
*Tamu Di Tengah Malam
"Assalamualaikum!" tiba-tiba terdengar ada yang mengucapkan salam di depan pintu yang masih tertutup rapat itu.
"Tuh, Rafkil udah dateng! bentar yah aku bukain pintu dulu" ujar mamah Ratna yang sangat mengentarai suara menantunya itu, segera saja ia bergegas untuk membuka pintu.
"Ka..kalian?" mama Ratna sedikit heran, saat membuka pintu dan mendapati ke dua putra dan putrinya itu yang tengah bergandengan tangan layaknya tak ada masalah apa-apa yang tengah terjadi saat ini, namun tak ingin merunyamkan keadaan ia pun segera menyuruh mereka berdua untuk masuk kedalam.
Seketika langkah ke duanya mulai tertegun saat melihat mamah Ika dan papah Burhan di ruang tamu, sebaliknya yang di lakukan mamah Ika dan papah Burhan hanyalah tersenyum kecil memandangi ke duanya, senyuman itu terlihat sedikit ragu-ragu, selebihnya hanyalah tatapan penyesalan yang sulit untuk di ungkapkan.
"Ayo kalian duduk dulu!" seru mamah Ratna pada ke duanya.
Iksi yang sangat terasa dengan kehadiran sang mertua, tak lagi mampu untuk berkata-kata selain terus menatap papa burhan dan mamah Ika dengan tatapan kosong, melihat suasana yang tak berkicau ini sontak Rafkil pun membuka suara.
"Mamah, papah!" ujar Rafkil, sembari berjalan lebih dekat untuk menyalami punggung tangan ke dua orang tuanya itu, sementara Iksi seakan tak berani untuk melangkahkan kakinya, ia hanya mematung tanpa tau apa yang akan ia lakukan di tengah suasana yang amat canggung ini.
"Iksi? ayo sini!" terdengar suara lirih mama Ratna yang hendak memanggil Iksi, seketika pandangan mamah Ika kembali mengarah pada sang menantu yang masih saja mematung di ujung sana, dengan mata yang mulai berkaca-kaca mama Ika kini terperanjat dan berjalan menghampiri Iksi.
"Anak mamah!" cetuh mamah Ika, tak segan-segan lagi, ke duanya pun saling berpelukan, seketika empat bola mata itu mulai menitihkan bulir-bulir air mata yang turut menghangatkan suasana haru ini.
"Mah, maafin Iksi mah, hiiks...hiiks"
"Mamah juga minta maaf sama kamu sayang!"
"Maafin mamah sama papah yah? kita gak ada maksud untuk ngebohongin kamu sayang, hanya saja keadaan yang memaksa kita untuk memilih cara seperti itu" lanjut mamah Ika.
Terus saja Iksi mengangguk, sambil sesekali ia menyeka air matanya, bisa di bilang semua kesalahpahaman yang terjadi sebelumnya, telah terjawab dan berakhir di detik ini juga.
*****
"Tok..tok..tok!" terdengar suara ketukan pintu di tengah malam yang sudah selarut ini.
"Tok..tok..tok!" suara ketukan itu, masih saja terdengar, sontak Iksi pun terbangun, lalu mengaktivkan screen handphonenya, terlihat time screen telah menunjukkan pukul 24.15 WIB.
"Cheri..cheri, cheri bangun ada orang di luar!" gumamnya lirih membangunkan Rafkil.
"Uum, siapa?"
"Gak tau, dari tadi tuh ada yang ngetok-ngetok pintu"
__ADS_1
"Udah lah, gak usah di hiraukan paling juga cuman orang iseng doang tuh"
"Mending kalo orang iseng, tapi kalo orang jahat gimana?"
"Udah cheri gak usah mikir yang aneh-aneh deh, mending cheri tidur aja"
"Tok..tok..tok!" kali ini bukan hanya Iksi yang terkejut, tetapi juga Rafkil meski ia tengah diselimuti rasa kantuk yang benar-benar berat namun ia segera terperanjat dari tidurnya.
"Tuh kan di bilangin gak percaya" masih saja Iksi berceloteh di hadapan suaminya.
"Ya udah cheri tunggu disini ya, biar aku yang turun ke bawah untuk ngecek"
"Gak cheri aku mau ikut!"
"Cheri..."
"Aku mau ikut, aku takut!"
"Ya udah, kalo gitu ayo kita turun sekarang!"
