
*Rindu
"Mencintaimu adalah rasa yang tak disengaja, tetapi mendampingimu adalah tugas yang harus ku jaga"
********
"Cheri...Cher bangun yuk, udah aku buatin sarapan dibelakang" cetuh rafkil dengan pelan ia mengusap lengan iksi
Siru : "Uummm...! Kamu makan aja lah, aku gak laper"
Rafkil : "Cheri masih marah yah sama aku?"
Siru : "gak..siapa sih yang marah!" tukasnya sembari membelakangi rafkil
rasanya berucap sampai mulut berbuihpun tak akan bisa mengubah suasana hati seorang wanita yang tengah berbadan dua itu, tanpa permisi rafkil segera menggendong iksi lalu membawanya ke ruang makan, sikap rafkil kali ini cukup membuatnya sangat geram dengan segala kebencian yang masih terpendam tak tanggung-tanggung ia meluapkan kemarahannya pada rafkil
siru : "kamu tuh kenapa sih, selalu buat aku marah?" teriaknya
rafkil : "Cheri sekarang harus makan, nih udah aku siapin semuanya khusus untuk cheri"
siru : "hei..kamu fikir aku suka dengan semua makanan ini?"
rafkil : "Ya udah kalo emang cheri belum bisa makan makanan ini, nih aku udah siapin biskuit juga buat cheri"
siru : "puas??? dengan memperlakukan aku seperti ini kamu puas??? kamu tau gak, terkadang kesenanganmu adalah kesakitan ku"
rafkil : "cheri...che..Cher ngomong apa sih?"
siru : "mungkin niatmu mau menghargai tapi akhirnya pasti menyakiti"
Rafkil : "aku minta maaf..Aku tahu aku bukanlah suami yang hebat dalam segala hal, kekuranganku tentu jauh lebih banyak dari kehebatan ku, tapi percayalah untukmu sekecil apapun akan ku usahakan memberikan yang terbaik!"
Iksi hanya terpaku menatap rafkil, dengan matanya yang mulai berkaca-kaca ia lalu menggenggam kedua tangan rafkil seketika itu dengan pelan ia mulai mencium telapak tangan suaminya sembari beberapa kali ia melontarkan kata maaf
siru : "aku minta maaf cheri..aku..aku hanya terlalu sulit untuk mengalah dengan hati ini hiiks...hiiiks..hiiikss!!!"
__ADS_1
Rafkil : "ya...cheri, aku juga minta maaf" cetuhnya sembari mengusap lembut kepala iksi
siru : "Cheri...?"
rafkil : "ummm?"
siru : "suapin aku!" tukasnya dengan manja
rafkil : ok..ok cheri! aaam cheri maunya makan apa?"
siru : "biskuit aja lah!"
dengan tekun ia menyuapi iksi, terlintas kembali beberapa memory saat awal pertemuan mereka, yang saat itu ia mengenali nya hanya sebatas mahasiswi yang sok tahu, cerewet, dan gak tau sopan santun, mengingat hal itu rafkil hanya bisa tersenyum kecil
siru : "kenapa senyum-senyum?"
Rafkil : "hehe..Cheri..???"
siru : "mmmm?"
Siru : "Cheri...ketika aku bersedia menjadi pilihanmu, saat itu juga aku siap menerima seluruhmu dengan utuh, aku janji aku gak akan pernah ninggalin Cheri"
Rafkil : "thank you Cheri!"
Siru : "yaa..!"
********
saat senja mulai berlalu, gelap kini tengah menghampiri, rafkil sudah terlihat sibuk memasukkan beberapa lembar pakaiannya ke dalam mini kooper
siru : "Cheri mau kemana?"
rafkil : "ke london?"
siru : "kapan?"
rafkil : "besok cheri"
__ADS_1
siru : "loh ngapain disana? gak mungkin perjalanan dinas kan?"
rafkil : "aku mau ketemu ama robert"
siru : "ouw jadi si robert itu di london sekarang?"
rafkil : "ya..!!!"
siru : "terus Cheri berangkatnya sama siapa?"
rafkil : "sendiri!"
siru : "berapa lama cheri disana?"
rafkil : "sampai robert mau ikut aku ke indonesia!"
siru : "aku sendiri dong disini!!!" cetuhnya tak bersemangat
rafkil : "cheri kan bisa ke rumah mama, atau aku nyuruh dila nemenin cheri disini"
siru : "aam..gak usahlah biar aku aja yang kerumah mama"
********
jam dinding sudah menunjukan pukul 05.15 WIB, rafkil yang sudah bersiap-siap kini tengah menikmati sarapan pagi yang di temani iksi dengan wajah lesuh ia terus memandangi wajah suaminya yang tinggal hanya beberapa menit lagi bersamanya itu
siru : "Cheri...cepet pulang yah?"
rafkil : "ya...Cheri jaga kesehatan, kalo cheri belum bisa makan makanan yang berat cheri makan biskuit aja dulu ok?"
siru : "umm!!!"
kini rafkil akan berangkat ke bandara, sebelum memasuki mobil iya meluangkan beberapa saat untuk memeluk dan mencium iksi yang sedari tadi menampilakan wajah lesuhnya itu, tampak dari sorot kedua bola matanya seakan ia tak mengizinkan rafkil untuk bepergian sejauh itu
ia terus berdiri menatap mobil rafkil yang Tengah melaju, sampai sudah tak terlihat lagi, ia seakan enggan untuk memasuki rumah yang terlalu banyak menyisakan bayang-bayang rafkil, sesegera mungkin ia memesan grab car menuju rumah mamah dan papahnya yang jarak tempuhnya cukup jauh dari titik lokasinya saat ini
dalam perjalananpun iksi terus saja melihat satu demi satu foto-foto rafkil, yang selalu membuatnya senyum-senyum sendiri, meskipun kepergian sang suami tak seberapa lama namun cukup untuknya merasakan betapa pedihnya disiksa jarak yang menciptakan rasa rindu
__ADS_1