Cinta Seorang Perawat

Cinta Seorang Perawat
Episode 71 (Part II)


__ADS_3

*Perselisihan Antar Perawat


Memenuhi tuntutan shift pagi, sudah menjadi kebiasaan Rafkil untuk datang lebih awal sebelum waktunya pergantian shift, saat ia masuk ke ruangan nya, ia sedikit terkejut melihat kondisi ruangannya, yang beberapa benda seperti berpindah dari posisi awalnya, dan yang paling mencengangkan saat ia melihat bekas lipstik yang menempel di jas putihnya, seketika itu ia mulai bersuara memanggil perawat bedah.


"Ners..? Ners Hera?" panggil Rafkil, pun seketika itu Ners Hera berlari kecil menghampirinya.


"Iya, ada apa dok?"


"Siapa yang barusan masuk ke ruangan saya?"


"Umm! gak tau dok, kayaknya gak ada tadi yang masuk ke ruangan dokter!"


"Loh! tapi..." ia terdiam sejenak, sembari bergumam di dalam hati.


"Gak mungkin bekas lipstik itu punya Iksi, dia kan jarang pake lipstik, terus kalo bukan punya Iksi, punya siapa dong?"


"Tapi kenapa akhir-akhir ini saya merasa seperti ada yang masuk ke ruangan saya ya?" lanjutnya.


"Maksud dokter?" tanya Ners Hera yang masih terlihat bingung atas pertanyaan Rafkil barusan.


"Ya sudah lah lupain aja!" Rafkil pun segera bergegas menuju ruang bedah jantung.


*****


"Mana Anisa?" tanya bu Linda selaku kepala ruangan di ruang Tulip, rasanya kesabaran bu Linda sudah mulai habis atas tingkah Anisa yang selalu dateng ke rumah sakit seenak jidat nya saja, dateng suka-suka, pulang pun suka-suka, sikapnya itu malah memberatkan teman shift lainnya.


"Belum datang bu!" sahut kesal suster Risna yang sering sekali berpartner shift dengan Anisa.


"Anisa tuh bener-bener keterlaluan yah, semakin di biarin, dia semakin menjadi-jadi"


"Paling entar juga dateng bu, deket-deket pergantian shift" tambah suster Aurin yang juga turut kesal dengan teman sejawatnya itu.


"E..eh, tuh..tuh..dia udah dateng, dia udah dateng!" gumam lirih suster Risna.


"Selamat pagi! hehe maaf yah aku telat lagi soalnya..." sontak bu Linda menimpali ucapannya.


"Anisa ikut saya ke ruangan!!" Anisa kemudian menatap sinis ke dua temannya itu, dugaannya mungkin saja suster Risna sudah menceritakan hal yang tidak-tidak tentangnya pada bu Linda, sehingga ia selalu saja mendapat teguran dari atasannya itu.


"Kenapa kamu liat-liat kita kek begitu? marah di panggil sama bu linda? salah siapa malas masuk?" tegur suster Aurin yang merasa risih dengan tatapan sinis Anisa saat ini.


"Dasar mulut ember!" cetusnya, sembari bergegas masuk ke ruangan bu Linda, namun langkahnya terhenti seketika saat mendengar gumam lirih suster Aurin.


"Yieeh dasar orang gila!"

__ADS_1


"Apa tadi kamu bilang?" dengan tatapan tajamnya ia kembali menghampiri suster Aurin yang tengah menulis beberapa rekam medik saat ini.


"Emangnya aku ngomong apa?" sahut pelan suster Aurin.


"Aku belum pikun yeah, barusan kamu ngatain aku gila kan?"


"Yah! kamu memang gila, kalo orang waras gak ada yang tingkahnya seperti kamu, kamu pikir aku gak tau, kamu kan yang sering masuk ke ruangan dokter Akil buat nyium-nyium jas putih dia, emang ada orang waras kek begitu?"


"Jangan ngomong sembarangan kamu yah!" kali ini tatapannya semakin tajam dan nafasnya mulai terengah-engah.


"Udah rin gak usah di ladenin orang seperti itu, hanya bikin pening kepala aja tau gak!" seketika suster Risna bersuara lirih pada sahabatnya itu.


"Ris, justru orang sok seperti dia ini, harus di kasih pelajaran biar kapok" sahut suster Aurin sambil menunjuk-nunjuk Anisa.


