
*Traktiran Syifa Merusak Mood
"Tadi aku ke rumah kamu, tpi gak ada, eh ternyata kamunya disini!" ucap Syifa yang baru saja sampai di rumah mamah Ratna, segera saja Iksi menggiringnya untuk masuk ke dalam.
"Emang gak ada Rafkil di rumah?"
"Dokter Akil ada, hanya saja pas aku dateng, tiba-tiba ada seorang perempuan yang minta tolong sama dokter Akil"
"Haa? emang dia minta tolong apa?" sudah pasti yang terlintas di fikaran Iksi tentang wanita yang disebut oleh Syifa ialah Anisa, lagi-lagi Iksi seakan naik pitam ketika sosok Anisa disebut-sebut oleh orang-orang terdekatnya.
"Uum katanya sih, mau minta tolong masangin bolam lampu, tapi wajah perempuan itu tuh, kek gak asing gitu di mata aku, rasanya aku tuh pernah ketemu ama dia, tapi aku lupa kapan dan dimana?"
"Maksud kamu Anisa kali?"
"Anisa?" sontak Syifa mulai terdiam sembari berusaha mengingat-ngingat sosok si Anisa itu.
"Ya, ya Anisa, aku ingat sekarang, kalo gak salah waktu itu aku ketemu ama dia, saat kamu masih dalam kondisi koma, iya..iya bener" lanjutnya.
"Terus Rafkil mau aja gitu ngebantu dia?"
"Ya iya lah Iksi, namanya juga orang minta tolong, gak mungkin kan gak dibantu"
"Aahm! kamu mau minum apa Syif? biar aku buatin" tak ingin memperpanjang pembahasan soal Anisa yang hanya menyebabkan pikirannya semakin suntuk, kini ia berusaha menepis pembahasan itu dengan menawari minum pada Syifa.
"Apa aja lah, air putih juga gak apa-apa" sahutnya sambil tersenyum kecil pada Iksi.
"Ya udah aku buatin kamu jus jeruk aja yah!"
"Okey!" pun Iksi segera ke dapur untuk membuat jus jeruk, sekitar sepuluh menitan ia pun kembali ke ruang tamu dengan membawa segelas jus jeruk tersebut, ia lalu menyedorkannya pada Syifa.
"Makasih yah, repot-repot aja"
"Demi kamu aku rela repot kok!"
"Heheh!" sontak keduanya melepas tawa bersamaan, setelah mendengar ucapan Iksi yang terdengar sedikit lucu itu.
"Nih, tumben banget kamu kesini, biasanya kalo di ajak selalunya bilang sibuk, sibuk inilah, sibuk itulah!" Iksi mulai celoteh lagi, namun kali ini dengan topik percakapan yang bebeda.
"Waktu itu emang Piska tuh masih nempel-nempelnya sama aku, jadi susah banget kalo aku mau kemana-mana"
"Terus sekarang apa rencana kamu? biasanya yah kalo kamu udah dateng kesini tuh, pasti kamu bakal ngajakin aku ke suatu tempat kan?"
__ADS_1
"Heheh!" sontak Syifa nyengingiran lebay di hadapan Iksi, berasa rencananya sudah bisa ditebak duluan oleh Iksi.
"Udah ngomong aja gak usah nyengingiran kek begitu, bikin aku ilfil aja" cetuhnya sedikit bercanda.
"That's right! (benar sekali)"
"Kamu mau ngajakin aku kemana?"
"Makan-makan di luar, pasti seru, udah lama kan? kita gak makan bareng lagi!" cetuhnya sambil memainkan ke dua alisnya.
"Huuufftt!" sontak Iksi menghembuskan nafasnya.
"Ayo lah, aku yang traktir, kebetulan aku baru gajian kemaren!" lagi-lagi ia nyengingiran tak menentu di hadapan Iksi, Iksi yang melihat tingkah aneh sahabatnya itu mulai menaroh sedikit kecurigaan, seperti ia tengah menutup-nutupi sesuatu.
"Bukan masalahnya siapa yang mau traktir tap..." Syifa pun menimpali ucapannya.
"Udah! ayo, ayo gak usah banyak ngomong" segera saja ia menarik paksa tubuh Iksi agar terperanjat dari tempat duduknya, tak banyak komentar lagi segera saja Iksi menuruti kemauan sahabatnya itu.
Setelah beberapa menit menghabiskan waktu di perjalanan, kini mobil Syifa mulai menepih di sebuah restoran tepat di samping rumah sakit kepunyaan papah burhan.
"Loh! Syif kenapa kamu milih restoran disini sih?" ujar Iksi sedikit kesal pada Syifa.
"Duuh! Syif kamu tau gak? disini tuh..." Iksi kemudian menghentikan ucapannya, ia tak ingin Syifa sampai tahu masalah rumit yang tengah ia hadapi saat ini.
