
*Berhasil Melewati Masa Kritis
tepat pukul 00.25 WIB, rafkil masih saja menemani iksi, dari raut wajah dan bola matanya yang terlihat sedikit cekung itu semakin menunjukkan betapa lelahnya pria itu, yang saat ini tengah menggeluti dua tanggung jawab sekaligus, tanggung jawabnya sebagai seorang dokter dan tanggung jawabnya sebagai seorang suami
"Haus...haus..!!! haus..haus!!" terdengar suara yang samar-samar, rafkilpun segera terbangun dari tidurnya yang hanya beberapa menit itu, ia lalu mengusap matanya sambil mendengarkan dengan teliti suara samar-samar yang baru saja ia dengar itu
"Cheri???" sontak saja rafkil sedikit tercengang saat melihat iksi yang terus saja berceloteh, dengan sigap ia segera memberinya minum, hati siapa yang tak bahagia saat melihat sang isteri yang sudah berjuang keras melewati masa kritisnya
"pah..papah udah di indonesia? udah di bandara? ok..ok, pah! papah langsung ke rumah sakit yah, iya iksi, iksi udah siuman pah!" ucapnya lewat telepon
******
__ADS_1
saat ini semua keluarga sudah berkumpul di ruang ICU, terpotret dengan jelas wajah-wajah mereka yang terus saja menitihkan air mata bahagia, beberapa dari mereka juga terlihat harap-harap cemas akan kondisi iksi, meski begitu hal yang tak bisa dipungkiri bahwa mereka masih belum bisa menepis kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi setelah ini
"iksi..? iksi..? iksi..?" panggil rafkil, namun iksi hanya melihatnya dengan sebuah tatapan kosong, tak ada respon apapun dari iksi
"udah kil, jangan paksa iksi untuk berfikir dulu, saat ini otak dia belum sinkron dengan penginderaannya, biarkan dia istirahat dulu" ujar papa burhan sedikit menenangkan rafkil
rafkil tak bisa melanjutkan tidurnya, meski beberapa kali ia mencoba untuk terlelap, saat ini ia terus memandangi wajah iksi yang tertidur pules, sambil sesekali ia membangunkannya, rafkil sangat takut kalau-kalau iksi kembali koma lagi, untung saja iksi masih me bukan matanya saat dibangunkan meski lagi-lagi tatapannya seakan terlihat kosong
"Che..cheri?" ucap iksi tak bertenaga, seketika itu ia mulai memegang wajah rafkil dan mengusap-usap rambut jatuhnya itu
"ya.. ya Cheri" saat ini rafkil sedikit terlihat cengeng, terus saja air matanya menitih
__ADS_1
"Cheri...cheri sakit ya? cheri kok gak setembem kemaren? cheri aku darimana ya? kok aku baru ngeliat cheri" terus saja iksi melontarkan pertanyaan yang lagi-lagi mengundang air mata rafkil untuk menetes
"cheri..cheri istirahat dulu yah" dengan pelan rafkil terus membujuk iksi untuk beristirahat
"cheri kok nangis! ada apa cheri?" ucapnya seketika itu iksi akan memulai untuk duduk namun sontak saja ia merintih kesakitan, ia mulai melongo lagi saat melihat bekas jahitan yang ada diperutnya saat ini
"Cheri..anak kita mana?" perlahan-lahan ingatannya mulai pulih, setelah tiga minggu lamanya ia terbaring koma
"anak kita sekarang lagi dirawat sama mamah, cheri tenang aja anak kita sehat kok" ucapnya sembari menyuguhkan senyum termanisnya
"ouw yah, kemaren anisa dateng ke sini, katanya sih dia sahabat cheri" mendengar ucapan rafkil, iksi terlihat sedikit terkejut
__ADS_1
"cheri kenal kan sama dia?" iksi hanya mengangguk tanpa kata