Cinta Seorang Perawat

Cinta Seorang Perawat
Episode 73 (Part II)


__ADS_3

*Layaknya Cinderella


"Dila kok belum beres-beres juga sih dandannya, ayo cepetan pake hijabnya, tuh keluarga Izam udah pada dateng"


"Mah, Dila gak mau mah nikah sama dia!" Dila mulai merengek lagi, berasa batinnya mulai tersiksa jika setiap hari harus mendengar nama Izam, Izam dan Izam lagi.


"Dila, mamah gak mau jelasin berulang-ulang kali sama kamu yah, udah cepetan mamah tunggu di bawah!" mamah Ika kemudian bergegas menghampiri Izam dan keluarganya yang sedari tadi sudah di persilahkan untuk duduk di ruang tamu oleh pak Burhan.


"Hehe, bentar lagi yah, Dila lagi siap-siap, eh..ayo dimakan dulu cakenya pak Abdul, bu Fina, Izam ayo jangan malu-malu" cetuh ramah mamah Ika.


"Ehehe, iya iya!" sahut kompak keluarga itu.


"Assalamualaikum!" terdengar salam dari Rafkil dan keluarga kecilnya yang baru saja sampai, kemudian mereka langsung saja bersalaman dengan pak Burhan dan mamah Ika serta Izam dan orang tuanya.


"Maaf yah mah, agak telat jalanan macet soalnya" tutur Rafkil.


"Iya gak apa-apa sayang, ini juga belum mulai kok!" sahut mamah Ika.


"Bu Ika, mereka ini siapa?" seketika bu Fina (mamah nya Izam) melontarkan pertanyaan.


"Ini Rafkil anak saya, dan ini Iksi menantu saya yang cantik dan baik hati, terus si kecil ini Zilda cucu pertama saya, yang paling nakal dan keras kepala, dia ini tipikalnya mirip sama tantenya Dila"


"Hehehe" sontak semuanya tertawa kecil menanggapi ucapan lucu mamah Ika barusan.


"Oma Zilda gak nakal kok" tiba-tiba Zilda menyahuti ungkapan sang nenek yang terdengar menyudutkannya, lagi-lagi Zilda mengundang luapan tawa semua orang yang ada di situ.


"Ini tapi kok, wajahnya kayak mirip-mirip korea gitu yah" ujar bu Fina sedikit heran saat melihat Rafkil dan si kecil Zilda, ucapannya itu langsung ditanggapi oleh mamah Ika.


"Hehe iya bu Fina, suami saya kan orang korea, tapi yang herannya tuh ke dua anak saya gak ada yang ngambil wajah saya, semua ngikut papah nya, termasuk cucu saya, ini 99,9% wajah Rafkil nih"


"Hehe, iya bener mah, gak ada mirip-mirip nya sama aku!" pun Iksi turut menanggapi ucapan mamah Ika.


"Hehe, tapi cantik loh, gak bosan aku liatnya duuh!" sahut bu Fina kembali.

__ADS_1


"Udah cukup lama yah pak Burhan dan bu Selvika gak maen lagi ke kampung?" tanya pak Abdul (papah nya Izam).


"Uuwh! udah sangat lama, terakhir kita berkunjung kesana itu, kalo gak salah Selvika lagi hamil anak pertama saya Rafkil, setelah itu kita udah gak pernah lagi berkunjung kesana" jawab papah burhan.


Jika di ikutkan kemauan hati, serasa perbincangan yang mengalir itu takkan ada habisnya, kini mamah Ika teringat lagi dengan Dila yang sedari tadi belum juga menampakkan dirinya di hadapan keluarga calon besannya ini.


"Iksi, mamah minta tolong dong, liatin lagi Dila diatas, dari tadi kok belum turun-turun" mamah Ika mulai berbisik pada Iksi, berasa tak enak hati jika Izam beserta keluarga harus menunggu lama kedatangan Dila.


"Iya mah!" segera saja ia terperanjat menemui Dila di kamarnya, saat ia membuka pintu terlihat Dila yang sudah berbalut gaun sederhana, masih berbaring duduk di meja riasnya, Iksi kemudian menyapa pelan adik iparnya itu.


"Dila?" tak ada sahutan dari Dila, melainkan tubuhnya yang terlihat seperti ia tengah sesenggukan, Iksi kemudian berjalan beberapa langkah mendekati Dila.


"Dila kok nangis sih!"


"Hiiks..hiiks! Dila gak mau nikah sama laki-laki itu kak! Dila benci sama mamah, Dila benci sama papah" dalam isakan tangis ia menuturkan kesedihanya, ia kemudian memeluk erat sang kakak ipar yang tengah berdiri di sampingnya itu, pun Iksi membalas pelukannya sembari mengelus-elus dengan lembut kepala Dila.


