Cinta Seorang Perawat

Cinta Seorang Perawat
Episode 59 (Part II)


__ADS_3

*Curhatan Rafdila


"Kak, tolong lah bantuin Dila sama Steven!" terus saja ia merengek di hadapan Rafkil.


"Maaf Dila, kakak gak bisa, kamu tau kan kakak dulu juga ama kak Zeyyan kek gimana!"


"Tapi kak, Dila tuh cinta banget sama Steven, tolong dong bantuin ngomong ke mamah!"


"Tetap aja, mamah gak akan pernah setuju, kecuali kalau si Steven itu bakal masuk islam, dan kakak harap Dila gak akan pernah membuat keputusan tanpa restu papah dan mamah!"


"Udahan dulu yah curhat-curhatannya yuk kita makan siang dulu" seketika Iksi memotong pembicaraan mereka.


"Kak Iksi, ada solusi lain gak?" Dila yang masih merasa tak puas atas jawaban Rafkil, ia pun kembali merengek pada Iksi.


"Umm!" Iksi yang tak bisa berkata apa-apa lagi, kemudian menggelengkan kepalanya.


"Huufttt! padahal mamah tinggal ngomong iya aja, susah amat sih! kalo masalah nikahan kan, kita bisa nanti nikahnya di luar negeri aja" keluh Dila yang sedari tadi tiada habis-habisnya.


"Dila? menikah beda agama itu sekalipun terluahkan beribu-ribu ucapan kata sah, namun tetap aja, gak akan pernah sah di mata allah, jalan satu-satunya emang ada yang harus ngalah di antara kalian, dan kak Iksi harap dila gak akan pernah membuat keputusan yang salah!"


"Huuftt!"


"Ya udah kita makan dulu yuk, otak juga butuh asupan untuk berfikir!"


"Ok!" sahut Dila cukup bersemangat.


Baru saja mereka akan bergegas ke dapur, tiba-tiba dari depan sana, terdengar ada yang hendak mengucapkan salam.


"Wa..wa'alaikumussalam! Nisa?"


"Ya, hai! aam, nih aku mau nganterin salad buah" cetuhnya sembari menyedorkan tupperware bening yang berisikan salad buah itu, dengan senyuman ragu-ragu Iksi pun meraih tupperware tersebut.


"Aam! Zilda mana?" tanyanya sembari matanya jelalatan sana-sini.


"Zilda ada di kamar nya, lagi tidur!"


"Aam! ayo masuk nis!"

__ADS_1


"Gak apa-apa aku masuk?"


"Ya allah nis, iya gak apa-apa, kebetulan kita juga mau makan siang, ayo! sini masuk" tanpa rasa sungkan sedikitpun, ia bergegas ke dapur, disana ia mendapati Rafkil dan Dila yang hendak bercengkrama di meja makan, seketika ke duanya pun menyadari kehadiran Anisa lalu berhenti bercengkrama


"Aam, nis ayo duduk!"


"Ini siapa Iksi? cantik banget"


"Dila, adik ipar aku"


"Ohow! hai cantik, aku Anisa!"


"Dila!" cetusnya singkat


"Hai, dokter Rafkil, hihi" ucapnya pelan, sembari nyengingiran tak menentu, seketika Rafkil hanya tersenyum kecil menanggapi sapaan Anisa, sementara Dila yang melihat nyengingirannya Anisa, semakin ilfil di buatnya.


"Ayo, dimakan! nis jangan malu-malu ya?" Iksi kembali bersuara, untuk melebur suasana canggung yang tengah digeluti Anisa saat ini.


Terus saja Anisa mencuri-curi pandang pada Rafkil yang tengah menikmati santapannya itu, seketika Rafkil mulai merasa risih saat menyadari sikap Anisa yang terus saja memerhatikannya saat makan.


*****


"Kak, siapa sih perempuan tadi?" dengan wajah kesalnya ia melontarkan pertanyaan itu, sambil tangannya terus mencuci beberapa piring kotor yang masih tertumpuk di wastafel saat ini.


"Dia itu temen kuliah kak Iksi dulu!"


"Ouw, kok aku gak suka ya sama dia!"


"Loh! Dila kok ngomongnya kek begitu?"


"Iya lah, kak Iksi aja yang gak perhatiin gimana tadi tingkahnya ama kak Rafkil, hiiss aku aja geli liatnya" Iksi hanya tersenyum kecil menanggapi ocehan adik iparnya itu.


Kini jam dinding telah menunjukkan pukul 14.00, tepat di ruang tamu Iksi terlihat sedang mengajari Zilda, dengan beberapa buah buku bacaan yang berserakan di lantai.


"Coba gimana bacanya?" tutur Iksi


"Bu..bu..buah, se..semang..ka, buah semangka, ini bacanya buah semangka kan mamah?" dengan pelan Zilda mengeja satu demi satu huruf-huruf tersebut agar lebih muda ia membacanya.

__ADS_1


"Iya, terus kalo yang ini?"


"Buah, du..dur..duri..durian! buah durian"


"Yeah, pintar anak mamah!"


"Mah, kenapa sih Zilda harus belajar terus?" tanya Zilda dengn wajah cemberutnya.


"Biar Zilda bisa jadi orang yang pandai sayang, kan tahun depan Zilda udah mai sekolah, jadi Zilda udah harus bisa membaca, menulis dan berhitung"


"Tapi Zilda gak mau jadi seperti papah!"


"Terus Zilda pengennya mau jadi apa?"


"Zilda pengen jadi Hafizah mah, kata ukhti Fatimah kalo Zilda jadi Hafizah, Zilda bisa membawa sepuluh orang mukmin masuk ke dalam syurga terutama mamah sama papah, terus Zilda akan memakaikan mahkota di kepala mamah sama papah" cetuhnya sangat polos, tidak bisa dipungkiri sering beberapa kali ukhti Fatimah berkesempatan mengunjungi rumah Rafkil hanya untuk menengok Zilda, yang dulu pernah ia susui itu, ukhti Fatimah sudah menganggap Zilda layaknya anak sendiri, karena hakikatnya anak ukhti Fatimah dan Zilda merupakan saudara sepersusuan.


"Pinter banget sih, anak mamah!" Iksi yang terharu mendengar ucapan Zilda, kemudian ia memeluk tubuh Zilda sembari mencium kedua pipi anak mungil itu.


*****


"Cheri tau gak tadi Zilda ngomong apa?" Iksi membuka percakapan di tengah malam yang mulai larut ini.


"Umm? emang my little queen ngomong apa?"


"Katanya dia pengen jadi hafizah!"


"Ya bagus dong, kalo emang maunya seperti itu"


"Umm! yang bikin aku terheran-heran, Zilda tuh ngomong seperti orang dewasa banget, duuh pokoknya susah buat ngejelasinnya"


"Ya udah lah cheri, kita tidur yah sekarang, aku ngantuk banget nih" seketika ia kemudian mendekati Iksi lalu terus saja ia mencium ke dua pipi Iksi.


"Hiiss! cheri apa-apaan sih, katanya mau tidur, kok malah cium-cium pipi aku mulu"


"Emang salah yah, kalo seorang suami sedang gemesh sama isterinya?"


"Gak, aku hanya gak kuat untuk menatap mata cheri" seketika Iksi yang mulai salah tingkah kemudian menggaruk-garuk kepalanya, melihat tatapan Rafkil yang masih saja menyorotinya itu, ia lalu menutup seluruh waha Rafkil deng bed cover, sesaat kemudian, keduanya pun mulai terlelap.

__ADS_1


__ADS_2