"Heh, jangan kurang ajar yah! saya lulusan S2 dan kalian cuman lulusan D3, kalian sama sekali gak sebanding dengan aku!"


"Huum! lulusan S2 tapi nyuri beasiswa orang lain, kamu pikir kita gak tau?" ujarnya, sembari menjulurkan wajahnya tepat dihadapan Anisa, melihat pelototan mata suster Aurin, ia pun merasa sangat di remehkan, tak berpikir panjang lagi segera saja ia melayangkan sebuah tamparan di pipi kiri suster Aurin.


"Tapraak..!"


"Aaauuu!" teriak suster Aurin kesakitan.


"Kamu berani gampar aku? haa?" merasa tertantang suster Aurin pun kembali mendekati Anisa, keduanya pun mulai beradu tenaga.


"Haaaaaa!" Anisa mulai berteriak geram ketika perutnya beberapa kali di di tinju oleh suster Aurin.


"Bwwuuus, praaaks!!" terdengar bunyi-bunyian saat tubuh ke duanya tertimpa benda-benda yang ada di sekelilingnya.


"Hei, udah dong, kalian jangan bertengkar lagi, aduuh gimana nih!" suster Lisna mulai kewalahan untuk menghentikan ke duanya, seketika ia pun bergegas ke ruangan bu Linda, karena beliau lah satu-satunya orang yang paling di dengar oleh mereka.


"Bu...bu gawat bu!"


"Iya ada apa ris?" sahut bu Linda.


"Gawat bu..gawat!"


"Gawat kenapa? coba yang tenang ngomongnya!"


"Anisa...Anisa bu!"


"Iya kenapa dengan Anisa? kok dia belum ke ruangan saya yah?"


"Itu dia bu, Anisa buat onar lagi" tak bertele-tele lagi, ia pun segera melangkah ke ruang nurse station disana ia mendapati ke duanya saling mukul-memukul, hal yang paling memalukan lagi adegan action itu bebas di tonton oleh kerumunan beberapa keluarga pasien yang hendak berkunjung, saat ini.

__ADS_1


"Anisa!!!" sontak bu Linda melantangkan suaranya, ke duanya pun berdiri dengan wajah yang sudah tertato beberapa lebam memerah, bahkan Anisa hidungnya sampai mengeluarkan darah.


"Sini kalian berdua, ikut saya ke ruangan!"


*****


"Kenapa kalian bertengkar?" tanya bu Linda, namun ke duanya hanya saling tatap menatap sinis seperti enggan untuk memberikan alasan atas kejadian tadi.


"Saya tanya kenapa kalian bisa bertengkar? kalian punya mulut gak?"


"Aaam!" keduanya kompak bererangan.


"Ya udah kamu duluan ngomongnya!" cetuh suster Aurin dengan tangannya yang terus memegang beberapa bekas lebam di wajahnya.


"Aaam! saya emosi bu, soalnya saya di katain orang gila sama dia"


"Huum! kamu juga Aurin, kenapa sih sampai kamu bisa bertengkar?"


"Ya itu bu, tiba-tiba aja dia gampar aku, ya aku bales lah"


"Apapun alasan kalian, tetap aja kalian salah, bikin malu aja, bertengkar di nurse station dan di tonton oleh keluarga pasien, apa kalian gak malu?"


"Malu bu!" sahut suster Aurin.


"Kamu Anisa, apa kamu gak malu? bertengkar seperti tadi dan di tonton oleh semua keluarga pasien?"


"Malu bu!" sahutnya pelan.


"Huum! Anisa? ini gaji kamu untuk bulan ini, dan ini surat resign kami!" seketika bu Linda menyedorkan dua buah amplop pada Anisa.


"Su..surat resign? maksudnya apa bu?"


"Mulai besok kamu gak perlu lagi dateng ke rumah sakit!"


"Maksudnya saya di...saya di keluarkan gitu?" seketika bu Linda menganggukan kepala atas pertanyaan Anisa barusan.


"Ta..tapi kenapa bu?"


"Loh, kamu kok masih tanya kenapa? kamu pikir selama ini kamu kerja? untung loh saya masih kasian sama kamu, seharusnya bulan ini kamu gak dapet gaji" blak-blakan bu Linda membeberkan unek-uneknya dihadapan Anisa.


Jangan lupa follow dan vote yah🤗


masuk ke grup chat juga, biar kita bisa kopdar online hehe😆

__ADS_1


__ADS_2