"Disini kenapa?"
"Aam! disini tuh tempat Rafkil biasa makan"
"Lah, bagus dong kalo ada dokter Akil, dia kan suami kamu, Huuph kamu nih ada-ada aja, ya udah ayo turun" Iksi kemudian mengikuti langkah Syifa, sambil matanya jelalatan kemana-mana, takutnya ia akan berpapasan dengan Rafkil di tempat ini, secara jika jadwal operasi Rafkil yang tengah padat sudah pasti ia memilih untuk makan di restoran ini.
"Kamu mau mesan apa?"
"Samain aja deh syif, sama menu kamu" cetuhnya sedikit gelagapan.
"Kamu tuh kenapa sih, gugup amat?"
"Gak syif, aku..." lagi-lagi Iksi seakan enggan untuk menyempurnakan kalimatnya yang hanya sepotong-sepotong itu.
"Ya udah, kamu tunggu disini ya? aku mau mesan makan dulu!"
"Ok, jangan lama-lama ya?" Syifa kemudian menanggapi ucapannya dengan senyuman kecil sembari mengangguk pelan pada Iksi yang kelihatannya mulai tegang itu.
__ADS_1
Sekitar 20 menit lamanya Syifa belum juga kembali, Iksi pun berusaha mencari-cari keberadaan Syifa dengan mengarahkan pandangannya kemana-mana, namun tetap saja Sifa sama sekali tak terlihat oleh pandangannya, tiba-tiba ia melihat seorang pelayan yang tengah berjalan menghampirinya dengan membawa dua porsi makanan beserta minuman yang mungkin saja itu adalah menu makanan yang sudah di pesan oleh Syifa.
"Ini pesanannya mbak, silahkan di nikmati ya!" ujar pelayan restoran itu.
"Aam, mbak temen saya yang mesen makanan ini tadi kemana ya?" tanya Iksi dengan tatapan khawatirnya.
"Ouw maaf mbak, kalo yang melayani orderan bukan saya mbak, saya hanya bertugas mengantarkan orderan aja" cetuhnya.
"Ouw gitu, ya udah makasih ya!" sontak pelayan itu tersenyum ramah padanya, sembari bergegas mengantarkan orderan ke meja yang lain.
"Duuh, syif kamu dimana sih, udah dibilangin jangan lama-lama" gumamnya mulai kesal.
Selang beberapa saat, tiba-tiba dari belakangnya ada yang menyuguhkan seikat bunga mata hari, rasanya Iksi sudah tidak penasaran lagi dengan sosok seseorang yang tengah berdiri di belakangnya saat ini, sangat mudah ditebak siapa lagi kalau bukan Rafkil, dari bau parfum yang sering ia gunakan dan jenis bunga yang sering ia hadiahkan tentunya sudah tidak asing lagi bagi seorang Iksi, sontak ia pun mulai bersuara.
"Ngapain sih kamu disini?" Rafkil kemudian mengambil kursi tepat di hadapan sang isteri, sembari merekahkan senyum manisnya.
"Hai! aku kangen banget sama kamu" cetuhnya pelan.
"Ouw, jadi semua ini rencana kamu? kamu emang gak ada kapok-kapoknya yah buat bohongin aku, kali ini kamu kerja sama dengan Syifa, besok-besok kamu akan kerja sama dengan siapa lagi?"
"Kamu tuh kenapa sih, akhir-akhir ini sensitif banget, marah-marah gak jelas, aku sampe bingung loh, mau ngambil hati kamu tuh kek gimana lagi" Iksi hanya menatap sinis suaminya yang tengah senyum-senyum gak jelas dihadapannya saat ini.
"Kamu lagi dapet yah? atau jangan-jangan kamu..." seketika ia menghentikan ucapannya sembari menatap serius wajah Iksi.
"Atau jangan-jangan apa?" cetusnya.
"Kamu lagi hamil?" sontak Rafkil menimpali ucapan julid isterinya itu, meski Iksi pun sedikit kaget mendengarnya tapi lagi-lagi segera saja ia mengalihkan topik pembicaraan.
"Ada hal penting yang mau kamu omongin? kalo gak ada aku mau pulang sekarang"
"Kenapa buru-buru makanannya kan baru aja dateng!"
"Ya udah aku pulang sekarang"
"Aam Iksi?"
"Sampai kapan sih, kamu akan tinggal di rumah mamah Ratna? aku kangen sama kamu, aku kangen sama Zilda, dan aku ingin kita seperti dulu lagi" tanpa sahutan apa-apa lagi Iksi kemudian bergegas meninggalkan Rafkil, tepat di luar restoran itu, Iksi kemudian menitihkan air mata nya yang sedari tadi terus saja ia bendung itu.
Jangan lupa follow dan vote yah🤗
masuk ke grup chat juga, biar kita bisa kopdar online hehe😆
__ADS_1