Cinta Seorang Perawat

Cinta Seorang Perawat
Episode 62 (Part II)


__ADS_3

*Surat Perjanjian Lama


"Wah, cheri ngerubah bentuk kamar ini lagi?" Rafkil yang seketika itu baru saja pulang dari rumah sakit, kemudian mulai melonggarkan kerah bajunya, sementara Iksi dengan tatapan sinis, mulai berjalan menghampiri Rafkil.


"Aku punya beberapa pertanyaan untuk kamu!"


"Pe..pertanyaan apa cheri?" Rafkil menatap bingung Iksi, tidak biasanya ia berbicara tegas dengan Rafkil, bahkan tatapan sinisnya semakin membuat Rafkil bertanya-tanya.


"Siapa perempuan ini?" cetusnya sembari menunjukkan gambar seorang wanita cantik.


"Cheri nemu dimana foto itu?"


"Aku tanya ini foto siapa? dan kenapa sampai saat ini kamu masih simpan fotonya di kotak berdebu itu?" dengan kerasnya Iksi melempar kotak itu diatas tempat tidur.


"Ok, ok aku akan jelasin, jadi wanita itu, pacar pertama aku, sebelum aku menjalin hubungan dengan Zeyyan, namanya Gabriella Anastasya" terangnya pada Iksi.


"Terus?" cetusnya datar.


"Hubungan kami sudah di ambang pernikahan, tinggal menunggu saja tanggal ijab kabul yang sudah kami tentukan bersama, betapa sayangnya mamah sama papah terhadap Gabriell waktu itu, namun sayang, tanpa alasan yang jelas tiba-tiba Gabriell membatalkan pernikahan kita, berawal dari situ aku mulai membencinya hingga perlahan ia mulai menghilang dari kehidupanku, dan suatu ketika, saat aku mulai lupa tentang semuanya, aku dipertemukan lagi dengan sosok yang mirip seperti Gabriell, yaitu kamu cheri, wajah cheri mirip banget sama dia, itulah kenapa saat pertama aku melihat cheri, aku sudah sangat membenci cheri"


"Ok, cukup! pertanyaan ke dua, ini surat apa?" kali ini Iksi kembali menunjukkan selebaran kertas yang sudah sangat kucel, bahkan kertas yang dulunya berwarna putih kini mulai terlihat mengunig dan berdebu.


"Che..cheri?" belum lagi Rafkil menjelaskan apa-apa, enteng saja Iksi menimpali ucapan nya.


"Dasar penipu!" dengan tegas Iksi menjudge sang suami yang masih terlihat kelelahan itu.


"Cheri dengerin aku dulu, cheri?"


"Penipu!"


"Cheri?"


"Aku bener-bener gak nyangka ya! bertahun-tahun kamu sanggup menutupi semua kebohongan ini! huwah kamu pasti seneng kan ngeliat aku hidup dalam dunia kebodohan?"


"Cheri, denger dulu!"

__ADS_1


"Apah lagi yang mau aku dengar?"


"Cheri? ini semua gak seperti apa yang kamu fikirkan"


"Jadi selama ini kamu menikah dengan aku hanya karena sebuah perjanjian? kamu tega Rafkil, kamu tega!"


"Ok, ok! aku akui tujuh tahun yang lalu, aku yang menandatangani surat itu, tapi itu dulu, dan sekarang aku sama sekali sudah tidak memikirkan surat itu lagi, sama sekali gak Iksi, bahkan aku sudah lupa tentang surat perjanjian itu"


"Bagus, bagus perangkap kalian Rafkil, orang tua dan anak, gak ada bedanya sama-sama penipu" ia berucap santai sembari memberikan tepuk tangan pada Rafkil.


"Iksi jangan keterlaluan kamu"


"Sekarang siapa yang keterlaluan? aku atau kalian?"


"Papah kamu nabrak papah aku, sampai ia kehilangan salah satu kakinya, itu yang aku gak pernah tau selama ini, karena yang aku tau, papah kamu adalah seorang malaikat yang tiba-tiba dateng sebagai sahabat dan menggratiskan biaya rumah sakit seluruhnya" lanjutnya makin kesal.