Dengan langkah yang mengendap-endap ke duanya turun ke bawah sembari mencari sesuatu yang bisa di gunakan untuk melindungi diri.
"Ya aku takut lah, dulu kan aku pernah di gebukin ama maling" seketika itu, Rafkil lalu menggenggam tangan Iksi sembari terus melangkah menuju ke suatu ruangan penyimpanan.
"Cheri mau kemana sih?" tanya Iksi dengan suara bisik-bisik.
"Mau ngambil tongkat base ball"
"Untuk apa?"
"Ya buat jaga-jaga, mana tau maling!"
Setelah itu, pun ke duanya telah siaga di depan pintu, secara perlahan Iksi mulai membuka pintu, sementara Rafkil tengah bersiap-siap dengan tongkat base ballnya untuk menghajar target, namun saat pintu terbuka lebar ke duanya pun bersuara kompak.
"Anisa?" Rafkil dan Iksi kompak terkejut, saat melihat Anisa yang sudah selarut ini berdiri di depan pintu rumah mereka.
"Anisa kamu ngapain tengah malem kek begini ngetok-ngetok pintu rumah kita" lanjut Iksi.
"Aku...aku mau minta tolong sama dokter Rafkil!"
__ADS_1
"Huuftt, minta tolong apa lagi? emang kamu sakit?" sahut Rafkil.
"Gak dok, ini jendela rumah aku gak bisa di kunci"
"Yang bener aja kamu nis, masa cuman masalah jendela aja, kamu nyuruh suami aku yang handle, emang kamu pikir dia tukang pribadi kamu apa?" Iksi mulai kesal mendengar alasan Anisa yang sangat tidak masuk akal itu.
"Kemaren masalah keran air, setelah itu masangin bolam lampu, lah sekarang jendela rumah gak bisa ke kunci, sekalian aja buka tutup pintu rumah kamu semuanya Rafkil yang ngelakuin" Lanjutnya lagi dengan nada suara yang sedikit membentak.
"Kamu gak percaya sama aku?"
"Iya, aku gak percaya sama kamu!"
"Memanglah, kamu bukanlah Iksi seperti yang aku kenal dulu"
"Bhwuus, kamu pikir, kamu seperti Anisa yang aku kenal dulu? gak, bahkan kamu yang sekarang membuatku sulit untuk menganggap mu seperti apa" Anisa hanya terdiam namun tatapan matanya mulai sinis, terlihat mulutnya sedikit bergerak-gerak tampaknya ia tengah menahan emosi yang begitu dalam.
"Udah, udah! aam nis, kamu pulang aja dulu nanti besok pagi aku nelpon tukang untuk memperbaiki jendela rumah kamu ya?" Rafkil berusaha menengahi suasana yang kian memanas itu.
"Gak, aku maunya jendela itu diperbaiki sekarang!" dengan tegas ia membantah ucapan Rafkil, kali ini membuat Iksi makin geram dengan tingkahnya yang keterlaluan itu.
"Hei, kamu jangan keterlaluan yah nis, kamu pikir kamu siapa?"
"Dasar perempuan gak tau di untung!" cetus Anisa lirih, namun masih jelas terdengar di kuping Iksi.
"Apah? kamu ngomong apa tadi?"
"Perempuan gak tau di untung, isteri gak becus, kamu pikir kamu siapa?" kali ini Anisa berjalan selangkah lebih dekat dengan Iksi.
"Haha, jelas-jelas aku ini isterinya, kamu yang siapa, perempuan gak tau malu kamu ya, kamu memang udah gila tau gak?"
"Udah, udah! Iksi kamu masuk kedalam!" Rafkil kembali bersuara.
"Kamu kok nyuruh aku masuk sih? seharusnya kamu nyuruh perempuan gak tau malu ini untuk pulang"
"Iksi! aku bilang masuk, masuk sekarang!" tak ada sahutan lagi, dengan wajah kekesalannya itu Iksi pun bergegas masuk ke dalam rumah, sementara Anisa mulai merekah senyuman manis di hadapan Rafkil.
"Anisa, mending kamu pulang sekarang, malam ini kamu sudah sangat mengganggu kondisi ketenangan kami, permisi!" Rafkil segera menutup pintu, tanpa menghiraukan lagi keluhan Anisa yang juga kedengaran tak masuk akal di telinganya.
Jangan lupa follow dan vote yah🤗
__ADS_1
masuk ke grup chat juga, biar kita bisa kopdar online hehe😆