
*Perkara Sarapan Pagi
"Papah?" seketika Zilda menyapa Rafkil yang tengah sibuk-sibuknya membuat menu sarapan pagi, perlahan si kecil itu mulai menyoroti suasana dapur pagi ini yang terlihat seperti kapal pecah, perabot terhambur dimana-mana, rempah-rempah makanan yang mulai berpindah dari tempatnya dan juga ada beberapa stock makanan di kulkas yang belum sempat terbeli.
"Eh, my little queen udah bangun yah?" sahut Rafkil sembari berjongkok menatap wajah ratu kecilnya itu, satu demi satu Zilda memerhatikan tubuh papah nya yang masih terbalut celemek memasak, seketika ia mulai tertawa lucu seperti ada yang aneh dengan penampilan Rafkil.
"Kenapa sih ketawain papah?"
"Hihihi, papah jorok deh" mendengar ungkapan Zilda, Rafkil kemudian mulai memerhatikan bagian tubuh mana yang terlihat aneh dimata Zilda.
"Masa sih? cakep begini kok dibilang jorok" candaanya itu seketika membuat Zilda mulai tertawa lagi, sontak Zilda pun meraih kotak tisu yang ada di meja makan, lalu ia mengambil sehelai tisu itu, dan di usapkannya ke wajah sang papah.
"Di muka papah tuh, ada coklat"
"Ouw yah? kok papah gak tau!" sontak Rafkil meluapkan gelak tawanya sembari terus menggelitik Zilda yang sedari tadi tiada Henti-hentinya menertawai sang papah.
"Ya udah, Zilda mandi sekarang yah, setelah mandi kita sarapan bareng, ok my little queen?"
"Ok, papah!"
*****
Kini ke duanya mulai termenung di meja makan, hal yang di fikirkan Rafkil, kenapa Zilda seakan enggan untuk memulai sarapannya, apa mungkin Zilda merasa sunyi karena ini merupakan moment pertama ia sarapan tak ditemani Iksi, sementara si kecil itu masih saja termenung jauh entah apa yang tengah di pikirkan nya saat ini.
"Kok Zilda gak makan sarapannya?" kini tatapan sedih itu mulai terpancar dari wajah Zilda.
"Zilda kangen sama mamah ya?"
"U'uum! pah, kenapa sih mamah gak ikut kesini?"
"Jangan nangis dong, nih Zilda makan dulu ya, nanti setelah ini papah anterin Zilda ke rumah nenek" sontak Zilda pun mengangguk sambil menyeka air matanya, namun saat ia menggigit roti panggang buatan Rafkil seketika itu ekspresi wajah si kecil itu mulai berubah, hal ini semakin membuat Rafkil bertanya-tanya.
"Kenapa? Zilda gak suka rotinya?"
"Umm! rotinya terlalu hangus pah!" keluhnya sangat manja.
"Ouw, ya udah kalo gitu Zilda makan sereal aja yah?" lagi-lagi Zilda memberikan anggukan pada sang papah, selihai mungkin Rafkil kemudian terperanjat dan langsung membuka kulkas, namun sayang bertindih sayang stock sereal yang selalu di beli Iksi ternyata sudah habis di kulkas.
"Duuh, sayang serealnya abis, gimana dong?" tanpa sahutan lagi Zilda hanya menatap Rafkil dengan tatapan cemberut, apa iya sikecil imut itu harus mengikat perut di pagi ini, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari depan sana.
"Zilda tunggu sini yah, papah bukain pintu bentar mungkin aja mamah" tak berlama-lama lagi, ia kemudian bergegas ke depan untuk membukakan pintu.
"Anisa?" cetuhnya tak bersemangat.
"Hai, selamat pagi dok!"
__ADS_1
"Eeya, selamat pagi, aam ada apa yah pagi-pagi kamu udah kesini?"
"Umm nih, aku mau nganterin sandwich buat kalian" kehadiran Anisa tentu layaknya malaikat penyelamat di pagi ini, setelah perkara roti panggang kematengan dan sereal yang kehabisan stock sudah pasti Rafkil langsung menerima box sandwich yang disedorkan itu.
"Aam, makasih ya"
"Iya dok, ouw yah Iksi mana? kok beberapa hari ini aku gak ngeliat dia sih?"
