Cinta Seorang Perawat

Cinta Seorang Perawat
Episode 56 (Part II)


__ADS_3

*Trauma Enam Tahun Silam


"Uhum! Zilda kan udah umur enam tahun, apa kalian gak kepikiran buat nambah anak lagi" seketika mama Ika bersuara ragu pada Iksi dan Rafkil.


"Rencananya sih mah pengen nambah satu lagi" jawab Rafkil bersemangat, sontak Iksi lalu menatapnya, menyadari tatapan kesal Iksi, Rafkil kemudian tersenyum hebat di buatnya.


"Kok satu sih, mamah tuh pengennya punya cucu yang banyak, ya minimal empat orang lah" mama Ika kembali menggerutu.


"Iya, biar nanti semua karyawan rumah sakit papah, berasal dari cucu-cucu papah" papa Burhan pun turut menyahuti ucapan mama Ika.


"Ahahaha!" sontak terdengar gelak tawa dari ke tiganya, terlihat Rafkil begitu nikmatnya melepas tawa, sambil sesekali ia menoleh ke wajah Iksi yang terlihat sangat kesal itu, semakin kesal dibuatnya Iksi kemudian mencubit pinggang Rafkil.


"Ahahau! cheri sakit! sakit!"


"Cheri tuh apa-apa an sih?" Iksi mulai bersuara lirih padanya.


"Ok, ok! sorry, aku cuman bercanda aja kok cheri, tapi kalo beneran juga gak apa-apa!" ia kembali tersenyum meledek lagi dihadapan Iksi.


"Ok, ok! aam..mah, pah, Rafkil berangkat ke rumah sakit dulu ya?"


"Iya hati-hati yah!" sahut ke duanya.


Sambil memegang bag dan jas putihnya, Iksi lalu berjalan ke depan menemani sang suami untuk berangkat kerja.


"Cheri hati-hati yah" cetuhnya pelan.


"Hum! ok, cheri kok masih cemberut aja sih, aku jadi gak tenang nih berangkatnya!"


"Abisnya cheri sih!"


"Bhwuuss!" hampir lagi Rafkil akan melepaskan bahakan tawanya dihadapan Iksi yang masih saja kesal itu.


"Tuh kan ketawa lagi"


"Ok, aku berangkat yah!" ia kemudian mengecup dahi Iksi, sembari bergegas ke rumah sakit.


*****


"Selamat pagi dokter Rafkil" terdengar sahutan seorang wanita berseragam lengkap dengan ID card menggantung di saku, Rafkil yang seperti tak asing melihat wajahnya, ia kemudian bersuara pada wanita itu.


"Bentar, kamu Anisa kan?"


"hehe! Iya dok, aku staf baru disini" cetuhnya malu-malu.


"Ok, happy work!" tak berlama-lama lagi ia kemudian berlalu meninggalkan Anisa.

__ADS_1


"iya, makasih dok!"


"Duuh! ganteng banget sih!" gumam gemeshnya pada dokter Rafkil.


Setelah bergelut dengan ruang bedah, kini Rafkil memanfaatkan sedikit waktu untuk mengisi perutnya yang mulai keroncongan itu, ia lalu bergegas ke kantin rumah sakit untuk memesan se porsi lontong siram dan segelas jus strawberry.


"Ini pesanannya dok!" tutur pelayan kantin


"Makasih ya!"


Baru dua suapan Rafkil menyantap makanannya, tiba-tiba ada seseorang yang hendak menghampirinya.


"Eh dokter Rafkil, boleh aku duduk disini?"


"Uhuuk, uhuuk, Anisa, aam! boleh..boleh" sahutnya sedikit terkejut.


"Makasih!" hanya sekedar senyuman kilas ia menyahuti ucapan terimakasih Anisa, selebihnya ia terus fokus menikmati lontong siram sambil sesekali ia meneguk jus strawberry nya.


"Aam! kemaren aku baru aja pindah, di kawasan perumahan yang dokter tinggali" lagi-lagi Rafkil hanya tersenyum kecil menanggapi ucapannya.


