
*Jangan Sebut Aku Penipu
"Asalamualaikum! mah?" Lantunnya sangat pelan.
"Rafkil?" seketika mamah Ratna mulai terpaku melihat menantunya itu. segera saja Rafkil menyalami tangan mamah Ratna.
"Aam! aku mau ketemu sama Iksi mah" ucapnya pelan.
"Ada, ada dia di dalem, ayo masuk nak!" baru saja Rafkil melangkah masuk, tiba-tiba dari dalam sana terdengar suara girang Zilda.
"Papah!"
"Hei my little queen! (hai ratu kecilku)" dengan perasaan bahagianya, Rafkil kemudian menggendong Zilda, sembari melanjutkan langkahnya menuju sofa tamu, sementara dari arah yang berbeda terlihat Iksi yang tak tahu-menahu soal kedatangan Rafkil kini mulai bersuara mencari-cari Zilda.
"Zilda! minum susu dulu say..." Iksi yang terkejut melihat kedatangan Rafkil di rumah mama Ratna, seketika menegunkan langkahnya dan berhenti bersuara.
"Mamah! mamah! papah dateng mah" dengan polosnya Zilda bersuara pada sang mamah yang terlihat mulai kesal itu, tak mau bertatapan muka dengan Rafkil, ia kemudian meraih tangan mamah ratna lalu menyedorkan segelas susu yang sedari tadi dipeganginya itu, kemudian ia beranjak pergi dari situ.
"Iksi? Iksi?" teriakan Rafkil sama sekali digubris olehnya.
"Ya sudah, nak Rafkil tunggu disini yah! biar mamah yang ngomong sama dia"
"Iya mah" mamah Ratna pun mulai naik pitam saat melihat tingkah Iksi yang sudah sangat keterlaluan itu, segera saja ia menghampiri nya di kamar.
"Kamu tuh, suami dateng kok malah di cuekin" dengan nafasnya yang terengah-engah menahan emosi, ia lebih baik diam dari pada harus menyahuti omongan mama Ratna.
"Iksi, bisa gak sih, kamu bersikap biasa aja didepan Zilda, jangan sampai anak kamu terasa atas sikap kalian berdua" lagi-lagi Iksi masih saja membungkam tanpa berkomentar apa-apa.
"Setelah ini, kamu turun ke bawah, siapin makan buat nak Rafkil, semarah apapun kamu, jangan pernah tinggalkan kewajiban kamu sebagai seorang isteri nak!"
Terus saja Rafkil memandangi raut wajah isterinya itu, tak ada suara, tak ada kontak mata bahkan kilas senyuman dari wajah Iksi yang sedari tadi menyiapkan menu makan siang untuknya, setelah semua menu sudah tersaji, lagi-lagi Iksi akan bergegas meninggalkan Rafkil seorang diri, namun kali ini Rafkil mencoba menahan langkahnya.
__ADS_1
"Temani aku makan!"
"Makan aja sendiri" cetusnya.
"Iksi, temani aku makan, kenapa sih kamu terus menghindar dari aku?" ia mulai terperanjat dari duduknya.
"Huuftt! aku gak kuat lah, lihat wajah penipu di rumah ini"
"Iksi!" seketika mamah Ratna memenggal ucapannya. Dengan perasaan jengkel dan rasa hati seakan tak ikhlas, Iksi pun mulai menemani Rafkil untuk menikmati makan siang.
"Kenapa sih kamu gak pernah ngangkat telpon aku?"
"Huum! aku gak sudi lah bicara sama penipu" sahutnya sangat santai.
"Bisa gak jangan panggil aku penipu"
"Lah, terus aku mau manggil kamu apa? kamu kan memang penipu!"
"Halah, udahlah, udah gak ada lagi yang perlu di omongin!" Rafkil terdiam seketika sambil terus menatap wajah sinis isterinya itu.
"Kenapa liat aku kek begitu?"
"Terus mau kamu apa sekarang?" seketika Rafkil bersuara lirih pada Iksi.
"Aku mau pisah sama kamu!"
"Gak, aku gak akan pernah menceraikan kamu"
"Waow...waoow amazing!"
"Kamu pikir dengan kita cerai, semua masalah akan selesai? apa kamu gak pernah memikirkan masa depan Zilda?"
__ADS_1
"Stop bersuara di hadapan aku, aku benci lah dengar suara kamu!" sontak saja ia berlalu meninggalkan Rafkil seorang diri di meja makan.
*****
"Papah gak nginap di sini?" tanya ratu kecil itu saat melihat sang papah yang hendak berpamitan dengan sang kakek dan nenek.
"Nanti kapan-kapan yah sayang, papah lagi sibuk akhir-akhir ini, ouw yah jaga mamah ya? jangan buat mamah sedih"
"Haaa! papah gak boleh pulang, papah harus nginep disini, pokoknya papah harus nginep disini!" ratu kecil itu berulah lagi, terus saja ia merengek di hadapan semuanya, Rafkil yang tak sampai hati harus meninggalkan buah hatinya itu seketika ia mulai menjongkok lalu bersuara pelan pada ratu kecilnya itu.
"Zilda, Zilda, dengerin papah, nanti papah akan maen ke sini lagi, untuk sementara Zilda nemenin mamah ya?"
"Gak mau, gak mau pah, Zilda maunya papah disini, hiiks...hiiiks..hiiks..!" mendengar tangisan pecah Zilda, dengan langkah yang terburu-buru Iksi kemudian berjalan menghampiri mereka, langsung saja ia meraih tubuh Zilda yang masih memeluk erat tubuh Rafkil ketika itu, setelah berhasil menggendong Zilda, kini Iksi bergegas menuju kamar untuk menenangkan Zilda.
"Zilda! diam gak? udah di bilang papahnya sibuk, masih aja rewel" terdengar bentakkan Iksi pada Zilda, Rafkil yang semakin merasa tak tega pada sang buah hati, kini ia pun bergegas menghampiri keduanya, baru saja Rafkil membuka pintu kamar, tiba-tiba Zilda berlari menghampirinya.
"Papah! hiiks..hiiks"
"Iya sayang, diam yah, jangan nangis dong, my little queen kan harus tetep cantik" seketika Zilda berhenti menangis lalu mengangguk tersenyum menanggapi ucapan sang papah, kemudian Rafkil menyeka air mata si kecil itu lalu menggendongnya.
"Untuk malam ini biar Zilda sama aku aja yah"
"Gak, dia gak akan pernah pergi sama kamu"
"Aku gak mau yah berdebat sama kamu di depan dia"
"Zilda ikut papah yah ke rumah?" lagi-lagi Zilda mengiyakan ucapan Rafkil, sementara Iksi tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menyiapkan perlengkapan Zilda yang akan ia bawa ke rumah pribadi mereka.
Jangan lupa follow dan vote yah🤗
masuk ke grup chat juga, biar kita bisa kopdar online hehe😆
__ADS_1