"Aku yang sampai saat ini belum bisa memaafkan orang yang sudah menabrak papah aku, yang sampai saat ini aku masih saja menangis, ketika papah aku di hina karena tak memiliki kaki dan uniknya lagi bertahun-tahun aku telah hidup berdampingan dengan orang yang sudah menabrak papah aku"


"Apa yang kamu tau tentang papah aku? kamu gak tau banyak tentang dia, setelah dia menabrak papah kamu, dia sempat depresi beberapa bulan, setelah itu aku yang terpaksa dijadikan garansi untuk menandatangani surat perjanjian pernikahan itu, kamu pikir aku senang dengan semua itu?"


"Kamu pikir setelah kecelakaan itu, kita lepas tangan begitu saja? kehidupan orang tua kamu selalu diperhatikan sama papah, dan kamu tau gak? biaya kuliah kamu dari awal sampai selesai itu pakai gaji aku"


"Kalau aku bisa memilih takdir, mungkin saat ini bukan kamu yang berdiri dihadapanku, mungkin saja Zeyyan atau bahkan perempuan yang lain, kamu masih terlalu kecil untuk mengulas lagi kejadian itu"


"Hum, aku sudah cukup dewasa untuk mengingat kejadian itu, belasan tahun yang lalu, tepat dimana aku baru saja menduduki bangku kelas 12 menengah atas"


"Okey, aku benar-benar minta maaf, karena dari awal aku gak pernah cerita sama kamu"


"Minta maaf gak akan bisa menebus semuanya" ia kemudian bergegas membuka lemari pakaian, dan memasukkan semua pakaian-pakaiannya itu ke dalam koper.


"Iksi kamu mau kemana?" dari belakang Rafkil terus mencegatnya, namun kemarahan Iksi seakan telah memuncak sampai ke ubun-ubun hingga keputusannya sulit untuk di urungkan lagi.


"Mau pulang ke rumah orang tua aku!"


"No! aku gak akan izinkan kamu ke sana"

__ADS_1


"Kenapa? kamu mau bodoh-bodohin aku lagi? kamu mau tipu aku lagi? ternyata memang benar yah ucapan kamu waktu itu, tujuan kamu menikahi aku hanya untuk membuat aku menderita" melihat Iksi yang mulai mendorbg kopernya untuk keluar, segera saja Rafkil berlari menghalangi pintu kamar.


"Iksi, please!"


"Awas Rafkil, aku mau keluar! awas!!!" Iksi berusaha menerobos pintu kamar yang saat ini tengah di tutupi oleh tubuh Rafkil.


"Gak! aku gak akan pernah biarkan kamu untuk keluar dari rumah ini"


"Mamah, papah?" seketika Zilda mulai menghampiri mereka, dengan tatapan polosnya ia mematung menyaksikan mamah dan papahnya yang tengah main kejar-kejaran itu fikirnya.


"Zilda ayo ikut mamah!" Iksi kemudian menggendong Zilda, lalu membawanya pergi ke rumah orang tuanya di kampung.


"Iksi? Iksi? huufftt!" teriakan nya sama sekali tak mampu menegunkan langkah kaki Iksi, ia kemudian mulai terduduk lemah sembari mengusap wajahnya yang sendu itu.


*****


"Apah? jadi Iksi udah tau semuanya?" sontak mamah Ika dibuat terkejut oleh omongan Rafkil.


"Iya mah, Rafkil udah gak tau lagi harus berbuat apa?"


"Papah kan udah bilang dari dulu, buang atau bakar aja semua benda-benda itu, tapi Rafkil gak pernah denger omongan papah" pak burhan pun turut bersuara cemas.


"Waktu itu aku sempet nyari pah, tapi aku lupa narohnya dimana"


"Terus Iksi ngomng apa?"


"Dia bener-bener kecewa sama aku, sama mamah, terlebih lagi sama papah"


"Ya ampun! terus gimana dong Rafkil, mamah benci deh sama kamu"


"Mah, aku juga gak mau semuanya terjadi seperti ini"


"Sudah, suda! untuk sementara biarkan dulu Iksi menenangkan hatinya, tapi nantis setelah itu sudah menjadi tugas Rafkil untuk menjelaskan semuanya"


"Pah, Rafkil udah coba ngejelasin semuanya, tapi tetep aja Iksi gak percaya"

__ADS_1


"Rafkil! menjelaskan dalam kondisi panas, tidak akan pernah diterima oleh akal, tunggulah beberapa hari lagi, datang dan temui Iksi lalu jelaskan semuanya"


__ADS_2