Cinta Seorang Perawat

Cinta Seorang Perawat
Episode 74 (Part II)


__ADS_3

*Penalaran Tentang Sosok Izam Abdullah


"Iya, hati-hati yah, nanti jumpa lagi!" tutur mamah Ika yang tengah menemani keluarga Izam di pelataran parkiran depan rumah saat berpamitan.


"Rafkil, Iksi, kalian jangan balik dulu yah, kita makan siang bareng dulu, bibi udah nyiapin makan siang di belakang!" ujar papa burhan.


"Iya pah" sahut kompak Rafkil dan Iksi.


"Mana cucu kesayangan opa?" ujar papa Burhan yang mulai gemesh dengan Zilda.


"Opa..!" Zilda kemudian berlari memeluk papa Burhan, ia kemudian duduk di pangkuan sang kakek.


"Kak, ikut aku ke kamar yah, ada yang mau aku omongin" ujar Dila yang terlihat sedikit malu-malu saat mengajak kakak iparnya itu, seketika Iksi mulai tersenyum penuh makna sambil menatap Dila sepertinya ada kejutan yang akan ia ceritakan setelah pertemuan tadi, dengan pelan Dila menggenggam tangan Iksi lalu menggiringnya masuk ke kamar.


"Mau cerita apa sih?"


"Aam, anu..itu..." terus saja ia menggaruk kepalanya, hingga tingkahnya itu membuat Iksi meluapkan tawa kecilnya.


"Dila kok gugup sih!"


"Gak, kak!"


"Ya udah, Dila mau cerita apa tadi?"


"Gak jadi, Dila udah lupa mau ngomong apa" ungkapannya yang tiba-tiba itu, semakin membuat Iksi nyengingiran, ia sangat paham mungkin saja Dila tengah malu untuk mengutarakan apa yang ia rasakan, hingga akhirnya Iksi memulai pertanyaan dengan menyinggung nama Izam.


"Gimana tadi, menurut Dila tentang Izam?"


"Haa? Izam?" sahutnya, meski sangat kelihatan di mata Iksi betapa ia terlihat berpura-pura kaget.

__ADS_1


"Iya Izam!"


"Aam, cakep sih, tapi...tapi kok pekerjaannya gembala kambing sih kak!"


"Gak masalah Dila, justru bagus loh kita bisa makan sate kambing setiap hari"


"Makan sate kambing setiap hari, yang ada malah kolesterol kak Iksi, hehe!"


"Heheh! iya kolesterol cinta"


"Kak Iksi apa-apaan sih" Dila terlihat malu-malu di buatnya.


"Kalo menurut kak Iksi, gimana?"


"Uum! kalo menurut kakak, jujur yah, kak Iksi sangat suka dengan Izam, suaranya lembut, bicaranya sopan dan dia tuh gak tau kenapa ya, kak Iksi ngerasa dia itu tuh kek bukan orang sembarangan loh!"


"Bukan orang sembarangan? maksudnya?"


"Kebetulan aja kali kak, karena emang kebanyakan orang-orang di kampung oma itu, yah pekerjaannya gemabala sapi dan kambing, selebihnya paling berkebun sawah! gak jauh-jauh dari situ lah"


"Iya mungkin cuman perasaan kak Iksi aja!"


"Kreeek" terdengar suara pintu terbuka, seketika terlihat Zilda dengan wajah polosnya berdiri di depan pintu, sontak Dila bersuara gemesh pada si kecil itu.


"Eeh eh, anak kecil dilarang masuk kesini, Zilda nguping ya?"


"Tante Dila ngomong apa sih, orang Zilda di suruh oma manggil tante sama mamah buat makan siang" sahutnya cemberut.


"Iya sayang dikit lagi mamah sama tante Dila turun ke bawah"

__ADS_1


"Ouuw gitu, ngomong dong dari tadi" Dila yang semakin gemesh dengan ponakannya itu segera saja ia terperanjat lalu mencubit ke dua pipi Zilda.


*****


"Gimana menurut papah, tentang Izam?" tanya mamah Ika, masih saja ia kegirangan dan tampak bersemangat jika makan siang ini di lengkapi dengan bumbu pembahasan tentang Izam Abdullah.


"Papah suka dengan anak itu, anak yang sopan dan berkharisma" sahut papa burhan.


"Tuh kan, papah sepemikiran dengan aku, aku ngeliat dia juga berkharisma pah" sambung Iksi, sontak papa burhan menganggukan kepalanya.


"Kalo Rafkil sih, tergantung dari Dila nya aja, maunya gimana, kalo suka lanjut, kalo gak suka yah di batalkan aja" sahut Rafkil dengan wajah datar nya.


"Dila sendiri gimana? setelah bertemu dengan Izam tadi?" tanya mamah Ika.


"Sekarang Dila belum mau menyimpulkan apa-apa dulu mah" sahutnya pelan.


"Hum! tenang aja mah, pah, Dila pasti mau kok nikah sama Izam" cetuh Iksi sembari nyengingiran.


"Kak Iksi apa-apaan sih!"


"Ciee...malu-malu!" lagi-lagi Dila selalu aja di buat salah tingkah oleh Iksi.


"Siapa yang malu sih kak!" sahut Dila dengan wajahnya yang mulai memerah saat di jaili oleh kaka iparnya itu, mamah Ika dan papa Burhan turut menertawai tingkah lucu Dila saat ini.


"Dila ni kalau mukanya memerah seperti itu, sudah pasti Dila malu kan?" mamah Ika turut menjaili anak bungsunya yang saat ini hampir seluruh wajah nya terlihat memerah seperti udang bakar.


"Udah, udah mah, gak usah dijailin lagi kasihan Dila gak makan-makan dari tadi " sambung papah Burhan dengan mulutnya berusaha keras untuk menahan tawa.


Jangan lupa follow dan vote yah🤗

__ADS_1


masuk ke grup chat juga, biar kita bisa kopdar online hehe😆


__ADS_2