"Kalo aku jalan-jalan ke rumah dokter boleh gak?" Anisa seperti tak kehabisan bahan untuk terus memulai percakapan dengan Rafkil.


"Aaam! boleh..boleh, kebetulan Iksi selalu stay di rumah" jawabnya datar.


"Ouw ya? jadi Iksi udah gak kerja lagi di rumah sakit ini?"


"Loh, memangnya kenapa dok?"


"Biarlah dia fokus untuk ngurusin Zilda, apa lagi sekarang kita berencana buat nambah anak"


"Ouuw!" seketika Anisa menampilkan senyuman aneh pada Rafkil.


"Tililit..tililit..tililit!" terdengar panggilan masuk di handphone dr. Rafkil


"Halo? assalamualaikum! ada apa syif" tuturnya.


"Waalaikumsalam, ini dok, Iksi nitip makanan buat dokter" sahut Syifa dibalik telepon.


"Ouw gitu, padahal aku baru aja selesai makan, ya udah kamu nitip aja ke lobi, nanti aku kesana sekarang"


"Iya dok, assalamualaikum" Syifa mengakhiri telpon.


"Aam! nih aku nitip, tolong bayarin makanan aku ya?" ujar Rafkil sembari menyedorkan uang pada Anisa.


"Aa..tapi dok, ini uangnya kelebihan dok!"

__ADS_1


"Sekalian bayar sama makanan kamu aja" tuturnya sembari bergegas ke lobi, sementara Anisa masih terpaku bingung sembari nyengingiran tak menentu, berasa dialah penduduk tunggal dunia ini yang tengah berbunga-bunga.


*****


"Aaaah, lelahnya!" sahut Rafkil yang seketika itu langsung memeluk Iksi yang tengah menyiapkan makan malam.


"Maaf ya, cheri! hari ini aku telat lagi masaknya, soalnya susah banget ngebujuk Zilda buat tidur"


"Ya udah gak apa-apa, terus Zilda udah tidur?"


"Baru aja tidur!"


"Huum! ngikut siapa sih dia keras kepala kek begitu? ngikut mamahnya keknya" terdengar lagi Rafkil yang memulai dengan kalimat candaannya, pun Iksi langsung menimpali ucapannya.


"Enak aja, ngikut tantenya lah, Dila kan keras kepala sama mamah sama papah"


"Iya, iya! hehe, sini duduk temani aku makan!"


"Okeey!"


Usai makan malam, Rafkil dak Iksi segera bercengkrama dikamar, awalnya pembicaraan mereka hanya seputar candaan yang terus saja membuat Iksi kesakitan perut karena rasa tawa yang tak bisa ia bendung, namun akhirnya percakapan mereka mulai terdengar sedikit serius.


"Hahaha! udah cheri, udah aku gak sanggup ketawa lagi" tutur Iksi.


"Uhuum! cheri?" panggil Rafkil dengan tatapan seriusnya.


"Ya!"


"Apa cheri gak mau mempertimbangkan lagi, ucapan mamah sama papah tadi?"


"Ucapan yang mana?"


"Tadi, yang kata mamah buat nambah cucu lagi, kalo menurut aku sih udah wajar lah sekarang kita buat nambah anak lagi cheri"


"Please deh, jangan ngebahas itu lagi, boleh gak?"


"Tapi cheri.." seketika Iksi memotong ucapannya.


"Huufttt! cheri? aku tuh sebenarnya gak masalah, mau berapapun anak kita nanti, aku gak masalah sama sekali, hanya saja..aku masih trauma saat ngelahirin Zilda kemaren"


"Tapi itu kan, udah lama cheri, udah enam tahun yang lalu"


"Huufftt! entahlah cheri"


"Ya udah, ya udah! aku gak akan maksa kamu kok, yang terpenting adalah cheri dan Zilda sehat selalu"

__ADS_1


"Huum! makasih cheri!" sontak Rafkil segera mencium kening Iksi. Setelah melewati banyak pembahasan, akhirnya mereka pun mulai terlelap.


__ADS_2