suami, setidaknya makanan yang diolah dengan tangan sendiri lebih terjaga higienisnya, baru saja ia akan duduk tiba-tiba perutnya mulai terasa nyeri lagi
Rafkil : "Cheri...cheri kenapa?"
siru :"haduuuh...haduuuh..sakit..sakit..cheri"
Rafkil : "ok..okey, Cheri tarik napas yah..tarik napas yang dalam lalu hembuskan!"
siru : "aduuh..cheri..aku gak kuat..aku bener-bener gak kuat...saaakkkiiiitt...sakkit cheri...mah..mamah...mah??" teriaknya berulang-ulang
Rafkil : "okey..kita ke rumah sakit sekarang!"
*******
rafkil terus mengendarai mobil terlihat iksi yang duduk disampingnya terus saja berteriak dan meringis kesakitan, iksi yang terkadang tak tahan dengan rasa nyeri itu ia dengan terpaksa harus meremas tangan dan paha kiri rafkil, sesekali rafkil terlihat sangat kesal saat situasi darurat seperti ini ia harus menghadapi suasana jalan raya yang tidak bersahabat
setibanya di rumah sakit, rafkil segera membawa iksi ke ruang operasi genggaman tangan dari keduanya hampir tak pernah lepas, disana sudah terlihat instrumen bedah yang tertata rapih untuk tindakan caesar didalam satu ruangan yang sudah dipersiapkan secara khusus untuk tindakan SC seorang menantu dari pemilik rumah sakit, seketika itu iksi digiring masuk kedalam ruangan tersebut didampingi seorang wanita paruh baya yang diketahui wanita tersebut merupakan dokter ahli yang sudah dibayar mahal oleh papahnya rafkil
rafkil hanya bisa memantau dari luar, meski ia juga tau, sebagian besar waktunya saat ini akan ia habiskan di ruangan bedah jantung, hampir saja ia berlarut sedih namun seketika itu papa burhan mengubah suasana dengan mengawali pembicaraan
papa burhan : "heiii...!"
Rafkil : "eh..papah!"
papa burhan : "papa juga pernah rasa, seperti yang kamu rasakan saat ini, kamu dan dila sama-sama dilahirkan secara caesar"
Rafkil : "pah..papah bener-bener yakin dia dokter ahli kan?"
papa burhan : "yah..yang papah tau dia dokter ahli, tapi selebihnya tidak ada yang bisa menjamin rafkil"
Rafkil : "pah...tapi entah kenapa rafkil gak bisa percaya siapa-siapa sekarang"
papa burhan : "kenapa? kamu ragu?"
Rafkil : "Entahlah pah!"
papa burhan : "kalau kamu ragu, kenapa gak kamu ambil alih aja tindakan SC ini?"
Rafkil : "bukan kualifikasi rafkil pah!" cetuhnya singkat
papa burhan : "rafkil..kamu itu seorang dokter ahli bedah jantung, yang menurut papah dan kebanyakan dokter lainnya, untuk menjadi seorang dokter ahli bedah jantung itu gak mudah, kalau bedah jantung aja kamu bisa, sudah pasti operasi lainnya yang lebih mudah kamu pasti bisa"
Rafkil : "hooouuffttt...papah jangan berlebihan pah, rafkil gak sehebat papah"
papa burhan : "hehee...papah sudah tidak muda lagi kil, papa sudah punya penerus yaitu kamu kil, terus sekarang apa yang akan rafkil lakukan?"
__ADS_1
rafkil : "rafkil hanya mau mematuhi aturan pah, lagipula mungkin rafkil gak akan sanggup, untuk menyayat tubuh iksi!"
papa burhan : "yaaap itulah kelemahannya kita para dokter, mereka sangat ahli dalam menyayat tubuh pasien manapun, tetapi mereka gak akan kuat untuk menyayat tubuh salah satu anggota keluarganya"
Rafkil : "houuuuftttt!"
papa burhan : "ya sudah kamu harus kuat rafkil, banyak-banyak berdo'a!" ujarnya sembari menepuk pelan pundak anak lelakinya itu
Rafkil : "iya pah..!"
