Cinta Seorang Perawat

Cinta Seorang Perawat
Episode 66 (Part II)


__ADS_3

*Peduli Tanpa Bicara


"Hei, my little queen" Tiba-tiba terdengar suara Rafkil yang hendak menghampiri mereka, terlihat Iksi yang baru saja menyimpan beberapa mini bag di dalam bagasi mobil.


"Papah" sahut Zilda kegirangan sembari berlari memeluk tubuh sang ayah.


"Papah kangen sama little queen ku"


"Hehe Zilda juga kangen ama papah" sahutnya pelan, melihat Iksi yang tak berespon apa-apa ia kemudian bersuara pada Iksi.


"Kalian kesini kok gak bilang-bilang?"


"Aku cuman mau ngambil pakaian-pakaian Zilda aja, setelah itu kita langsung pulang" cetus Iksi dengan wajah datarnya itu.


"Oouw! kenapa gak bermalam aja di sini?"


"Kamu dari mana tadi? pintu gak di kunci" sontak ia menindih ucapan Rafkil.


"Dari rumah Anisa, tapi gak lama kok aku disana, aku cuman..."


"Ngapain kamu dari rumah Anisa?"


"Aam! ini tadi dia minta tolong buat benerin keran airnya"

__ADS_1


"Kenapa harus malem-malem? emang gak bisa nunggu besok pagi aja?"


"Ya karena dia mau pake sekarang, kamu kenapa sih? cemburu?"


"Bhuuws..cemburu? kek gak ada kerjaan lain aja"


"Ayo Zilda pulang" lanjutnya, tanpa berpamitan lagi dengan Rafkil, ia kemudian menggiring Zilda untuk masuk ke dalam mobil, sementara Rafkil hanya bisa memandangi Iksi dan ratu kecilnya itu dari kejauhan sampai mobil mereka sudah tak kelihatan lagi dari pandangannya.


Setelah jenuh mematung di halaman rumah yang hanya disinari beberapa taman lampu itu, Rafkil kemudian bergegas masuk ke dalam rumah, rasa rindu seakan mengabuti suasana hatinya kali ini, dengan langkah yang tertatih-tatih ia berjalan ke kamar Zilda dengan tekun ia mengamati pernak-pernik yang menghiasi kamar Zilda sambil memeluk beberapa buah boneka Zilda yang masih menyisakan bau tubuh dari ratu kecilnya itu.


"Papah kangen sama kamu my little queen!" cetuhnya seorang diri.


Setelah itu ia pun menuju dapur, niat hati ingin merebus sebungkus indomie, namun saat pandangannya mengarah ke meja makan ia mendapati segelas jus strawberry dan nasi goreng telur ceplok kesukaannya sudah tersaji di atas meja, sontak saja Rafkil merekahkan senyuman kecil di wajahnya, siapa lagi kalau bukan Iksi yang menaroh makanan itu.


"Iksi..Iksi, kenapa sih gak ngomong aja, kalo kesini bawain makanan" gumamnya teramat bahagia, betapa tidak meskipun Iksi bersikap seolah-olah tak peduli dengan Rafkil namun sebenarnya diam-diam ia masih peduli dengan kondisi kesehatan sang suami, sesaat setelahnya Rafkil mulai menyantap nasi goreng tersebut.


"Sampai kapan sih kamu mau biarin Rafkil tinggal sendiri disana? kasian dia, mau berangkat kerja singga dulu ke sini, pasti makanan dia juga gak keurus" pertanyaan mama Ratna ini, sama sekali tak digubris oleh Iksi.


"Huum! apa kamu gak khawatir, kalau nanti ada wanita lain yang lebih peduli dengan nak Rafkil, apa lagi Zilda pernah cerita ke mamah kalo Anisa temen kamu itu sering nganterin makanan ke rumah" sekilas tatapan Iksi terlihat mulai kesal pada mama Ratna, namun tetap saja ia masih enggan untuk bersuara.


"Mamah sih, bukannya apa-apa, yang mamah liat banyak kok cewek-cewek diluar sana yang sangat tertarik dengan nak Rafkil, kalo misalkan kalian bercerai nanti status duda mungkin tidak akan lama-lama menempel pada nak Rafkil, secara finansial dia cukup terbilang mapan, wajah jangan di tanya lagi, di tambah profesinya sebagai dokter, yah cukup memumpuni lah, untuk disimpulkan kalo nak Rafkil itu adalah pria yang sempurna dan berkharisma" tak tahan mendengar celotehan mama Ratna yang kedengarannya seperti sedang memanas-manasi itu, sontak Iksi pun membuka suara.


"Mah, bisa diam gak sih"

__ADS_1


"Lah, mamah kan gak tereak-tereak" kilah mama Ratna sambil nyengingiran di dalam hati, berasa puas saat melihat ekspresi anak semata wayangnya itu.


"Iya mamah gak tereak-tereak, tapi mengganggu di telinga aku, tau gak mah"


"Mengganggu di telinga? sakit hati maksudnya, kalo nanti Rafkil di deketin sama perempuan lain?" lagi-lagi mama Ratna semakin memanas-manasi suasana hati Iksi yang hampir membeku itu.


"Huum! terserah lah, dia yang didekatin perempuan lain kek, dia yang mau mendekati perempuan lain kek, terserah, aku gak peduli sama sekali" segera saja ia bergegas menuju lantai dua.


"Hati-hati aja kalo ngomong nak, jangan sampai di catet ama malaikat" masih saja mama Ratna bersuara.


"Dia kenapa?" tanya papah Adnan yag baru saja menghampiri mamah Ratna, sebelumnya ia sama sekali tak tahu- menahu percakapan awal mereka.


"Gak apa-apa kok pah, mamah cuman manas-manasin dia aja"


"Manas-manasin gimana?"


"Yah mamah bilang sama dia kalo kek begini terus sikap dia, bisa-bisa Rafkil cari perempuan lain"


"Mamah kok ngomong keke begitu"


"Biarin aja pah, Iksi itu kalo dibikutin terus seperti itu, gak akan pernah kebuka jalan fikirannya, papah kek gak tau ajah Iksi itu seperti apa, dia itu kalo udah kecewa, marah sama orang susah untuk di bujuk, entah lah mamah pun gak bisa menjamin sampai kapan kesabaran nak Rafkil menghadapi sikap Iksi itu"


"Sudah lah kita mendoakan yang terbaik aja untuk mereka berdua" siapapun yang melihat wajah papah Adnan pasti akan merasa teduh dibuatnya, apatah lagi dengan suaranya

__ADS_1


Jangan lupa follow dan vote yah🤗


masuk ke grup chat juga, biar kita bisa kopdar online hehe😆


__ADS_2