"Dila gak boleh ngomong kek gitu, mamah sama papah ngelakuin ini karena mereka sayang sama Dila" Iksi mencoba menenangkan hati dan pikiran Dila yang masih gabut karena masalah perjodohan.


"Gak kak, kalo mamah sama papah sayang sama Dila, mereka gak mungkin ngelakuin ini ke Dila"


"Hum! Dila gak mau ketemu mereka kak!"


"Dila coba deh bayangin, gimana kalo Dila berada di posisi Izam saat ini? Dila sama mamah dan papah berkunjung ke rumah Steven tetapi Steven malah gak mau bertemu sama Dila, kira-kira apa yang Dila bakal ngerasain? sedih? kecewa? marah? atau biasa-biasa aja?"


"Pasti kecewa lah kak" sahutnya sedikit tak bertenaga.


"Nah, itu juga yang bakal di rasakan sama Izam dan keluarganya, kalo Dila sampe tega gak ketemu sama mereka" ia hanya terdiam, namun saat ini Iksi tau kalau Dila sudah siap untuk bertemu dengan Izam dan keluarganya.


"Ya udah, sini biar kak Iksi benerin make up nya, terus setelah ini kita akan turun ke bawah, oke?" lanjutnya lagi dan langsung di sambut dengan anggukan kepala oleh Dila.


Sesaat setelahnya, Dila yang ditemani Iksi kini mulai menapaki anak tangga untuk turun ke ruang tamu, dua keluarga yang terlihat masih asyik bercengkrama itu tiba-tiba saja mereka di buat gagal fokus saat melihat Dila layaknya seorang cinderella yang tengah menjajaki anak tangga di sebuah kerajaan, tetapi tidak dengan Izam, ia terlihat lebih menjaga pandangannya untuk tidak melihat kecantikan Dila yang masih terpancar meski terbalut dengan balutan hijab.


"Ouw ini Dila?" terdengar sahutan kagum dari mulut bu Fina.

__ADS_1


"Iya ini Dila, anak saya yang paling keras kepala itu bu" jawab mamah Ika.


"Mamah apa-apaan sih!" gumam lirih Dila yang merasa kesal atas ucapan sang mamah.


"Dila ayo salam sama tante Fina dan om Abdullah" mama Ika bersuara lirih pada Dila, ia kemudian menyalami sepasang orang tua yang digadang-gadangkan sebagai calon mertuanya itu.


"Izam, ini Dila!" ucap mamah Ika.


"Iya tante!" sahutnya pelan, semenjak Dila berada disitu, Izam terlihat sedikit malu-malu dan terus saja ia menunduk seperti tak mau melihat wajah cantik Dila.


"Dila itu Izam!"


"Iya mah!" Dila kemudian mulai memerhatikan dengan tekun wajah laki-laki yang bernama Izam itu, yang saat ini ia duduk tepat dihadapannya, mamah Ika yang menyadari tatapan Dila sontak mecubit pelan pinggang putri semata wayangnya itu.


"Auuh! mamah apa-apaan sih? sakit tau gak mah!" Dila bersuara lirih dengan menampilkan seribu wajah kekesalannya terhadap mamah Ika.


"Ngeliat Izam jangan kek begitu, katanya gak suka"


"Aam! kalo boleh tau, Izam ini kesehariannya kerja apa ya?" mamah Ika mulai memfokuskan pembicaraan.


"Hehe! ngurusin kambing tante" sontak Dila terheran-heran dengan pekerjaan seorang laki-laki yang akan di jodohkan dengannya saat ini.


"Maksud kamu, gembala kambing?" tanya Dila seketika.


"Iya!" sahut Izam.


"Cheri percaya, kalo pekerjaan Izam itu gembala kambing?" tanya Iksi yang juga ikut terkejut bercampur tak percaya mendengar status pekerjaan Izam.


"Iya, emang kenapa cheri nanya kek begitu?" sahur Rafkil.


"Masa sih, cakep-cakep kek begitu jadi gembala kambing, terus coba deh cheri liat kuku kakinya, bersih banget gembala kambing tuh gak kek begitu!"


"Kalo masalah kebersihan, itu kembali ke pribadi masing-masing orang, bukan karena status pekerjaannya, lagian dikampung oma emang kebanyakan pekerjaan orang-orang jadi gembala kambing dan sapi"

__ADS_1


Jangan lupa follow dan vote yah🤗


masuk ke grup chat juga, biar kita bisa kopdar online hehe😆


__ADS_2