"aam..permisi dr. Rafkil, pasien atas nama bu ira sekarang sudah siap diruangan operasi" pungkas salah satu perawat bedah
"huuum...okey, saya segera kesana!" balasnya sangat datar
*******
hari ini adalah hari terberat yang harus rafkil lewati, di saat isterinya sedang menjalani operasi, diruangan yang berbeda ia juga tengah sibuk-sibuknya melakukan tindakan operasi, dengan hati yang terus was-was akan kondisi isterinya ia berusaha untuk tetap profesional dengan pekerjaannya, operasi hampir selesai saat ia akan melepas handscoon tiba-tiba seorang perawat dengan kondisi tergesa-gesa menerobos ruang bedah jantung lalu menghampiri dr. rafkil
"ada apa?" tanya rafkil pada perawat tersebut
"gawat dok..gawat!!!" jawab perawat itu
"iya ada apa" ucapnya mulai kesal
"dokter harus ke ruang Caesar sekarang!!!" ucap perawat itu tergesa-gesa
"Ruangan caesar? ada apa dengan isteri saya?" tanya rafkil makin cemas
"ahaapaah????" rafkil terkejut bukan kepalang
langkah demi langkah ia menapaki lantai dengan derap kaki yang sedikit menggema, peluh dan keringat yang terus bercucuran, rasa lelah seakan sirna, rafkil berlari dengan cepat ia memasuki ruangan caesar, ia mengamati satu persatu kondisi tanda-tanda vital iksi pada layar monitor, Frekuensi nafas, nadi dan tekanan darahnya yang menurun derastis hal ini menunjukkan semuanya dalam kondisi gawat, ia lalu menoleh ke arah seorang dokter yang bertanggung jawab atas operasi itu, dengan tatapan mata yang sangat tajam ia menyoroti dokter tersebut
"isteri saya di anastesi apa? ha?" tanyanya dengan lantang pada dokter itu
"aa..aa..anastesi regional dok" jawab dokter tersebut dengan suara yang sangat ketakutan
"isteri saya masih sadar gak? haa?" tanya rafkil sangat cemas
"gak dok!" jawab salah satu perawat
"pasang intubasi sekarang!" perintahnya
"baik dok" balas seorang perawat
tak membuang-buang waktu lagi rafkil segera mengambil beberapa instrumen, untuk memulai tindakan menghentikan perdarahan dan dilanjutkan dengan hackting pada area abdomen
"Ners wina suction terus darahnya" cetuhnya masih sangat cemas
__ADS_1
"baik dok!" balas ners wina
rafkil menghabiskan waktu sekitar 30 menit untuk mengambil alih tindakan lanjutan SC, operasi yang dilakukan cukup terbilang berhasil namun tetap saja iksi sangat kehilangan banyak darah, dan saat ini kondisinya masih kritis, ia terbaring lemah tak sadarkan diri di ruang Intensiv
diruang ICU ia sempat berkonsultasi dengan ayahnya terkait kondisi iksi, sanga ayahpun mencoba memberikan penjelasan terkait hal-hal yang harus dilakukan saat ini untuk mengoptimalkan kondisi iksi
Rafkil seakan tak tahan melihat kondisi iksi saat ini, ia terus menggenggam dan mencium tangan iksi yang terlihat pucat itu, sambil sesekali ia menghapus titihan air matanya
"kil..?" panggil mama ika yang berdiri dibelakang rafkil
"aaam...mah?" balasnya
"kamu harus kuat rafkil....!" cetuh mamahnya memberi semangat
rafkil : "iya mah...!!!"
mama ika : "Umm...ya udah ayo sekarang kita pergi ke ruang NICU, cucu mamah ada disana, kasian cucu mamah dari tadi belum di adzanin tuh"
rafkil : "ruang NICU? Emang ada masalah juga dengan anak rafkil?"
mamah ika : "gak sayang...cucu mamah sehat aja, cuman untuk sementara cucu mamah dirawat disana dulu"
********
lagi-lagi rafkil meneteskan air matanya saat mengumandangkan adzan di telinga sang bayi mungil, sang mertua pun segera menguatkan rafkil dengan memberikan beberapa nasehat sembari mengelus-elus pundak rafkil, ia hanya bisa merespon dengan tarikan napas dan anggukan, berkata-kata rasanya sudah tak sanggup
dengan tekun ia terus memandangi wajah bayinya yang lucu itu, baru saja ia akan tersenyum namun tiba-tiba ia tertegun saat melihat bekas sayatan di telapak tangan kiri bayinya itu
"mah...kenapa mamah gak bilang kalau tangannya ada bekas sayatan mah?" rafkil mulai menegaskan suaranya
mama ika : "haah? mama gak tahu rafkil, ya ampun cucu mamah" ujarnya sedikit panik
Rafkil : "dokter itu..bener-bener!!!" ia mulai merapatkan giginya dengan Segala kebenciannya ia lalu menutup mata dan berusaha untuk meredam amarahnya saat ini
mama ika : "kenapa dengan dokter Felsya kil?"
rafkil : "gara-gara dia...rafkil hampir aja kehilangan iksi tau gak mah!"
mama ika : "haaa????"
@kasih tanggapan kalian yah🤗
terserah readers deh mau komentarin siapa antara ke dua dokter itu, dokter Rafkil atau dokter Felisya
__ADS_1
*********To be Continue********
jgn lupa : Coment, like dan follow akun author yah🤗