"Dia di rumah mertuaku, aam ada apa-apa lagi yang mau diomongin? kalo gak ada aku masuk dulu yah?" cetuhnya buru-buru, berasa tak nyaman jika harus berhadap-hadapan dengan Anisa dalam kondisi rumah yang cukup sepi ini.
"Iya dok!"
Setelah itu Rafkil kembali ke meja makan, langsung saja ia menuangkan sepotong sandwich buatan Anisa di piring Zilda.
"Waow sandwich, I like it papah"
"Ok sayang, makan yang banyak yah, setelah ini papah harus ke rumah sakit lagi, dan Zilda papah anter ke rumah nenek ok?"
"Ok papah!"
"Ok, anak papah emang pintar"
"Zilda kok gak minum susu?"
"Susunya gak manis pah!"
"Umm! iya yah, bentar papah nambahin susunya dulu" segera saja ia terperanjat namun tiba-tiba Zilda meraih tangan Rafkil sembari bersuara pelan padanya.
"I'am so sorry pah, udah ngerepotin papah!"
"Hei, hei Zilda gak boleh ngomong kek begitu, papah yang harusnya minta maaf, maafin papah ya? papah masih belum bisa membuat breakfast seperfect mamah, tapi papah janji, setelah semuanya beres papah akan buat sarapan spesial untuk Zilda dan mamah"
"Thank you pah, love you!" Zilda kemudian memeluk erat tubuh sang papah.
"Love you too baby"
*****
Tepat pukul 10 pagi, Rafkil bergegas mengantar Zilda ke rumah mama Ratna.
"Haduuh cucu nenek, bikin kangen aja, sini gendongnya sama nenek aja, papah nya Zilda kan mau berangkat ke rumah sakit" lagi-lagi suara gemesh itu keluar dari mulut mama Ratna.
"Aam, mah Iksi mana?"
"Ada di atas, masuk dulu lah kalo gitu nak Rafkil"
__ADS_1
"Gak apa-apa mah, aku langsung ke rumah sakit aja, nih aku titipin ini, tolong kasiin ke Iksi ya mah"
"Haa? bunga mata hari?" tanya mama Ratna sedikit heran.
"Iya mah"
"Ini buat bibit atau..."
"Bukan mah, itu hadiah buat Iksi"
"Ouw, tapi kok bunga mata hari?" sontak Rafkil hanya tersenyum semringah, sembari berpamitan pada mamah Ratna, baru saja mobil Rafkil melaju, kini Iksi mulai menghampiri mamah Ratna yang masih menggendong Zilda di ruang tamu.
"Si penipu itu ngomong apa mah?"
"Iksi boleh gak jangan keterlaluan ngomongnya? Suami kok dibilang penipu" tak mau banyak menanggapi omongan Iksi, mamah Ratna kemudian memulai cengkramanya dengan sang cucu kesayangannya itu.
"Zilda udah makan belum?"
"Udah nek!"
"Makan apa tadi sayang?" terus saja sang nenek bersuara gemesh pada Zilda sambil sesekali pipi mungil itu diciumnya.
"Makan sandwich"
"Ouw jadi papah pintar bikin sandwich juga?"
"Di kasih sama tente Anisa tadi nek" mendengar nama Anisa, sontak mata Iksi mulai terlihat sinis, hatinya yang mulai tergelut rasa kesal dan penasaran tentang apa yang di lakukan Anisa dengan sandwich itu, ia kni memfokuskan pandangannya mulai pada percakapan kecil antara Zilda dan mama Ratna.
"Ouw tante Anisa itu baik yah, Zilda udah ngucapin makasih belum sama tante nisa?"
"Udah sama papah nek"
"Emangnya papah ngapain gak masak?" sontak Iksi menindih ucapan Zilda
"Papah masak kok, papah masak roti panggang, hihihi tapi rotinya hangus"
"Hahaha! kasian papah Zilda" sambung mamah Ratna.
"Iya nek, tapi kata papah setelah semua urusan selesai, papah janji akan buatin sarapan pagi spesial untuk Zilda dan mamah"
"Terus kamu percaya sama omongan papah kamu?" Lagi-lagi Iksi terlihat julid.
"Emangnya mamah gak percaya sama omongan papah?" tak mau percakaan mereka semakin meruncing, Iksi pun lebih memilih untuk tidak menanggapi pertanyaan polos sikecil itu.
Jangan lupa follow dan vote yah🤗
__ADS_1
masuk ke grup chat juga, biar kita bisa kopdar online hehe😆